Social Icons

Pages

Jumat, 20 Mei 2011

Pola Hidup Sehat untuk Ibu Hamil

HAMIL adalah anugerah untuk pasangan suami istri (pasutri). Pola dan gaya hidup yang tepat membantu kehamilan aman dan berkualitas. Juga dapat mencegah komplikasi yang dapat menyebabkan kematian.

Kehamilan berkualitas diindikasikan dari kesehatan fisik dan mental si ibu beserta janinnya. Hamil yang aman dan berkualitas juga ditandai dengan tidak adanya komplikasi yang membuat tidak nyaman atau bahkan mengancam jiwa si ibu hamil (bumil).

"Kualitas ini diupayakan seoptimal mungkin. Ibu dan bayi sehat secara fisik dan mental, juga saat bayi dilahirkan dan kehidupannya kelak," kata Spesialis Obstetri dan Ginekologi FKUI-RSCM, dr Omo Abdul Madjid SpOG(K).



Dia memaparkan, kasus kehamilan dengan komplikasi yang dapat menyebabkan kematian ibu hanya sekitar 10 persen. "Kehamilan normal yang bukan penyakit berkisar 85 persen," ungkapnya.

Agar proses kehamilan berjalan lancar, aman dan berkualitas, maka kehamilan harus direncanakan. Dengan demikian, pasangan suami-istri siap secara fisik, psikis, dan sosial. Pasalnya, dalam periode kehamilan akan terjadi perubahan-perubahan yang harus diatur atau disesuaikan.

"Ada hal-hal yang harus dipantau. Kemungkinan bumil juga harus mengubah gaya hidup dan pola makannya, supaya kebutuhan gizi ibu-bayi selama hamil tidak putus," sambung Omo.

Senada dengan Omo, Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari RS Hermina Jakarta, dr Arju Anita SpOG mengungkapkan, kunci pertama hamil berkualitas yaitu penerimaan kehamilan dengan senang hati, tidak stres, dan bersuka cita. Artinya, tidak ada penolakan atau kehamilan tidak diinginkan.

Pasca dinyatakan tengah berbadan dua, seorang wanita harus melakukan beberapa penyesuaian seperti mengurangi aktivitas fisik yang berat. "Pada trimester pertama, kehamilan masih baru dan plasenta belum berfungsi dengan baik, sehingga rentan mengalami keguguran. Untuk itu, upayakan kehamilan setenang mungkin dan bebas masalah," tegas wanita yang akrab disapa Anita.

Membatasi tidak berarti melarang sama sekali. Bumil masih boleh mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dan menyiram tanaman, atau berjalan santai di sekitar rumah. Namun, aktivitas membawa beban seperti menjinjing ember berisi air, menggendong anak, ataupun aktivitas fisik yang ditujukan sebagai olahraga sebaiknya dihindari.

Perubahan lainnya adalah dalam hal pola makan, dengan tidak mengonsumsi makanan berpengawet dan berpewarna buatan. Namun, Anita menegaskan bahwa pada kehamilan trimester pertama sebaiknya si ibu tidak melakukan diet atau mengurangi makan.

Apalagi, hamil tiga bulan pertama biasanya kecenderungan mual dan muntah. Jadi, ibu bisa makan apa yang dia selera dan tidak membuat mual atau muntah

"Jangan pikirkan bobot badan dulu. Ibu masih bisa makan saja sudah bagus. Trimester pertama adalah masamasa aktif pembelahan sel, sehingga ibu butuh energi yang mencukupi," tandas dokter yang juga berpraktik di RS JMC Jakarta. Untuk mengakali kebiasaan muntah, ibu hamil dianjurkan mempersingkat pola makan. Caranya, makan dalam porsi sedikit tapi sering. Hal ini juga dapat mengurangi mual. Sedangkan guna mencegah mual berlebih, bumil sebaiknya tidak mengonsumsi masakan berbumbu tajam, terlalu asam atau pedas, karena bisa mengiritasi lambung.

"Kalau sangat ingin makan rujak boleh saja, tapi sambalnya tidak usah pakai cabai, cukup gula merah saja," tukasnya.

Perubahan lainnya, dalam hal pola hubungan intim dengan suami. Selama trimester pertama, banyak yang menganjurkan untuk tidak berhubungan, terutama pada kehamilan bermasalah seperti seringnya terjadi kontraksi atau timbul flek perdarahan.


Sumber: www.lifestyle.okezone.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text

Sample Text