Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Alzheimer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alzheimer. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juni 2011

Jalan Kaki Cegah Kepikunan

Olahraga atau aktivitas fisik yang ringan seperti jalan kaki sekalipun dapat meningkatkan kualitas kesehatan, mencegah beragam penyakit, bahkan mencegah kepikunan.

Bagi Anda yang mulai memasuki usia senja, janganlah takut menjadi lansia (manusia lanjut usia). Jargon "Tua itu pasti, sehat itu pilihan" mungkin bisa memacu semangat Anda untuk segera menerapkan pola hidup sehat. Ya, ilmu kedokteran preventif berulang kali menyerukan bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati. Demikian halnya mereka yang sudah menerapkan pola hidup sehat sejak usia muda, di hari tua mereka menikmati efek "awet muda" sekaligus "awet sehat".

"Untuk memiliki tubuh yang sehat sebaiknya mengatur pola makan, olahraga teratur dan istirahat yang cukup," kata Ade Rai, instruktur fitnes sekaligus pemilik Klub Ade Rai.

Tak dimungkiri, olahraga maupun latihan fisik (exercise) merupakan cara alami untuk sehat. Begitu pun usia senja jangan dijadikan alasan untuk menghentikan aktivitas menyehatkan ini. Pasalnya, olahraga bahkan yang ringan seperti jalan kaki sekalipun berdampak positif terhadap kualitas kesehatan lansia secara keseluruhan. Setidaknya hal ini dibuktikan dalam dua studi di Australia dan Italia, belum lama ini.



Penelitian pertama yang dilakukan di Australia melaporkan bahwa olahraga teratur dapat meningkatkan daya ingat pada orang lanjut usia (lansia) dan menunda peluang terserang kepikunan dini.

Kesimpulan itu ditarik berdasarkan penelitian terhadap 170 warga Australia berusia 50 tahun atau lebih yang mengidap beberapa tipe gangguan ingatan yang bukan kategori demensia (kepikunan). Separuh dari partisipan diminta melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki selama 50 menit, tiga kali seminggu. Sementara separuh partisipan lainnya sama sekali tidak berolahraga.

Enam bulan berselang, peneliti melakukan serangkaian tes daya ingat dan tes lainnya terhadap partisipan, termasuk mengingat daftar sejumlah kata-kata, lalu diminta menyebutkannya kembali. Hasilnya tampak nyata bahwa hasil tes dari partisipan yang rutin berolahraga jalan kaki lebih cemerlang dibandingkan mereka yang tidak berolahraga.

"Studi ini merupakan uji coba pertama yang menggambarkan bagaimana manfaat positif olahraga terhadap perbaikan fungsi kognitif lansia yang mengidap gangguan fungsi kognitif ringan," demikian seperti tertulis dalam laporan yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa manfaat aktivitas fisik ini tampak lebih nyata setelah enam bulan. Bahkan, jika yang bersangkutan kemudian berhenti melakukannya, manfaat ini terus bertahan minimal hingga setahun setelahnya.

Adapun penelitian kedua lebih unik lagi karena dilakukan terhadap para octogenarian, yakni lansia umur 80 tahun atau lebih. Kesimpulannya, orang lanjut usia (lansia) yang melakukan aktivitas jalan kaki satu jam atau lebih per hari berumur lebih panjang dan atau berisiko lebih rendah terkena berbagai penyakit serius dibandingkan mereka yang jarang beraktivitas.

Dalam studi yang dipublikasikan Dutch group Elsevier dalam jurnal Preventive Medicine tersebut peneliti melibatkan 248 partisipan penduduk Italia yang hidup di lingkungan pegunungan. Mereka rata-rata berusia 86 tahun.

Selama dua tahun penelitian, terdapat 12 persen partisipan yang meninggal adalah lansia yang jarang olahraga atau hanya melakukan sedikit aktivitas fisik. Selain itu, kecenderungan depresi, gangguan kognitif, gangguan jantung, osteoartiritis dan tekanan darah tinggi juga lebih banyak ditemukan pada lansia yang malas beraktivitas fisik dibandingkan mereka yang rajin berolahraga jalan kaki.

