Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Kanker Usus Besar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kanker Usus Besar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juni 2012

4 Terapi Obati Kanker Kolorektal (Kanker Usus Besar)

Dengan pola makan yang baik, yaitu mengonsumsi makanan tinggi serat dan tinggi protein, mengurangi konsumsi daging merah dan lemak jenuh yang berasal dari hewani. Anda bisa memperkecil risiko terjangkit kanker kolorektal.

Melakukan olahraga secara rutin, dan menggunakan obat-obat chemoprevention seperti Aspirin dan golongan obat-obat anti-inflamasi non-steroid, juga merupakan langkah pencegahan kanker kolorektal.

Seperti telah diberitakan okezone sebelumnya, kanker kolorektal adalah kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon) atau rektum. Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas atau disebut adenoma, yang pada awalnya membentuk polip.

Polip dapat diangkat dengan mudah namun sering kali adenoma tidak menampakkan gejala apapun, sehingga tidak terdeteksi dalam waktu yang relatif lama dan pada kondisi tertentu berpotensi menjadi kanker yang dapat terjadi pada semua bagian dari usus besar.

Kanker kolorektal ini dapat menyebar keluar jaringan usus besar dan ke bagian tubuh lainnya. Dan di Indonesia sendiri, kini kanker kolorektal mengalami peningkatan yang cukup pesat.

Perdarahan pada usus besar, ditandai dengan ditemukannya darah pada feses saat buang air besar, dan perubahan kebiasaan buang air besar meliputi frekuensi dan konsistensi buang air besar (diare atau sembelit) tanpa sebab yang jelas -berlangsung lebih dari enam pekan- merupakan gejala Anda terjangkit kanker kolorektal.

Gejala kanker kolorektal lainnya juga bisa Anda deteksi sendiri. Bila Anda mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, sering merasa sakit di perut atau bagian belakang, dan perut masih terasa penuh meskipun sudah buang air besar, bisa jadi Anda positif terjangkit kanker kolorektal.

Bila sudah melakukan pemeriksaan ke dokter, dan hasilnya memang positif. Ada beberapa pilihan terapi untuk mengobati kanker kolorektal. Apa saja?  Berikut ini DR dr Aru Wisaksono Sudono SpPD KHOM, ahli kanker terkemuka di Indonesia memaparkannya untuk Anda.

Pembedahan atau operasi
Tindakan ini paling umum dilakukan untuk jenis kanker yang terlokalisir dan dapat diobati.

Radioterapi atau radiasi
Tergantung pada letak atau posisi dan ukuran tumor, radioterapi hanya digunakan untuk tumor pada rektum, sehingga mempermudah pengambilannya saat operasi. Radioterapi juga bisa diberikan setelah pembedahan untuk membersihkan sel kanker yang mungkin masih tersisa.

Kemoterapi
Kemoterapi menghancurkan sel kanker dengan cara merusak kemampuan sel kanker untuk berkembang biak. Pada beberapa kasus kemoterapi diperlukan untuk memastikan kanker telah hilang dan tak akan muncul lagi. Salah satu pilihan kemoterapi yang banyak digunakan adalah Capecitabine (Xeloda), kemoterapi berbentuk tablet yang pertama di dunia.

Capecitabine adalah tablet yang bekerja menyerang sel kanker saja tanpa menimbulkan ketidaknyamanan dan bahaya seperti pada kemoterapi infus konvensional.

Kenapa harus dilakukan kemoterapi?
"Sel kanker tidak bisa mati pada waktunya, mendesak sel-sel sehat, lepas kendali dalam pertumbuhan. Operasi tidak bisa menjamin 1 sel yang ketinggalan, dan tidak terambil. Tidak pernah ada penelitian bersih 100 persen," ujar dr Aru yang menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia dalam acara media workshop Kanker Kolorektal yang diadakan oleh Yayasan Kanker Indonesia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Terapi Fokus Sasaran (Targeted Therapy)
Salah satu jenis terapi fokus sasaran adalah antibodi monoklonal. Antibodi ada dalam tubuh kita sebagai bagian dari sistem pertahanan tubuh yang disebut sistem kekebalan (sistem imun) yang berfungsi melawan penyebab penyakit seperti bakteri.

Antibodi monoklonal dapat bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh alamiah untuk secara khusus menyerang sel kanker. Terapi ini dapat digunakan secara tunggal, atau kombinasi dengan kemoterapi. Salah satu terapi antibodi monoklonal adalah Bevacizumab (dipasarkan dengan nama Avastin) yang bekerja dengan ara menghambat pasokan darah ke tumor sehingga menghambat pertumbuhan tumor, memperkecil ukuran tumor, dan mematikannya..

Sumber: okezone.com

4 Terapi Obati Kanker Kolorektal (Kanker Usus Besar)

Dengan pola makan yang baik, yaitu mengonsumsi makanan tinggi serat dan tinggi protein, mengurangi konsumsi daging merah dan lemak jenuh yang berasal dari hewani. Anda bisa memperkecil risiko terjangkit kanker kolorektal.

