Anak bagi kebanyakan pasangan dianggap sebagai buah cinta. Saking berartinya kehadiran seorang anak di tengah keluarga, banyak pasangan sangat berhati-hati ketika istri mulai hamil.
Kehati-hatian yang ditunjukkan oleh pasangan sebenarnya cukup beralasan. Karena masa-masa kehamilan adalah masa paling rawan bagi ibu ataupun bagi bayi yang dikandungnya. Tujuannya tentu agar bayi yang dilahirkan berada dalam kondisi yang sehat dan tidak kekurangan apa pun, baik fisik maupun mental.
Banyak faktor yang bisa membuat janin yang dikandung tidak lahir dengan sempurna. Mengalami kecacatan fisik permanen misalnya hingga terlahir dengan cacat mental. Faktor itu antara lain, selama hamil ibu mengonsumsi obat-obatan tanpa sepengetahuan dokter, kekurangan gizi dan stres bisa mempertinggi peluang bayi yang dilahirkan akan cacat.
"Setiap wanita hamil memiliki masa-masa peka dan rawan. Pada masa ini terdapat tahap yang sangat membahayakan bagi janin yang dikandungnya. Jika dalam masa-masa peka atau rawan ini si ibu mengonsumsi obat-obatan, bisa menyebabkan keguguran," kata dokter spesialis kandungan, dr Djalil Anshori, SpOG.
Untuk menghindari kelahiran bayi cacat fisik ataupun mental, Djalil mengaku ada beberapa hal paling penting yang harus diikuti oleh ibu. Di antaranya menjauhkan diri dari obat-obat tertentu termasuk obat penenang, hindari stres berkepanjangan hingga menjaga kandungan protein yang masuk ke dalam tubuh.
"Biasanya ibu yang mengalami kehamilan, kondisi badan melemah. Ketegangan mental semakin meningkat sehingga timbul perasaan jengkel. Bagi ibu yang tidak sabar, akan sembarangan membeli dan meminum obat tertentu. Bahkan, banyak ibu hamil justru menyukai minum obat penenang," katanya.
Sepintas, menurut Djalil, obat penenang memang dapat menghindari beban stres semasa kehamilan. Namun, pemakaian obat penenang justru sangat membahayakan dan menjadi penyebab cacat pada janin yang dikandungnya.
"Paling rawan jika meminum obat penenang dilakukan pada minggu kelima dan minggu ketujuh kehamilan," tutur dokter alumnus UI tersebut.
Pada usia kehamilan yang semakin tua, Djalil menyarankan agar wanita yang tengah hamil berusaha untuk mengatasi ketegangan emosional.
Di usia kehamilan yang semakin tua, pada umumnya ketegangan emosional semakin tinggi. Walaupun hal ini sulit untuk dihindarkan, setidaknya ada usaha yang kuat untuk menghindarinya. Kecacatan fisik maupun gangguan mental pada anak, menurut Djalil, telah menjadi penelitian dari peneliti Amerika yang terkenal dengan nama Fels.
Dalam hasil penelitiannya ditemukan bahwa wanita hamil dengan susunan saraf otonom yang labil, memiliki fetus-fetus paling aktif. Kondisi seperti ini akan menyebabkan ibu hamil mengalami ketegangan emosi, reaktif, dan mudah tersinggung.
Akibat dari keguncangan emosi ini, biasanya anak akan terlahir dengan berat badan yang kurang dibanding dengan panjangnya. Pada perkembangan berikutnya, anak akan mengalami gangguan sulit makan.
Akibat lain, jika keguncangan psikis ibu terjadi pada bulan pertama kehamilan. Biasanya anak akan terlahir dengan gangguan mental yang kurang normal. Gangguan ini biasanya disebut dengan down syndrome. Sedangkan jika gangguan emosi terjadi pada bulan kedua kehamilan, maka akan mengakibatkan terjadinya gangguan sindrom nafsu terhambat.
Anak-anak yang demikian akan memiliki ciri apatis, pasif, dan tampak tidak bergairah. Hal lain yang harus dihindarkan selama masa kehamilan, menurut Djalil, adalah kepercayaan terhadap tahayul. Misalnya jika ibu suka memandang foto atau poster yang indah-indah anak yang dilahirkan akan memiliki paras yang elok.
"Memang terdapat penelitian terhadap kepercayaan tahayul, namun sebisa mungkin ibu hamil harus tetap dapat mengendalikan diri dengan sebaik-baiknya," katanya. Jika ibu hamil sangat mempercayai tahayul, maka hal tersebut akan memengaruhi instabilitas hormonal.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Tampilkan postingan dengan label Persiapan Kelahiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persiapan Kelahiran. Tampilkan semua postingan
Senin, 06 Juni 2011
Minggu, 29 Mei 2011
Manfaat Air Kelapa Muda untuk Kesehatan & Kecantikan
YANG orang tahu tentang air kelapa muda adalah bahwa air kelapa muda bisa memuaskan dahaga orang. Membuat orang segar kembali setelah kehausan dan kelelahan. Tapi selanjutnya tak hanya sebatas itu. Air kelapa muda malah punya banyak kandungan berharga untuk kesehatan dan kecantikan. Apa saja kandungannya? Apa saja manfaatnya?
Menurut dr Inayah Budiasti S,MS SpGK, spesialis gizi dari Hang Lekiu Medical Centre, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pohon kelapa termasuk pohon yang serbaguna. Buah dan airnya bisa dikonsumsi, daunnya bisa dibuat hiasan janur atau sebagai kulit ketupat. Orang pedesaan biasa menggunakan batang pohon kelapa sebagai jembatan. Setelah buah dan airnya dikonsumsi, batoknya dapat digunakan sebagai arang pembakar. Sari buahnya diolah menjadi minyak.
Ada kandungan mikro dan makro dalam air kelapa. Unsur makro yang terdapat dalam air kelapa adalah karbon dan nitrogen. Unsur karbonnya berupa karbohidrat sederhana seperti glukosa, sukrosa, fruktosa, sorbitol, inositol, dan lain-lain. Unsur nitrogennya berupa protein yang tersusun dari asam amino air kelapa lebih tinggi ketimbang asam amino dalam susu sapi. Selain karbohidrat dan protein, air kelapa juga mengandung unsur mikro berupa mineral yang dibutuhkan tubuh. Mineral tersebut, antara lain, kalium (K), natrium (Na), kalsium (Ca), magnesium (Mg), ferum (Fe), cuprum (Cu), fosfor (P), dan sulfur (S). Kandungan mineral dalam air kelapa dibutuhkan sebagai pengganti ion tubuh. Tak heran, setelah orang minum air kelapa muda, tubuhnya kembali segar.
Air kelapa juga mengandung banyak vitamin, antara lain, vitamin C, asam nikotinat, asam folat, asam pantotenat, biotin, serta riboflavin. Tak heran jika air kelapa juga dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional sekaligus kecantikan. Selain mineral, air kelapa juga mengandung gula (bervariasi antara 1,7-2,6 persen) dan protein (0,07-0,55 persen). Karena komposisi gizi yang demikian, air kelapa dijadikan bahan baku produk pangan. "Di Filipina, air kelapa dimanfaatkan untuk proses pembuatan minuman, jelly, alkohol, dektran dan cuka," imbuhnya.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Menurut dr Inayah Budiasti S,MS SpGK, spesialis gizi dari Hang Lekiu Medical Centre, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pohon kelapa termasuk pohon yang serbaguna. Buah dan airnya bisa dikonsumsi, daunnya bisa dibuat hiasan janur atau sebagai kulit ketupat. Orang pedesaan biasa menggunakan batang pohon kelapa sebagai jembatan. Setelah buah dan airnya dikonsumsi, batoknya dapat digunakan sebagai arang pembakar. Sari buahnya diolah menjadi minyak.