Kendati demikian, latihan fisik untuk lansia tidak bisa disamaratakan. Artinya bersifat individual, tergantung tingkat kesehatan dan kebugaran lansia yang bersangkutan. Untuk itu, sebaiknya ada catatan medis tersendiri. Dengan adanya ledakan populasi lansia di seluruh dunia, WHO memperkirakan sekitar 37 juta penduduk dunia saat ini hidup dengan gangguan demensia, terutama demensia alzheimer. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat pesat hingga 20 tahun mendatang.

Itulah sebabnya para ahli medis dan sejumlah peneliti terus berupaya mencari jalan guna menunda serangan kepikunan dan memperbaiki kualitas hidup lansia secara keseluruhan.


Sumber: www.lifestyle.okezone.com

Jumat, 03 Juni 2011

Dementia Alzheimer, Penyakit Gangguan Ingatan Paling Ditakuti

Dementia alzheimer memiliki gejala umum penderita mengalami gangguan daya ingat ringan yang kemudian menjadi gangguan multiple kognitif yang lebih kompleks.

Psikiater dari Rumah Sakit Omni Internasional, Alam Sutera Tangerang, dr Andri SpKJ mengatakan, dementia alzheimer adalah salah satu jenis demensia yang ditandai dengan penurunan dari fungsi memori.

"Kesulitan penderita adalah belajar informasi baru dan memanggil informasi yang dipelajari sebelumnya," ucap Andri yang juga Penanggung Jawab Klinik Psikosomatik.

Andri menuturkan, penurunan secara nyata juga terjadi pada fungsi intelektual (gangguan bahasa, gangguan melakukan aktivitas motorik, kesulitan dalam mengenal benda, gangguan dalam fungsi eksekutif seperti merencanakan, mengorganisasi, pengabstrakan, dan merangkai tindakan). Keadaan ini mengganggu fungsi pribadi dan sosial individu itu.



"Dementia alzheimer hanya merupakan salah satu jenis demensia. Namun, penderitanya paling tinggi dari penyakit demensia lainnya yakni lebih dari 50 persen kasus demensia adalah dementia alzheimer," kata dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Umumnya, penderita penyakit ini orang berusia lanjut. "Penyakit tersebut diderita kebanyakan pasien berusia 65 tahun ke atas walaupun ada pula penderita berusia 45 tahun.Umumnya, penderita di bawah 50 tahun terjangkit karena keturunan," kata dokter yang tergabung dalam keanggotaan Asosiasi Psikiatri Indonesia (PDSKJI).

Selanjutnya, Andri juga menjelaskan, kejadian semakin meningkat tajam pada penderita berusia 70 hingga 80 tahun. Berdasarkan data statistik, demensia terjadi satu dari 20 orang pada usia di atas 65 tahun dan meningkat menjadi satu di antara 5 orang pada usia di atas 80 tahun. Secara global, penyakit ini mengenai sekitar 18 juta orang dengan perkiraan pada 2025 akan bertambah menjadi 34 juta penderita.

"Beberapa penelitian mengatakan kejadiannya berimbang antara pria dan wanita, tapi bukti klinis mengatakan, kejadiannya lebih tinggi di kalangan wanita," ujar dokter yang juga berpraktik di RS Global Medika, Tangerang.

Andri menuturkan, penyakit ini sering kali sulit dikenali karena dianggap sebagai proses penuaan normal dan perjalanan penyakit yang pada awalnya terjadi secara perlahan.

"Sampai sekarang, penyebab penyakit ini belum diketahui. Para ahli sering kali menghubungkan adanya Amyloid plaques dan neurofibrillary tangles di sel otak dengan kejadian dementia alzheimer. Namun hal ini juga ditemukan pada demensia tipe lain dan sebagai proses penuaan alami," ucap dokter yang juga anggota American Psychosomatic Society (APS) ini.

Andri juga menambahkan, terdapat beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai, yaitu adanya keluarga yang menderita dementia alzheimer, individu dengan tingkat pendidikan yang rendah (penelitian mengatakan dementia alzheimer jarang terjadi pada individu dengan tingkat pendidikan yang tinggi).

"Penggunaan atau mengonsumsi alkohol yang berlebihan dalam jangka waktu lama, maka bisa terkena penyakit ini dan kardiovaskular (hipertensi, jantung)," tuturnya.