Melakukan olahraga secara rutin, dan menggunakan obat-obat chemoprevention seperti Aspirin dan golongan obat-obat anti-inflamasi non-steroid, juga merupakan langkah pencegahan kanker kolorektal.

Seperti telah diberitakan okezone sebelumnya, kanker kolorektal adalah kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon) atau rektum. Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas atau disebut adenoma, yang pada awalnya membentuk polip.

Polip dapat diangkat dengan mudah namun sering kali adenoma tidak menampakkan gejala apapun, sehingga tidak terdeteksi dalam waktu yang relatif lama dan pada kondisi tertentu berpotensi menjadi kanker yang dapat terjadi pada semua bagian dari usus besar.

Kanker kolorektal ini dapat menyebar keluar jaringan usus besar dan ke bagian tubuh lainnya. Dan di Indonesia sendiri, kini kanker kolorektal mengalami peningkatan yang cukup pesat.

Perdarahan pada usus besar, ditandai dengan ditemukannya darah pada feses saat buang air besar, dan perubahan kebiasaan buang air besar meliputi frekuensi dan konsistensi buang air besar (diare atau sembelit) tanpa sebab yang jelas -berlangsung lebih dari enam pekan- merupakan gejala Anda terjangkit kanker kolorektal.

Gejala kanker kolorektal lainnya juga bisa Anda deteksi sendiri. Bila Anda mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, sering merasa sakit di perut atau bagian belakang, dan perut masih terasa penuh meskipun sudah buang air besar, bisa jadi Anda positif terjangkit kanker kolorektal.

Bila sudah melakukan pemeriksaan ke dokter, dan hasilnya memang positif. Ada beberapa pilihan terapi untuk mengobati kanker kolorektal. Apa saja?  Berikut ini DR dr Aru Wisaksono Sudono SpPD KHOM, ahli kanker terkemuka di Indonesia memaparkannya untuk Anda.

Pembedahan atau operasi
Tindakan ini paling umum dilakukan untuk jenis kanker yang terlokalisir dan dapat diobati.

Radioterapi atau radiasi
Tergantung pada letak atau posisi dan ukuran tumor, radioterapi hanya digunakan untuk tumor pada rektum, sehingga mempermudah pengambilannya saat operasi. Radioterapi juga bisa diberikan setelah pembedahan untuk membersihkan sel kanker yang mungkin masih tersisa.

Kemoterapi
Kemoterapi menghancurkan sel kanker dengan cara merusak kemampuan sel kanker untuk berkembang biak. Pada beberapa kasus kemoterapi diperlukan untuk memastikan kanker telah hilang dan tak akan muncul lagi. Salah satu pilihan kemoterapi yang banyak digunakan adalah Capecitabine (Xeloda), kemoterapi berbentuk tablet yang pertama di dunia.

Capecitabine adalah tablet yang bekerja menyerang sel kanker saja tanpa menimbulkan ketidaknyamanan dan bahaya seperti pada kemoterapi infus konvensional.

Kenapa harus dilakukan kemoterapi?
"Sel kanker tidak bisa mati pada waktunya, mendesak sel-sel sehat, lepas kendali dalam pertumbuhan. Operasi tidak bisa menjamin 1 sel yang ketinggalan, dan tidak terambil. Tidak pernah ada penelitian bersih 100 persen," ujar dr Aru yang menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia dalam acara media workshop Kanker Kolorektal yang diadakan oleh Yayasan Kanker Indonesia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Terapi Fokus Sasaran (Targeted Therapy)
Salah satu jenis terapi fokus sasaran adalah antibodi monoklonal. Antibodi ada dalam tubuh kita sebagai bagian dari sistem pertahanan tubuh yang disebut sistem kekebalan (sistem imun) yang berfungsi melawan penyebab penyakit seperti bakteri.

Antibodi monoklonal dapat bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh alamiah untuk secara khusus menyerang sel kanker. Terapi ini dapat digunakan secara tunggal, atau kombinasi dengan kemoterapi. Salah satu terapi antibodi monoklonal adalah Bevacizumab (dipasarkan dengan nama Avastin) yang bekerja dengan ara menghambat pasokan darah ke tumor sehingga menghambat pertumbuhan tumor, memperkecil ukuran tumor, dan mematikannya..

Sumber: okezone.com

Minggu, 29 Mei 2011

Pascaoperasi Kanker Usus Besar, Perlu Perawatan Lanjutan

SETIAP pasien kanker usus besar yang telah menjalani operasi hendaknya meneruskan perawatan lanjutan, guna memastikan kanker telah hilang.

Nyatanya, banyak pasien kanker usus besar yang lalai meneruskan perawatan lanjutan pascaoperasi. Setidaknya itulah kesimpulan hasil studi yang dilakukan di Amerika, baru-baru ini. Banyak pasien kanker usus besar yang pascatindakan bedah tidak mendapat skrining sesuai panduan yang direkomendasikan.