Buah kelapa memiliki berbagai khasiat, antara lain, mengobati berbagai macam penyakit. "Air kelapa baik dikonsumsi oleh ibu hamil karena diyakini dapat membuat kulit jabang bayi menjadi putih dan bersih," terang dr Inayah. Selain itu, air kelapa juga bisa dibuat sebagai nata de coco dan kecap. Nata de coco dapat dikonsumsi sebagai minuman segar dengan campuran koktail, es buah, maupun pengganti kolang-kaling. Dan air kelapa yang sama ini bisa dibuat kecap dengan cara mencampurkannya dengan kedelai, gula merah, bawang putih, kemiri, daun salam, lengkuas, kluwak, dan natrium benzoat.
Ada kandungan mikro dan makro dalam air kelapa. Unsur makro yang terdapat dalam air kelapa adalah karbon dan nitrogen. Unsur karbonnya berupa karbohidrat sederhana seperti glukosa, sukrosa, fruktosa, sorbitol, inositol, dan lain-lain. Unsur nitrogennya berupa protein yang tersusun dari asam amino air kelapa lebih tinggi ketimbang asam amino dalam susu sapi. Selain karbohidrat dan protein, air kelapa juga mengandung unsur mikro berupa mineral yang dibutuhkan tubuh. Mineral tersebut, antara lain, kalium (K), natrium (Na), kalsium (Ca), magnesium (Mg), ferum (Fe), cuprum (Cu), fosfor (P), dan sulfur (S). Kandungan mineral dalam air kelapa dibutuhkan sebagai pengganti ion tubuh. Tak heran, setelah orang minum air kelapa muda, tubuhnya kembali segar.
Air kelapa juga mengandung banyak vitamin, antara lain, vitamin C, asam nikotinat, asam folat, asam pantotenat, biotin, serta riboflavin. Tak heran jika air kelapa juga dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional sekaligus kecantikan. Selain mineral, air kelapa juga mengandung gula (bervariasi antara 1,7-2,6 persen) dan protein (0,07-0,55 persen). Karena komposisi gizi yang demikian, air kelapa dijadikan bahan baku produk pangan. "Di Filipina, air kelapa dimanfaatkan untuk proses pembuatan minuman, jelly, alkohol, dektran dan cuka," imbuhnya.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
4 Trik Jitu Pulih dari Persalinan
PULIH dari persalinan memang membutuhkan waktu. Soal lama atau sebentarnya, semua tergantung dari kondisi si ibu. Sebab, sama seperti ketika hamil, perubahan fisik dan psikologi ibu hamil akan berlanjut hingga usai persalinan.
Misalnya berat badan yang tidak langsung susut, sakit ketika menyusui, selalu ingin buang air kecil (BAK) dan seakan-akan ingin selalu buang air besar (BAB) karena ada bekas luka sobekan saat persalinan. Belum lagi sakit bekas jahitan operasi cesar hingga mood yang tidak terkontrol.
Menurut dr Sofani Munzila SpOG, dari YPR Hospital ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memulihkan kondisi si ibu pasca persalinan. Apa saja?
1. Gendonglah bayi
Untuk bisa segera pulih, sebenarnya tidak sulit. Apalagi bagi yang menjalankan persalinan normal. Dalam hitungan 1x24 jam, secara fisik, ibu sudah bisa menjalankan aktivitas, walaupun bukan yang berat. Biasanya usai persalinan normal, ibu akan merasa letih luar biasa. Apalagi jika proses persalinannya lama.
Lantas, apa yang harus dilakukan? Menurut dr Sofani Munzila, SpOG, istirahat cukup bisa memulihkan keletihan pascapersalinan. Istirahat bukan berarti tidak boleh bergerak sama sekali. Justru, agar cepat sembuh, ibu disarankan untuk bergerak. Minimal, menggerakkan badan di tempat tidur, turun dari tempat tidur, berjalan di kamar. Bahkan menyusui, menggendong, serta memakaikan baju si kecil pun bisa menjadi terapi ringan yang langsung bisa dilakukan.
Berbeda dengan ibu yang melahirkan secara cesar. Umumnya, sehari setelah operasi cesar, ibu tidak boleh turun ranjang. Bahkan ada juga yang harus opname selama 3-4 hari di rumah sakit. Rasa sakit dan gatal pun akan dialami. Ini wajar, sebagai reaksi normal pada anestesi dan pembedahan.
Biasanya dalam waktu enam minggu, ibu sudah bisa menjalankan aktivitas normal. Walau rasa nyeri terkadang masih dirasakan hingga enam bulan, namun bisa diatasi sendiri. Berdiam diri malah akan memperlama proses pemulihan.
2. Kebersihan vagina percepat pemulihan
Menjaga kebersihan vagina ternyata dapat mempercepat pemulihan. Begitu pula dengan merawat bekas jahitan operasi.
Untuk yang melahirkan normal, upayakan agar daerah sekitar vagina selalu kering dan bersih. Gantilah pembalut khusus usai persalinan sesering mungkin. Biarkan luka jahitan pada vagina terkena udara terbuka beberapa saat setiap hari. Penyembuhan biasanya memerlukan waktu seminggu.
Sedangkan yang menjalani cesar, basuhlah luka dengan air hangat setiap kali mandi. Bila sudah kering, bersihkan dengan sabun antiseptik. Di pasaran juga tersedia plester khusus untuk menutup luka bekas operasi.
3. Perbanyak konsumsi protein
Ada anggapan yang menyebutkan bahwa setelah melahirkan, tidak boleh mengonsumsi protein yang banyak terdapat pada ikan, telur atau daging. Itu mitos keliru. Proses pemulihan usai persalinan harus didukung oleh nutrisi lengkap.
Jika selama hamil, ibu sangat memperhatikan kandungan gizinya, maka setelah persalinan pun tetap musti memperhatikan nutrisinya. Karena ibu masih menyusui dan membutuhkan makanan sarat protein.
Protein dapat membantu penyembuhan luka jahitan. Protein banyak terkandung di dalam ikan. Vitamin C dan B kompleks juga jangan tertinggal, karena akan membantu daya tahan ibu usai persalinan. Perbanyak makan sayuran hijau, seperti bayam dan kacang-kacangan.
Upayakan juga mengonsumsi makanan kaya serat, untuk membantu BAB. Ini tak kalah pentingnya karena BAB yang keras akan membuat bekas jahitan sulit pulih akibat acap mengejan.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Misalnya berat badan yang tidak langsung susut, sakit ketika menyusui, selalu ingin buang air kecil (BAK) dan seakan-akan ingin selalu buang air besar (BAB) karena ada bekas luka sobekan saat persalinan. Belum lagi sakit bekas jahitan operasi cesar hingga mood yang tidak terkontrol.
Menurut dr Sofani Munzila SpOG, dari YPR Hospital ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memulihkan kondisi si ibu pasca persalinan. Apa saja?