Sementara itu, dokter spesialis saraf Rumah Sakit Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Cikini dr Sudin Sitanggang SpS mengatakan, menurunnya daya ingat atau lupa merupakan suatu hal yang membuat si penderita kerepotan.
"Penyakit lupa ini menyerang sistem saraf pada manusia, yaitu saraf bagian hipokampus (bagian depan otak besar yang berperan dalam fungsi luhur dan proses memori)," ucap dokter yang juga berpraktik di RS Sari Asih Tangerang.


Sumber: www.lifestyle.okezone.com

Jalan Kaki Cegah Kepikunan

Olahraga atau aktivitas fisik yang ringan seperti jalan kaki sekalipun dapat meningkatkan kualitas kesehatan, mencegah beragam penyakit, bahkan mencegah kepikunan.

Bagi Anda yang mulai memasuki usia senja, janganlah takut menjadi lansia (manusia lanjut usia). Jargon "Tua itu pasti, sehat itu pilihan" mungkin bisa memacu semangat Anda untuk segera menerapkan pola hidup sehat.

Ya, ilmu kedokteran preventif berulang kali menyerukan bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati. Demikian halnya mereka yang sudah menerapkan pola hidup sehat sejak usia muda, di hari tua mereka menikmati efek "awet muda" sekaligus "awet sehat".

"Untuk memiliki tubuh yang sehat sebaiknya mengatur pola makan, olahraga teratur, dan istirahat yang cukup," kata Ade Rai, instruktur fitnes sekaligus pemilik Klub Ade Rai.



Tak dimungkiri, olahraga maupun latihan fisik (exercise) merupakan cara alami untuk sehat. Usia senja jangan dijadikan alasan untuk menghentikan aktivitas menyehatkan ini.

Pasalnya, olahraga bahkan yang ringan seperti jalan kaki sekalipun berdampak positif terhadap kualitas kesehatan lansia secara keseluruhan. Setidaknya hal ini dibuktikan dalam dua studi di Australia dan Italia, belum lama ini.

Penelitian pertama yang dilakukan di Australia melaporkan bahwa olahraga teratur dapat meningkatkan daya ingat pada orang lanjut usia (lansia) dan menunda peluang terserang kepikunan dini. Kesimpulan itu ditarik berdasarkan penelitian terhadap 170 warga Australia berusia 50 tahun atau lebih, yang mengidap beberapa tipe gangguan ingatan yang bukan kategori demensia (kepikunan). Separuh dari partisipan diminta melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki selama 50 menit, tiga kali seminggu. Sementara separuh partisipan lainnya sama sekali tidak berolahraga.

Enam bulan berselang, peneliti melakukan serangkaian tes daya ingat dan tes lainnya terhadap partisipan, termasuk mengingat daftar sejumlah kata-kata lalu diminta menyebutkannya kembali. Hasilnya tampak nyata bahwa hasil tes dari partisipan yang rutin berolahraga jalan kaki lebih cemerlang dibanding mereka yang tidak berolahraga.

"Studi ini merupakan uji coba pertama yang menggambarkan bagaimana manfaat positif olahraga terhadap perbaikan fungsi kognitif lansia yang mengidap gangguan fungsi kognitif ringan," demikian seperti tertulis dalam laporan yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Association.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa manfaat aktivitas fisik ini tampak lebih nyata setelah enam bulan. Bahkan, jika yang bersangkutan kemudian berhenti melakukannya, manfaat ini terus bertahan minimal hingga setahun setelahnya.

Adapun penelitian kedua lebih unik lagi karena dilakukan terhadap para octogenarian, yakni lansia umur 80 tahun atau lebih. Kesimpulannya, orang lanjut usia (lansia) yang melakukan aktivitas jalan kaki satu jam atau lebih per hari berumur lebih panjang dan atau berisiko lebih rendah terkena berbagai penyakit serius dibanding mereka yang jarang beraktivitas.

Dalam studi yang dipublikasikan oleh Dutch group Elsevier dalam jurnal Preventive Medicine tersebut, peneliti melibatkan 248 partisipan penduduk Italia yang hidup di lingkungan pegunungan. Mereka rata-rata berusia 86 tahun.