Penelitian yang dilakukan tim peneliti dari University Hospitals Case Medical Center di Cleveland tersebut melibatkan partisipan sebanyak 4.426 pasien kanker usus stadium dini yang masih bisa disembuhkan dengan pembedahan atau operasi.
Dari sejumlah partisipan yang telah menjalani operasi kanker tersebut, tercatat hanya sekitar 40 persen yang mendapat paket perawatan lanjutan yang direkomendasikan seperti pemeriksaan rutin oleh dokter, tes darah, dan prosedur colonoscopy dalam tiga tahun pascabedah kanker.



Dalam hal pemeriksaan dokter, memang hampir semua partisipan menjalaninya. Demikian halnya partisipan yang menjalani colonoscopy mencapai 75 persen. Namun, ternyata banyak di antara mereka yang tidak mendapat tes darah yang sebenarnya penting sebagai indikator kemunculan kembali kanker usus besar.

"Tidak jelas apakah hal itu terjadi karena dokter yang tidak menawarkan tes ataukah memang si pasien yang tidak berusaha," kata pimpinan penelitian, Dr Gregory Cooper. Dia menduga, kemungkinan perawatan lanjutan hanya dilakukan dokter umum, bukan spesialis atau seseorang yang tidak mengerti panduan perawatan pascaoperasi.

"Kalau saya lebih cenderung menilai ini kesalahan pihak rumah sakit atau penyedia layanan kesehatannya," kata Cooper yang merupakan seorang gasteroenterologis.

Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal kanker edisi terbaru tersebut, Cooper dan timnya menggunakan data kasus kanker dari kantor pemerintah federal Amerika Serikat, termasuk catatan kesehatan pasien (medical record) untuk meninjau apakah sekiranya panduan pascaoperasi tersebut diikuti. Mereka berfokus pada pasien berusia 66 tahun atau lebih, dengan kasus kanker stadium dini hingga menengah yang masih dapat diatasi dengan pembedahan.

Data pasien yang diteliti adalah dalam kurun waktu tiga tahun, dimulai sejak enam bulan pascaoperasi. Saat studi dimulai pada tahun 2000, panduan minimum mewajibkan setidaknya kunjungan dokter dua kali per tahun, dua kali tes darah per tahun selama dua tahun, dan minimal sekali colonoscopy dalam tiga tahun. "Colonoscopy terutama dianjurkan pada tahun pertama pascaoperasi," ujarnya.

Secara keseluruhan, sekitar 60 persen pasien tidak mendapat perawatan sesuai panduan tersebut. Akan tetapi, mereka yang menjalani perawatan lengkap, lebih dari separuhnya juga melakukan perawatan medis tambahan seperti CT scan dan PET scan yang tidak diwajibkan dalam perawatan rutin. Scan ini sejatinya dilakukan jika ada tanda atau gejala kekambuhan. Namun, peneliti menduga, mereka menjalaninya sebagai perawatan rutin.

Penelitian ini juga menyimpulkan temuan lainnya, yakni tingkat skrining yang rendah pada kelompok usia lebih tua, ras Amerika-Afrika dan pasien dengan berbagai masalah kesehatan lainnya.

"Cukup memprihatinkan. Saya tidak terkejut dengan temuan ini," ujar Dr Len Lichtenfeld, kepala deputi kesehatan di American Cancer Society, yang turut mendanai penelitian tersebut.

Tahun ini, sekitar 149.000 orang Amerika diperkirakan terdiagnosis kanker usus (kolorektal). pasien yang bertahan setelah lima tahun terdiagnosis angkanya cukup beragam. Ada yang hingga 90 persen (pada pasien kanker yang belum menyebar), namun bisa juga hanya 10 persen, yakni pada pasien kanker stadium lanjut.

Di negara Barat, kanker usus besar (kolon) dan rektum (kanker kolorektal) konon menempati peringkat ke-2 untuk kategori jenis kanker tersering terjadi, sekaligus menjadi kanker penyebab kematian nomor dua. Angka kejadian kanker kolorektal biasanya mulai meningkat pada usia 40 tahun, dan puncaknya pada usia 60-75 tahun.

Seperti kanker pada umumnya, kanker usus besar juga "misterius". Artinya, penyebabnya beragam dan mungkin tidak sama antar pasien. Spesialis bedah kanker RS Dharmais Jakarta dr Adil Pasaribu SpBKBD, mengungkapkan, terdapat tiga kelompok besar penyebab, yakni genetik atau herediter murni (10 persen), familiel (20 persen), dan faktor campuran/sporadis (70 persen).

"Yang terbanyak menjadi kanker adalah interaksi antara genetik dan faktor lingkungan sebagai pemicu," tandasnya.


Sumber: www.lifestyle.okezone.com
 

Sample text

Sample Text

Sample Text