1. Gendonglah bayi
Untuk bisa segera pulih, sebenarnya tidak sulit. Apalagi bagi yang menjalankan persalinan normal. Dalam hitungan 1x24 jam, secara fisik, ibu sudah bisa menjalankan aktivitas, walaupun bukan yang berat. Biasanya usai persalinan normal, ibu akan merasa letih luar biasa. Apalagi jika proses persalinannya lama.
Lantas, apa yang harus dilakukan? Menurut dr Sofani Munzila, SpOG, istirahat cukup bisa memulihkan keletihan pascapersalinan. Istirahat bukan berarti tidak boleh bergerak sama sekali. Justru, agar cepat sembuh, ibu disarankan untuk bergerak. Minimal, menggerakkan badan di tempat tidur, turun dari tempat tidur, berjalan di kamar. Bahkan menyusui, menggendong, serta memakaikan baju si kecil pun bisa menjadi terapi ringan yang langsung bisa dilakukan.
Berbeda dengan ibu yang melahirkan secara cesar. Umumnya, sehari setelah operasi cesar, ibu tidak boleh turun ranjang. Bahkan ada juga yang harus opname selama 3-4 hari di rumah sakit. Rasa sakit dan gatal pun akan dialami. Ini wajar, sebagai reaksi normal pada anestesi dan pembedahan.
Biasanya dalam waktu enam minggu, ibu sudah bisa menjalankan aktivitas normal. Walau rasa nyeri terkadang masih dirasakan hingga enam bulan, namun bisa diatasi sendiri. Berdiam diri malah akan memperlama proses pemulihan.
2. Kebersihan vagina percepat pemulihan
Menjaga kebersihan vagina ternyata dapat mempercepat pemulihan. Begitu pula dengan merawat bekas jahitan operasi.
Untuk yang melahirkan normal, upayakan agar daerah sekitar vagina selalu kering dan bersih. Gantilah pembalut khusus usai persalinan sesering mungkin. Biarkan luka jahitan pada vagina terkena udara terbuka beberapa saat setiap hari. Penyembuhan biasanya memerlukan waktu seminggu.
Sedangkan yang menjalani cesar, basuhlah luka dengan air hangat setiap kali mandi. Bila sudah kering, bersihkan dengan sabun antiseptik. Di pasaran juga tersedia plester khusus untuk menutup luka bekas operasi.
3. Perbanyak konsumsi protein
Ada anggapan yang menyebutkan bahwa setelah melahirkan, tidak boleh mengonsumsi protein yang banyak terdapat pada ikan, telur atau daging. Itu mitos keliru. Proses pemulihan usai persalinan harus didukung oleh nutrisi lengkap.
Jika selama hamil, ibu sangat memperhatikan kandungan gizinya, maka setelah persalinan pun tetap musti memperhatikan nutrisinya. Karena ibu masih menyusui dan membutuhkan makanan sarat protein.
Protein dapat membantu penyembuhan luka jahitan. Protein banyak terkandung di dalam ikan. Vitamin C dan B kompleks juga jangan tertinggal, karena akan membantu daya tahan ibu usai persalinan. Perbanyak makan sayuran hijau, seperti bayam dan kacang-kacangan.
Upayakan juga mengonsumsi makanan kaya serat, untuk membantu BAB. Ini tak kalah pentingnya karena BAB yang keras akan membuat bekas jahitan sulit pulih akibat acap mengejan.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Awas, Bayi Baru Lahir Bisa Terkena Infeksi
INFEKSI pada bayi baru lahir ada dua tipe yaitu early infection (infeksi dini) dan late infection (infeksi terlambat). Disebut infeksi dini karena infeksi didapat dari si ibu saat masih dalam kandungan. Sementara late infection adalah infeksi yang didapat dari lingkungan luar, bisa lewat udara atau tertular oleh orang lain. Beragam infeksi bisa terkena pada bayi baru lahir, seperti, herpes, toksoplasma, Rubella, CMV, hepatitis, eksim, infeksi saluran kemih, infeksi telinga, infeksi kulit, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), dan HIV/AIDS.
Herpes (HSV)
Menurut dr TB Firmansyah B Rifai SpA, Direktur Medik dan Keperawatan, RSAB Harapan Kita, virus herpes terdiri atas dua jenis, yakni herpes simpleks tipe 1 dan herpes simpleks tipe 2. Herpes simpleks tipe 1, umumnya menginfeksi di dalam dan di sekitar mulut. Sedangkan herpes simpleks tipe 2, biasanya pada genital (alat kelamin) sehingga disebut pula herpes genitalis.
"Herpes genitalis pada mulut rahim yang acap kali tanpa gejala klinis bukanlah ancaman ringan, apalagi bagi wanita hamil," jelasnya.
Firmansyah mengatakan, HSV-2 bisa mempengaruhi kondisi kehamilan maupun janin atau bayinya. Bila penularan (transmisi) terjadi pada trimester I kehamilan, hal itu cenderung mengakibatkan abortus. Sedangkan pada trisemester II bisa terjadi kelahiran prematur.
"Jika herpes genitalis mengenai seorang ibu dan pada saat persalinan sedang kambuh, berisiko menular ke bayi yang dilahirkan ketika proses persalinan," tambahnya.
Bayi yang terkena HSV-2 akibatnya pun beragam mulai dari lesi hingga mikrosefali (kepala kecil), atau hidrosefali (busung kepala), radang pada mata, radang otak (ensefalitis), serta erupsi kulit yang menyeluruh.
"Kira-kira satu dari seribu bayi yang lahir dari ibu dengan herpes genitalis berisiko tertular herpes. Jika tidak diobati, 50-80 persen bayi yang lahir dengan herpes bawaan ini akan meninggal.
Penularan pada bayi sebagian besar (90 persen) terjadi saat proses kelahiran, 5 persen pada janin melalui plasenta atau langsung mengenai fetus (janin). Selebihnya, 5 persen, infeksi HSV-2 diperoleh sehabis masa persalinan," paparnya panjang.
Menurutnya lagi, kontak lama dengan cairan terinfeksi, dapat meningkatkan risiko bayi tertular. Maka, pada wanita hamil yang menderita herpes genitalis primer, dalam enam minggu terakhir masa kehamilannya dianjurkan untuk menjalani bedah cesar sebelum atau dalam empat jam sesudah pecah ketuban.
Kecuali itu, lanjutnya, tindakan bedah cesar akan dilakukan pada wanita dengan perkembangan virus pada saat atau hampir melahirkan. Kendati begitu, bedah cesar memang tidak selalu dilakukan pada wanita pengidap herpes genitalis kambuhan.
Untuk menjamin kepastiannya, perlu dilakukan pemeriksaan virus dan darah mulai usia kehamilan 32-36 minggu. Selanjutnya, setidaknya tiap minggu dilakukan kultur sekret serviks dan genital eksternal. Bila kultur virus yang diinkubasi minimal empat hari memberikan hasil negatif dua kali berturut-turut, serta tidak muncul lesi genital saat melahirkan, persalinan normal bisa dilakukan.
Cara Mengatasinya
Infeksi herpes simpleks pada bayi yang baru lahir memang sangat mengkhawatirkan dan memberikan prediksi akibat yang buruk bila tidak segera diobati. Untungnya, pengobatan selama ini mampu menurunkan angka kematian, demikian juga mencegah progresivitas penyakit berupa infeksi herpes pada susunan saraf pusat atau infeksi diseminata (penyebaran ke bagian tubuh lain).