Selama dua tahun penelitian, terdapat 12 persen partisipan yang meninggal adalah lansia yang jarang olahraga atau hanya melakukan sedikit aktivitas fisik.

Selain itu, kecenderungan depresi, gangguan kognitif, gangguan jantung, osteoartritis dan tekanan darah tinggi juga lebih banyak ditemukan pada lansia yang malas beraktivitas fisik dibanding mereka yang rajin berolahraga jalan kaki.

Kendati demikian, latihan fisik untuk lansia tidak bisa disamaratakan. Artinya, bersifat individual, tergantung tingkat kesehatan dan kebugaran lansia yang bersangkutan. Untuk itu sebaiknya ada catatan medis tersendiri.

Dengan adanya ledakan populasi lansia di seluruh dunia, WHO memperkirakan sekitar 37 juta penduduk dunia saat ini hidup dengan gangguan demensia, terutama demensia alzheimer.

Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat pesat hingga 20 tahun mendatang. Itulah sebabnya para ahli medis dan sejumlah peneliti terus berupaya mencari jalan guna menunda serangan kepikunan dan memperbaiki kualitas hidup lansia secara keseluruhan.


Sumber: www.lifestyle.okezone.com

Minggu, 29 Mei 2011

Brokoli Ampuh Mencegah Alzheimer

SERING mendengar tentang alzheimer. Itulah penyakit pikun pada masa tua. Brokoli, yang mengandung banyak mineral dan vitamin, adalah salah satu jenis sayuran yang bisa mengatasi penyakit itu. Kandungan anti-acetylcholinesterase-nya juga dapat mencegah kanker prostat. Selain itu, mengonsumsi brokoli setiap hari dapat mencegah terjadinya kerusakan jantung, atau yang dikenal dengan jantung koroner. Brokoli cukup direbus atau dimakan langsung.

Mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran tertentu bisa meningkatkan daya ingat. Menurut penelitian di Inggris, brokoli berkhasiat untuk menguatkan ingatan, sehingga sayuran itu digunakan untuk mencegah dan merawat penderita alzheimer (pikun). Brokoli, atau yang dalam bahasa latin disebut Brassica Oleracea Var Italica adalah bunga dari tanaman sejenis kubis. Brokoli merupakan kumpulan dari kuntum bunga yang membentuk gerombolan. Selain bisa dimakan mentah, sayuran ini bisa diolah menjadi beragam hidangan lezat.

Seperti sayuran lainnya, brokoli kaya akan provitamin A/karotenoid, vitamin E, asam folat dan vitamin C. Sayuran ini lebih sering dimasak dalam waktu singkat agar vitaminnya tidak rusak dan warnanya tetap menarik. Menurut herbalis, dr Prapti Utami, Konsultan dan penulis buku Terapi dengan Tanaman Obat, brokoli juga berguna untuk kecantikan.



"Brokoli memiliki banyak vitamin yang bermanfaat untuk kecantikan dan kesehatan. Dalam brokoli terkandung vitamin A, vitamin E, dan vitamin C. Vitamin A pada brokoli mengandung antioksidan (penangkal radikal bebas) yang lebih baik ketimbang antioksidan yang hanya dimiliki vitamin C saja. Revitalisasi evitel vitamin A dapat mengambat dan memperlambat penuaan pada kulit. Selain itu, secara bersamaan brokoli juga melindungi kulit dalam mata, menjaga dan meningkatkn kepekaan panca indra," katanya.

Selain mengandung banyak vitamin, brokoli juga mengandung beragam mineral penting seperti kalsium, potasium, kalium, besi dan selenium. Zat lain yang terkandung di dalam brokoli adalah sulfur dalam bentuk glukosinolat, senyawa antidot, monoterpene, dan genestein. Brokoli juga mengandung nutrisi, fivonoid dan serat yang bermanfaat untuk mencegah konstipasi/sembelit dan gangguan pencernaan lainnya. Brokoli juga memiliki beragam manfaat untuk kesehatan tubuh, seperti mencegah terjadinya kanker koroner, kanker prostat, kanker paru, dan kanker perut.