Tindakan terhadap bayi dari ibu penderita herpes genitalis dilakukan secara beragam, di antaranya ada rumah sakit yang menganjurkan isolasi. Selanjutnya, pada bayi dilakukan pemeriksaan kultur virus, fungsi hati dan cairan serebrospinalis (otak), selain pengawasan ketat selama bulan pertama kehidupannya.
Eksim
Berbeda dengan kulit dewasa yang tebal dan mantap, kulit bayi relatif tipis dengan ikatan antarsel yang longgar. Karena itu kulit bayi lebih rentan terhadap infeksi, iritasi, dan alergi.
"Orangtua perlu memerhatikan perawatan kulit bayi yang berhubungan dengan beberapa penyakit kulit tertentu. Misalnya saja eksim popok, yaitu kelainan kulit yang timbul akibat radang di daerah tertutup popok," jelas dr TB Firmansyah B Rifai SpA, Direktur Medik dan Keperawatan, RSAB Harapan Kita.
Menurutnya, penyakit kulit pada bayi dan balita ini banyak dikeluhkan orangtua. Penyakit ini umumnya timbul pada lipatan-lipatan kulit paha, di antara kedua pantat, dan dapat menimpa di bagian kulit lain. Bagian tertutup popok mudah mengalami peradangan karena kulitnya hangat dan lembap serta peka terhadap bakteri serta senyawa yang dapat mengiritasinya.
"Eksim popok dapat dicegah dengan cara mengganti popok sesering mungkin setiap kali popok basah. Sebaiknya kain popok terbuat dari bahan lembut dan cara pemakaiannya tidak terlalu ketat agar kulit tidak tergesek. Penggunaan celana plastik sedapat mungkin dihindari," sarannya.
Menurutnya, eksim popok juga bisa muncul karena adanya zat-zat tajam, yang biasa ada dalam feses bayi, yang menimbulkan peradangan di sekitar anus. Bercak seperti ini umumnya terjadi bila si bayi diare. Penanggulangannya bisa dilakukan dengan mengganti popok setiap kali terasa basah.
Popok yang basah bisa pula menimbulkan bercak yang tidak berpusat di sekitar anus. Ini terjadi karena reaksi antara zat di dalam ompol dengan zat di faeces dan menghasilkan amonia yang merangsang kulit bayi.
"Penanggulangannya bisa dengan mengganti popok sesering mungkin. Bila dalam 10 hari belum ada kemajuan, atau malah makin memburuk, ada kemungkinan kulitnya sudah terinfeksi candida -jamur yang biasa muncul di usus. Segera periksakan ke dokter," kata dr Firmansyah.
Eksim Susu
Keluhan gangguan kulit lain pada anak yang banyak ditemui adalah dermatitis atopik (eksim susu). Penyakit eksim susu biasanya sangat gatal. Tampak dari seringnya bayi menggaruk, gelisah, serta rewel.
"Kulit terlihat kemerahan dan terdapat gelembung-gelembung kecil berisi cairan jernih. Bila pecah akan tampak basah kemudian mengering dan menjadi koreng kekuningan atau kehitaman," jelas dr TB Firmansyah B Rifai SpA.
Menurutnya, eksim ini terdapat pada kulit daerah tertentu sesuai dengan usia anak. Misalnya pada bayi banyak ditemukan di daerah pipi, sedangkan pada anak di daerah lekukan lengan dan kedua lekukan lutut. Di luar daerah tersebut kulitnya kering dan bersisik.
"Penyebab penyakit ini sangat kompleks, dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari dalam tubuh, yaitu faktor keturunan, maupun lingkungan, misalnya debu, udara panas, dan kelembapan. Karena itu perawatan kulit yang paling penting adalah mencegah kulit agar jangan kering," tutupnya.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Bengkak saat Hamil Bisa Menjadi Indikator Preeklampsia
![]() |
| Indikator Preeklampsia |
Menurut dr Otamar SpOG, ahli kandungan dari Rumah Sakit MMC, preeklampsia atau keracunan kehamilan adalah kumpulan suatu gejala. Ibu hamil mana pun akan dapat mengalami preeklampsia. Tapi yang lebih berisiko adalah ibu hamil yang baru pertama kali hamil, ibu dengan kehamilan bayi kembar, ibu yang menderita diabetes, yang punya hipertensi sebelum hamil, yang memiliki masalah dengan ginjal, dan yang hamil pertama di bawah usia 20 tahun atau di atas 35 tahun. Ibu, yang pernah mengalami preeklampsia pada kehamilan sebelumnya, kemungkinan besar mengalaminya lagi pada kehamilan berikutnya atau mungkin juga tidak.
Sayangnya, sampai saat ini penyebab preeklampsia masih merupakan misteri. "Orang banyak yang menduga berkaitan dengan teori. Ada prostaglanden, ada teori urine, ada juga yang berkaitan dengan pengentalan darah karena bisa mengakibatkan tekanan darah tinggi dan merusak dinding kapiler pembulu darah sehingga terjadi kebocoran dan proteinnya jadi ketarik," ungkap dr Otamar.
Kondisi preeklampsia sangat kompleks dan sangat besar pengaruhnya terhadap ibu maupun janin. Gejalanya sendiri dapat dikenali melalui pemeriksaan kehamilan yang rutin. Preeklampsia sendiri biasanya muncul pada trimester ketiga kehamilan, tapi bisa juga muncul pada trimester kedua. Gangguan ini, sekitar 7 persen, bisa berupa gangguan ringan maupun parah.
Secara klinis, gejala preeklampsia sendiri ditandai dengan penemuan tekanan darah yang tinggi maupun peningkatan tekanan darah daripada biasanya. Itu merupakan salah satu hal terpenting untuk menentukan apakah seorang ibu hamil mengalami preeklampsia atau tidak. Preeklampsia sendiri terbagi atas tiga. Preeklampsia ringan, sedang, maupun berat. Bila seorang terkena darah di atas 160/110 mlHg itu disebut preeklampsia berat dengan disertai tiga gejala yang tadi," terang dr Otamar.
Selain tekanan darah, gejala yang lain adalah bengkak. Bengkak ini dapat dengan mudah dikenali di daerah kaki dan tungkai. Pada keadaan yang lebih berat muncul bengkak di seluruh tubuh. Pembengkakan ini terjadi akibat pembulu kapiler yang bocor sehingga air yang merupakan bagian dari sel merembes keluar dan masuk ke dalam jaringan tubuh dan tertimbun di bagian tersebut. Terdapatnya kadar protein yang tinggi dalan urin juga merupakan gangguan ginjal. Gejala preeklampsia ringan dapat menunjukkan angka kadar protein urin lebih tinggi daripada 500 mb per 24 jam. Sementara itu, yang terparah dapat mencapai angka 5 gram dalam 24 jam. Pengeluaran urin sendiri pun kurang dari 400 ml per 24 jam.
"Biasanya pada usia kehamilan 5 bulan, tapi paling sering menjelang kehamilan. Terjadi preeklampsia pada saat hamil, proses persalinan dan setelah persalinan. Normalnya, orang setelah melahirkan itu tensi turun. Tapi kalau setelah melahirkan tensi malah meningkatkan, itu bahaya," lanjut dr Otamar.
Jika terkena preeklampsia, ada beberapa organ tubuh yang ikut terkena, antara lain otak, di mana terjadi pembengkakan di otak sehingga timbul kejang dengan penurunan kesadaran. Itulah yang biasa disebut dengan preeklampsia. Dapat pula terjadi pecahnya pembuluh darah dari otak akibat hipertensi. Selain itu, dapat pula menyerang paru-paru sehingga terjadi pembengkakan yang kemudian menyebabkan sesak napas yang hebat dan bisa berakibat fatal.
Janin yang dikandung oleh ibu hamil yang terkena preeklampsia akan hidup dalam rahim dengan nutrisi dan oksigen di bawah normal. Keadaan ini bisa terjadi karena pembulu darah yang menyalurkan darah ke plasenta menyempit karena buruknya nutrisi. Dengan demikian, pertumbuhan janin akan terhambat sehingga berat badan bayi yang lahir rendah. Atau bisa juga janin dilahirkan dalam hitungan kurang bulan (prematur) dan biru pada saat dilahirkan (asfiksia).
Pada penderita preeklampsia yang berat, janin harus segera dilahirkan. Ini dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu tanpa melihat apakah si janin sudah dapat hidup di luar rahim atau tidak. Tapi adakalanya keduanya tak bisa ditolong. Oleh karena itu, ibu hamil harus melakukan pemeriksaan rutin dan berkonsultasi dengan dokter. Minimal setiap bulan pada kehamilan awal dan seminggu sekali menjelang kelahiran.
Untuk penyakit yang satu ini, cara pengobatannya tergantung pada gejala yang dihadapinya. Jika yang dialami adalah tekanan darah tinggi, sesegera mungkin tekanan darah diturunkan. Tekanan darah yang tinggi secara terus menerus membuat jantung bekerja ekstrakeras, yang pada akhirnya mengakibatkan kerusakan pembulu darah pada jantung, ginjal, otak, dan mata. Jika tekanan darah tinggi itu tidak segera diatasi, bisa muncul masalah atau kasus-kasus yang lebih serius, bahkan bisa menyebabkan kematian. Jika preeklampsia karena kebocoran, yang harus dilakukan adalah menjalankan diet dengan mengurangi konsumsi garam dan makanan berkolesterol.
Pengobatan hipertensi biasanya dikombinasikan dengan beberapa obat, yakni diuretic atau tablet Hydrochlorothiazide (HCT), Lasiz (Furosemide). Juga dapat digunakan Beta-blockers (Atenolol Tenorim), Capoten (Captopril). Obat ini dapat dikonsumsi dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui proses memperlambat kerja jantung dan memperlebar pembulu darah (vaso dilatasi).
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Jumat, 20 Mei 2011
Bayi Lahir Caesar Rentan Penyakit
METODE persalinan nyatanya terkait erat dengan angka kesakitan, kematian ibu, dan juga kesehatan bayi. Penelitian menunjukkan, bayi yang dilahirkan dengan operasi caesar lebih berisiko terkena beragam penyakit.
Setiap bayi terlahir dengan sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna. Mikrobiota dalam usus berperan penting dalam pematangan sistem daya tahan tubuh, terutama dalam membentuk toleransi oral dan mengurangi risiko alergi.
Hal itu yang membuat kesehatan usus dan saluran cerna lainnya sangat penting diperhatikan.
Pasalnya, dua pertiga sistem kekebalan tubuh berada dalam saluran cerna.
Penelitian yang dilakukan Profesor Patricia Conway dari University of New South Wales Australia, mengungkap, bayi yang terlahir dengan metode caesar membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk mencapai mikrobiota usus yang serupa dengan bayi lahir normal.
Padahal, kurangnya mikrobiota atau bakteri baik pada saluran cerna akan berpengaruh terhadap pertahanan tubuh dari mikroorganisme jahat atau patogen.
"Akibatnya, si bayi caesar memiliki risiko lebih tinggi terhadap berbagai jenis penyakit," ungkap Conway dalam talkshow tentang metode persalinan dan pengaruhnya di Hotel Gran Melia Jakarta, baru-baru ini.
Dia memaparkan, mikrobiota diperoleh manusia secara bertahap, mulai sejak lahir dari mikrobiota ibu dan lingkungan. Sayangnya, bayi-bayi yang lahir secara caesar kurang terpapar mikroba-mikroba saat dilahirkan. Si bayi lewat persalinan caesar acap kali terpapar antibiotika pada masa awal kehidupannya.
"Ragam faktor tersebut memengaruhi pembentukan mikrobiota dan komposisinya di saluran cerna sehingga pada akhirnya berdampak pada kesehatan bayi," ujar Conway.
Saat bayi lahir, saluran cerna normal nyaris steril, bebas kuman. Pada persalinan normal, bakteri dari ibu dan lingkungan sekitar membentuk kolonisasi pada saluran cerna anak. Dalam proses persalinan alami itu, bayi berpindah dari rahim yang nyaris steril ke lingkungan luar melalui proses yang lama dan melibatkan kontraksi berjam-jam.
Imbasnya, bayi pun kontak secara alami dengan mikroflora normal ibu, sehingga mikrobiota itu kemudian juga berkoloni di ususnya. Adapun mikrobiota pada saluran cerna bayi baru lahir yang memegang peran utama mengaktifkan sistem kekebalan tubuh adalah kelompok bifidobacteria dan lactobasilus.
Sebaliknya, proses persalinan dengan metode caesar dilakukan di ruangan steril. Bayi pun diambil langsung dari rahim ibu tanpa kontak dengan area rektum dan vagina ibu. Karena itu tidak ada kesempatan kontak dengan mikrobiota normal di jalan lahir.
"Padahal, mikrobiota secara normal terdapat pada vagina, usus, dan air susu ibu," sebut spesialis kebidanan dan kandungan dari Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM Jakarta dr Andon Hestiantoro SpOG.
Selain itu, untuk menghindari infeksi pascaoperasi, ibu biasanya diberi antibiotik yang disalurkan ke bayinya melalui plasenta. Dampaknya, kolonisasi bakteri baik (probiotik) di saluran cerna terhambat.
Padahal inisiasi koloni bakteri yang diperoleh bayi saat persalinan normal berpengaruh kuat pada perkembangan dan pematangan sistem kekebalannya.
Akibat tidak terjadi kontak dengan jalan lahir ibu, yang sebenarnya merupakan "modal awal" senjata ketahanan tubuh, bayi yang terlahir melalui bedah caesar lebih rentan infeksi atau alergi.
Kemudian apa yang dapat dilakukan untuk selekasnya meningkatkan mikrobiota di usus bayi? Pada bayi normal yang diberi air susu ibu (ASI), bakteri probiotik mendominasi 99 persen mikrobiota usus. Sebagai makanan terbaik bagi bayi, ASI diketahui juga mengandung bakteri probiotik di samping karbohidrat tertentu yang mendukung pertumbuhan bifidobacteria.
"Ini berarti bahwa ASI tak hanya mendukung pertumbuhan bakteri menguntungkan saja, juga menyuplainya secara langsung ke bayi," sebut Conway.
Sayangnya, tak semua bayi beruntung mendapat ASI sebagai hadiah pertama kelahirannya di dunia. Banyak bayi yang tidak bisa mendapat ASI seperti pada kasus prematur. Jika demikian, asupan probiotik bisa dilakukan melalui suplementasi dan pemberian makanan yang tepat.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Setiap bayi terlahir dengan sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna. Mikrobiota dalam usus berperan penting dalam pematangan sistem daya tahan tubuh, terutama dalam membentuk toleransi oral dan mengurangi risiko alergi.
Hal itu yang membuat kesehatan usus dan saluran cerna lainnya sangat penting diperhatikan.