Mencegah Alzheimer

Saripati yang terdapat pada lima jenis buah dan sayuran-brokoli, kentang, jeruk, apel, dan lobak- ternyata mengandung kesamaan senyawa yang memiliki sifat menyembuhkan penyakit alzheimer. Namun senyawa itu paling banyak ditemukan dalam brokoli. alzheimer adalah bentuk dementia (berkurangnya ingatan) yang paling umum dijumpai di kalangan orang tua. Penyakit ini akan mempengaruhi aktivitas sehari-hari penderitanya. alzheimer mengganggu wilayah otak yang mengendalikan pikiran, ingatan, dan bahasa.

Sebenarnya, sudah sejak lama beberapa jenis buah dan sayuran itu diduga memiliki sifat anti acetylcholinesterase. Namun belum ada penelitian mendetail dan ilmiah melalui hasil riset yang dilakukan King`s College London. Brokoli dianggap memiliki sifat anti-acetylcholinesterase paling kuat dan dipakai dalam penelitian selanjutnya untuk mencari senyawa yang memunculkan sifat tersebut. Akhirnya, didapatkan glucosinolates, kelompok senyawa yang lazim terdapat pada keluarga kubis-kubisan (brassicaceae).

Brokoli memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan makanan dan minuman lainnya. "Dengan mengkonsumsi brokoli dalam jangka panjang, seseorang bisa mengurangi penurunan kadar acetylcholine di sistem saraf pusatnya. Artinya, brokoli juga dapat menjadi makanan alternatif bagi orang-orang yang tidak ingin pikun pada masa tuanya. Kandungan vitamin C pada brokoli jumlahnya juga lebih banyak daripada jeruk. Bahkan, kandungan kalsium brokoli juga lebih besar dibandingkan dengan segelas susu. Brokoli juga mengandung lebih banyak serat daripada sepotong roti gandum. Tidak ada aturan khusus dalam proses dan pola mengkonsumsinya. Cara mengkonsumsinya pun sangat mudah, bisa dimakan mentah, ditumis atau dicampur sebagai salah satu bahan sop atu dikukus sebagai lalapan, "jelasnya.

Hal senada diungkapkan oleh peneliti dari Royal Pharmaceutical Society yang membuktikan bahwa brokoli mengandung senyawa yang mirip dengan obat-obatan bagi penyakit alzheimer. Brokoli dianggap memiliki sifat anti-acetylcholinesterase paling kuat. Hanya dengan memakan sedikit brokoli setiap minggu, mungkin pria akan terhindar dari kanker prostat. Prostat adalah kanker kedua yang memicu kematian pria. Beberapa tahun terakhir ini, 680.000 pria di dunia didiagnosa mengidap penyakit tersebut. Dan 220.000 orang di antaranya meninggal karena kanker tersebut.

Seorang peneliti di Amerika Serikat mengatakan bahwa mengonsumsi brokoli banyak memberi manfaat positif bagi kesehatan tubuh. Salah satu manfaat positifnya adalah melindungi jantung dari sel-sel perusak. Makan lima jenis buah dan sayuran berbeda dalam sehari bisa mengurangi risiko serangan jantung koroner. Brokoli bisa direkomendasikan sebagai salah satu sayuran yang dikonsumsi setiap hari. Profesor Dipak Das dari Universitas Connecticut menambahkan bahwa di dalam brokoli terkandung zat sulforaphane yang efektif untuk mencegah kerusakan pada jantung. Brokoli sebaiknya direbus, agar zat-zat di dalamnya dapat bekerja efektif dan tak hilang.

Pakar herbalis ini menambahkan bahwa dengan mengkonsumsi berbagai jenis sayuran dan buah-buahan, tubuh akan banyak mendapat asupan kombinasi vitamin dan mineral. Jadi, semakin bervariasi konsumsi buah-buahan berfungsi sebagai anti-oksidan yang bisa mengikis berbagai radikal bebas. Keberadaan radikal bebas di dalam tubuh sangat berbahaya karena dapat memicu timbulnya kanker. "Biasanya, saat usia semakin tua, keberadaan radikal bebas dalam tubuh juga meningkat. Sebaiknya digalakkan pada anak-anak. Orang dewasa juga harus memperkaya asupan gizinya dengan banyak makan buah dan sayuran," tandas dr Prapti.


Sumber: www.lifestyle.okezone.com
 

Sample text

Sample Text

Sample Text