Pasalnya, dua pertiga sistem kekebalan tubuh berada dalam saluran cerna.
Penelitian yang dilakukan Profesor Patricia Conway dari University of New South Wales Australia, mengungkap, bayi yang terlahir dengan metode caesar membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk mencapai mikrobiota usus yang serupa dengan bayi lahir normal.
Padahal, kurangnya mikrobiota atau bakteri baik pada saluran cerna akan berpengaruh terhadap pertahanan tubuh dari mikroorganisme jahat atau patogen.
"Akibatnya, si bayi caesar memiliki risiko lebih tinggi terhadap berbagai jenis penyakit," ungkap Conway dalam talkshow tentang metode persalinan dan pengaruhnya di Hotel Gran Melia Jakarta, baru-baru ini.
Dia memaparkan, mikrobiota diperoleh manusia secara bertahap, mulai sejak lahir dari mikrobiota ibu dan lingkungan. Sayangnya, bayi-bayi yang lahir secara caesar kurang terpapar mikroba-mikroba saat dilahirkan. Si bayi lewat persalinan caesar acap kali terpapar antibiotika pada masa awal kehidupannya.
"Ragam faktor tersebut memengaruhi pembentukan mikrobiota dan komposisinya di saluran cerna sehingga pada akhirnya berdampak pada kesehatan bayi," ujar Conway.
Saat bayi lahir, saluran cerna normal nyaris steril, bebas kuman. Pada persalinan normal, bakteri dari ibu dan lingkungan sekitar membentuk kolonisasi pada saluran cerna anak. Dalam proses persalinan alami itu, bayi berpindah dari rahim yang nyaris steril ke lingkungan luar melalui proses yang lama dan melibatkan kontraksi berjam-jam.
Imbasnya, bayi pun kontak secara alami dengan mikroflora normal ibu, sehingga mikrobiota itu kemudian juga berkoloni di ususnya. Adapun mikrobiota pada saluran cerna bayi baru lahir yang memegang peran utama mengaktifkan sistem kekebalan tubuh adalah kelompok bifidobacteria dan lactobasilus.
Sebaliknya, proses persalinan dengan metode caesar dilakukan di ruangan steril. Bayi pun diambil langsung dari rahim ibu tanpa kontak dengan area rektum dan vagina ibu. Karena itu tidak ada kesempatan kontak dengan mikrobiota normal di jalan lahir.
"Padahal, mikrobiota secara normal terdapat pada vagina, usus, dan air susu ibu," sebut spesialis kebidanan dan kandungan dari Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM Jakarta dr Andon Hestiantoro SpOG.
Selain itu, untuk menghindari infeksi pascaoperasi, ibu biasanya diberi antibiotik yang disalurkan ke bayinya melalui plasenta. Dampaknya, kolonisasi bakteri baik (probiotik) di saluran cerna terhambat.
Padahal inisiasi koloni bakteri yang diperoleh bayi saat persalinan normal berpengaruh kuat pada perkembangan dan pematangan sistem kekebalannya.
Akibat tidak terjadi kontak dengan jalan lahir ibu, yang sebenarnya merupakan "modal awal" senjata ketahanan tubuh, bayi yang terlahir melalui bedah caesar lebih rentan infeksi atau alergi.
Kemudian apa yang dapat dilakukan untuk selekasnya meningkatkan mikrobiota di usus bayi? Pada bayi normal yang diberi air susu ibu (ASI), bakteri probiotik mendominasi 99 persen mikrobiota usus. Sebagai makanan terbaik bagi bayi, ASI diketahui juga mengandung bakteri probiotik di samping karbohidrat tertentu yang mendukung pertumbuhan bifidobacteria.
"Ini berarti bahwa ASI tak hanya mendukung pertumbuhan bakteri menguntungkan saja, juga menyuplainya secara langsung ke bayi," sebut Conway.
Sayangnya, tak semua bayi beruntung mendapat ASI sebagai hadiah pertama kelahirannya di dunia. Banyak bayi yang tidak bisa mendapat ASI seperti pada kasus prematur. Jika demikian, asupan probiotik bisa dilakukan melalui suplementasi dan pemberian makanan yang tepat.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
4 Besar Penyebab Kematian Ibu Bersalin
SEMUA ibu hamil tentu ingin persalinannya lancar dan normal. Sayangnya, kadang-kadang ada yang mengalami komplikasi.
"Komplikasi ini dialami oleh sekitar 20 persen ibu hamil," sergah dr Indah Fauziah SpOG dari RS MH. Thamrin Internasional. Parahnya, hanya kurang dari 10 persen yang tertangani.
Kendalanya adalah tiga terlambat, yaitu terlambat mengenali bahaya, terlambat mengambil keputusan merujuk, dan terlambat memperoleh pelayanan yang optimal di fasilitas rujukan.
Tertinggi: Perdarahan
"Sayangnya sampai saat ini masih banyak calon ibu yang tidak mengetahui apa saja komplikasi persalinan itu dan bagaimana cara mencegahnya," sesalnya. Padahal, sebenarnya komplikasi persalinan pada ibu hamil, sejak dulu tidak banyak berubah, yaitu perdarahan, eklampsia (hipertensi), persalinan yang lama, dan infeksi.
Perdarahan bertanggung jawab atas sekitar 28 persen kematian ibu. Eklampsia (kejang akibat hipertensi) merupakan penyebab nomor dua, yaitu sebanyak 13 persen kematian ibu. "Sesungguhnya kematian karena eklampsia dapat dicegah dengan asuhan antenatal yang baik," ungkapnya.
Lebih lanjut dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menjelaskan, penyebab kematian ibu lainnya adalah infeksi, yang menjadi kontributor 10 persen kematian ibu. Sebetulnya infeksi dapat dicegah dengan melakukan pertolongan persalinan bersih dan perawatan nifas yang baik. Sedangkan persalinan lama berkontribusi sekitar 9 persen atas kematian ibu di Indonesia.
Besar kecilnya risiko terkena komplikasi dipengaruhi oleh usia, jumlah kehamilan yang sudah dialami (paritas), dan jarak waktu persalinan. Risiko ini dipengaruhi pula oleh kesehatan si ibu, status gizi, dan fasilitas kesehatan yang tersedia.
Perdarahan Pascapersalinan
Setelah persalinan pun seringkali ibu akan mengalami pendarahan. Menurut dokter kelahiran Jakarta, 2 April 1977 ini, penyebab tersering perdarahan pascapersalinan adalah atonia. Atonia adalah kegagalan rahim untuk berkontraksi segera setelah bayi dilahirkan. Pada kehamilan cukup bulan, kecepatan aliran darah yang masuk ke rahim adalah 450cc/menit. Sehingga bila perdarahan ini tidak cepat ditangani, dapat mengakibatkan kematian ibu dalam 10-15 menit persalinan akibat kehabisan darah.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan atonia rahim, antara lain peregangan rahim berlebihan. "Misalnya pada kehamilan kembar dan kehamilan dengan ketuban yang sangat banyak, kelahiran lebih dari lima kali, persalinan yang sangat cepat, dan kekurangan kalsium. Ingat kalsium sangat penting untuk kontraksi. Sisa plasenta dan gumpalan darah yang tertinggal dalam rahim, serta obat-obatan, seperti magnesium sulfat. Dan biasanya jika terjadi atonia, ibu akan diberikan obat-obatan untuk menimbulkan kontraksi. Seperti oksitosin, prostaglandin, atau ergonovine. Bila ini tidak berhasil maka akan dilakukan pengikatan pembuluh darah yang menuju ke rahim. Dan terakhir dapat dilakukan pengangkatan rahim bila cara-cara tadi tidak mampu menghentikan perdarahan," paparnya panjang lebar.
Penyebab perdarahan pascapersalinan lainnya adalah retensio plasenta (plasenta tertahan) yang derajatnya bervariasi dari mulai kegagalan plasenta untuk lahir spontan sampai dengan plasenta akreta (menembus otot rahim). Bila terdapat sisa bagian plasenta, maka penolong persalinan akan melakukan eksplorasi ke dalam rahim untuk mengeluarkan sisa plasenta tersebut, atau melakukan kuret. Risiko terjadinya plasenta akreta meningkat pada ibu dengan riwayat operasi cesar sebelumnya.
"Bila terjadi plasenta akreta, untuk menghentikan perdarahan akan dilakukan pengangkatan rahim," terangnya.
Menurut dr Indah, perdarahan pascapersalinan juga dapat disebabkan oleh robekan jalan lahir (vagina, serviks) yang dapat terjadi pada persalinan pervaginam yang berlangsung sangat cepat atau persalinan dengan bantuan alat (vakum atau forceps). Robekan bahkan bisa terjadi pada rahim, risiko lebih tinggi pada ibu dengan riwayat cesar pada kehamilan sebelumnya, bayi besar, dan persalinan dengan induksi yang tidak terpantau. Pada ibu dengan riwayat cesar pada kehamilan sebelumnya, pengawasan antenatal dan persalinan harus dilakukan oleh dokter kandungan.
Kejang Eklampsia
Kejang bisa terjadi terjadi pada pasien dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol saat persalinan. Hipertensi dapat terjadi karena kehamilan, dan akan kembali normal bila kehamilan sudah berakhir. Namun ada juga yang tidak kembali normal setelah bayi lahir. Kondisi ini akan menjadi lebih berat bila hipertensi sudah diderita ibu sebelum hamil.
"Sayangnya sampai saat ini belum diketahui penyebab hipertensi pada kehamilan. Namun risikonya meningkat pada ibu berusia kurang dari 20 dan lebih dari 35 tahun, ibu dengan riwayat penyakit ginjal, diabetes, SLE, gizi buruk, dan sosial-ekonomi yang rendah. Semakin dini usia kehamilan saat hipertensi muncul, semakin besar risiko yang dihadapi ibu," kata pehobi traveling ini.
Pada ibu dengan hipertensi, pengawasan antenatal harus dilakukan oleh dokter. Ibu akan diberikan obat penurun tekanan darah dan pencegah kejang (magnesium sulfat) saat menjelang persalinan. Bila tekanan darah terkontrol, maka persalinan dapat dilakukan normal. Namun bila pada saat bayi akan lahir, tekanan darah menjadi tidak terkontrol, persalinan akan dipercepat dengan alat (forceps atau vakum).
"Untuk tindakan operasi cesar akan dipertimbangkan bila bayi harus segera dilahirkan untuk menyelamatkan nyawa ibu atau bayi, atau bila ada penyulit untuk lahir melalui vagina," imbuhnya.
Infeksi Pascapersalinan
Dr Indah menghimbau agar ibu hamil mewaspadai infeksi yang terjadi pada organ reproduksi setelah persalinan. Biasanya terjadi 3-4 hari setelah persalinan.
Kuman yang paling sering menyebabkan infeksi adalah Gardnerella vaginalis, Streptokokkus grup B, Escherichia coli, Bacteroides, dan Mycoplasma. Gejala yang timbul adalah demam, nyeri di perut bawah dan kemaluan serta lokhia (darah nifas) yang berbau, yang dapat disertai mual dan muntah.
"Faktor risiko terjadinya infeksi adalah, ketuban pecah dini, pemeriksaan dalam terlalu sering saat persalinan, operasi cesar pada ibu dengan persalinan lama ataupun terhambat, robekan pada jalan lahir (serviks atau vagina), anemia atau kurang gizi," paparnya panjang lebar.
Untuk mencengah terjadinya infeksi, sebaiknya ibu hamil melakukan pembatasan pemeriksaan dalam, dan lakukan dengan sarung tangan yang steril. Pada ibu dengan risiko tinggi infeksi yang akan menjalani operasi cesar, berikan antibiotika 1 kali sebelum dan 1 kali setelah operasi.
"Jika terjadi infeksi pasca persalinan, dokter akan memberikan cairan infus, antibiotika dan obat-obatan untuk merangsang kontraksi rahim. Bila infeksi sangat berat, perawatan akan dilakukan di unit perawatan intensif," imbuh dr Indah.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
"Komplikasi ini dialami oleh sekitar 20 persen ibu hamil," sergah dr Indah Fauziah SpOG dari RS MH. Thamrin Internasional. Parahnya, hanya kurang dari 10 persen yang tertangani.
Kendalanya adalah tiga terlambat, yaitu terlambat mengenali bahaya, terlambat mengambil keputusan merujuk, dan terlambat memperoleh pelayanan yang optimal di fasilitas rujukan.
Tertinggi: Perdarahan
"Sayangnya sampai saat ini masih banyak calon ibu yang tidak mengetahui apa saja komplikasi persalinan itu dan bagaimana cara mencegahnya," sesalnya. Padahal, sebenarnya komplikasi persalinan pada ibu hamil, sejak dulu tidak banyak berubah, yaitu perdarahan, eklampsia (hipertensi), persalinan yang lama, dan infeksi.
Perdarahan bertanggung jawab atas sekitar 28 persen kematian ibu. Eklampsia (kejang akibat hipertensi) merupakan penyebab nomor dua, yaitu sebanyak 13 persen kematian ibu. "Sesungguhnya kematian karena eklampsia dapat dicegah dengan asuhan antenatal yang baik," ungkapnya.
Lebih lanjut dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menjelaskan, penyebab kematian ibu lainnya adalah infeksi, yang menjadi kontributor 10 persen kematian ibu. Sebetulnya infeksi dapat dicegah dengan melakukan pertolongan persalinan bersih dan perawatan nifas yang baik. Sedangkan persalinan lama berkontribusi sekitar 9 persen atas kematian ibu di Indonesia.
Besar kecilnya risiko terkena komplikasi dipengaruhi oleh usia, jumlah kehamilan yang sudah dialami (paritas), dan jarak waktu persalinan. Risiko ini dipengaruhi pula oleh kesehatan si ibu, status gizi, dan fasilitas kesehatan yang tersedia.
Perdarahan Pascapersalinan
Setelah persalinan pun seringkali ibu akan mengalami pendarahan. Menurut dokter kelahiran Jakarta, 2 April 1977 ini, penyebab tersering perdarahan pascapersalinan adalah atonia. Atonia adalah kegagalan rahim untuk berkontraksi segera setelah bayi dilahirkan. Pada kehamilan cukup bulan, kecepatan aliran darah yang masuk ke rahim adalah 450cc/menit. Sehingga bila perdarahan ini tidak cepat ditangani, dapat mengakibatkan kematian ibu dalam 10-15 menit persalinan akibat kehabisan darah.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan atonia rahim, antara lain peregangan rahim berlebihan. "Misalnya pada kehamilan kembar dan kehamilan dengan ketuban yang sangat banyak, kelahiran lebih dari lima kali, persalinan yang sangat cepat, dan kekurangan kalsium. Ingat kalsium sangat penting untuk kontraksi. Sisa plasenta dan gumpalan darah yang tertinggal dalam rahim, serta obat-obatan, seperti magnesium sulfat. Dan biasanya jika terjadi atonia, ibu akan diberikan obat-obatan untuk menimbulkan kontraksi. Seperti oksitosin, prostaglandin, atau ergonovine. Bila ini tidak berhasil maka akan dilakukan pengikatan pembuluh darah yang menuju ke rahim. Dan terakhir dapat dilakukan pengangkatan rahim bila cara-cara tadi tidak mampu menghentikan perdarahan," paparnya panjang lebar.
Penyebab perdarahan pascapersalinan lainnya adalah retensio plasenta (plasenta tertahan) yang derajatnya bervariasi dari mulai kegagalan plasenta untuk lahir spontan sampai dengan plasenta akreta (menembus otot rahim). Bila terdapat sisa bagian plasenta, maka penolong persalinan akan melakukan eksplorasi ke dalam rahim untuk mengeluarkan sisa plasenta tersebut, atau melakukan kuret. Risiko terjadinya plasenta akreta meningkat pada ibu dengan riwayat operasi cesar sebelumnya.
"Bila terjadi plasenta akreta, untuk menghentikan perdarahan akan dilakukan pengangkatan rahim," terangnya.
Menurut dr Indah, perdarahan pascapersalinan juga dapat disebabkan oleh robekan jalan lahir (vagina, serviks) yang dapat terjadi pada persalinan pervaginam yang berlangsung sangat cepat atau persalinan dengan bantuan alat (vakum atau forceps). Robekan bahkan bisa terjadi pada rahim, risiko lebih tinggi pada ibu dengan riwayat cesar pada kehamilan sebelumnya, bayi besar, dan persalinan dengan induksi yang tidak terpantau. Pada ibu dengan riwayat cesar pada kehamilan sebelumnya, pengawasan antenatal dan persalinan harus dilakukan oleh dokter kandungan.
Kejang Eklampsia
Kejang bisa terjadi terjadi pada pasien dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol saat persalinan. Hipertensi dapat terjadi karena kehamilan, dan akan kembali normal bila kehamilan sudah berakhir. Namun ada juga yang tidak kembali normal setelah bayi lahir. Kondisi ini akan menjadi lebih berat bila hipertensi sudah diderita ibu sebelum hamil.
"Sayangnya sampai saat ini belum diketahui penyebab hipertensi pada kehamilan. Namun risikonya meningkat pada ibu berusia kurang dari 20 dan lebih dari 35 tahun, ibu dengan riwayat penyakit ginjal, diabetes, SLE, gizi buruk, dan sosial-ekonomi yang rendah. Semakin dini usia kehamilan saat hipertensi muncul, semakin besar risiko yang dihadapi ibu," kata pehobi traveling ini.
Pada ibu dengan hipertensi, pengawasan antenatal harus dilakukan oleh dokter. Ibu akan diberikan obat penurun tekanan darah dan pencegah kejang (magnesium sulfat) saat menjelang persalinan. Bila tekanan darah terkontrol, maka persalinan dapat dilakukan normal. Namun bila pada saat bayi akan lahir, tekanan darah menjadi tidak terkontrol, persalinan akan dipercepat dengan alat (forceps atau vakum).
"Untuk tindakan operasi cesar akan dipertimbangkan bila bayi harus segera dilahirkan untuk menyelamatkan nyawa ibu atau bayi, atau bila ada penyulit untuk lahir melalui vagina," imbuhnya.
Infeksi Pascapersalinan
Dr Indah menghimbau agar ibu hamil mewaspadai infeksi yang terjadi pada organ reproduksi setelah persalinan. Biasanya terjadi 3-4 hari setelah persalinan.
Kuman yang paling sering menyebabkan infeksi adalah Gardnerella vaginalis, Streptokokkus grup B, Escherichia coli, Bacteroides, dan Mycoplasma. Gejala yang timbul adalah demam, nyeri di perut bawah dan kemaluan serta lokhia (darah nifas) yang berbau, yang dapat disertai mual dan muntah.
"Faktor risiko terjadinya infeksi adalah, ketuban pecah dini, pemeriksaan dalam terlalu sering saat persalinan, operasi cesar pada ibu dengan persalinan lama ataupun terhambat, robekan pada jalan lahir (serviks atau vagina), anemia atau kurang gizi," paparnya panjang lebar.
Untuk mencengah terjadinya infeksi, sebaiknya ibu hamil melakukan pembatasan pemeriksaan dalam, dan lakukan dengan sarung tangan yang steril. Pada ibu dengan risiko tinggi infeksi yang akan menjalani operasi cesar, berikan antibiotika 1 kali sebelum dan 1 kali setelah operasi.
"Jika terjadi infeksi pasca persalinan, dokter akan memberikan cairan infus, antibiotika dan obat-obatan untuk merangsang kontraksi rahim. Bila infeksi sangat berat, perawatan akan dilakukan di unit perawatan intensif," imbuh dr Indah.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Awas, Kontraksi Palsu! (Tanda-tanda Kontrasi Palsu)
UMUMNYA, pada trimester ketiga, otot-otot pada dinding rahim ibu hamil mulai berlatih kontraksi. Inilah yang disebut kontraksi palsu (braxton hicks). Terkadang, kontraksi ini terasa begitu kencang, sehingga sang ibu menduga akan mengalami proses persalinan.
Perbedaan antara kontraksi palsu dengan kontraksi sebenarnya adalah:
Kontraksi Palsu
1. Kontraksi berlangsung sementara, terjadi dengan jarak waktu tak teratur dan lama, serta tak bertambah kuat dan cepat.
2. Nyeri pada perut bagian bawah
3. Jika diberi obat penghilang rasa sakit, sakitnya akan hilang
4. Kontraksi akan hilang bila Anda berbaring atau duduk bersandar sambil menyelonjorkan kaki.
Kontraksi Sebenarnya
1. Frekuensi dan intensitas kontraksinya, makin lama makin kuat. Durasinya makin lama, makin panjang, dan intervalnya makin lama makin pendek dan disertai dengan rasa nyeri.
2. Rasa nyeri ini menjalar dari pinggang bagian belakang ke perut, dan terasa mulas seperti orang sakit perut
3. Jika diberi obat penghilang rasa sakit, sakitnya tidak akan hilang
4. Kontraksi tidak akan hilang, walaupun Anda mengubah sikap tubuh Anda.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Perbedaan antara kontraksi palsu dengan kontraksi sebenarnya adalah:
Kontraksi Palsu
1. Kontraksi berlangsung sementara, terjadi dengan jarak waktu tak teratur dan lama, serta tak bertambah kuat dan cepat.
2. Nyeri pada perut bagian bawah
3. Jika diberi obat penghilang rasa sakit, sakitnya akan hilang
4. Kontraksi akan hilang bila Anda berbaring atau duduk bersandar sambil menyelonjorkan kaki.
Kontraksi Sebenarnya
1. Frekuensi dan intensitas kontraksinya, makin lama makin kuat. Durasinya makin lama, makin panjang, dan intervalnya makin lama makin pendek dan disertai dengan rasa nyeri.
2. Rasa nyeri ini menjalar dari pinggang bagian belakang ke perut, dan terasa mulas seperti orang sakit perut
3. Jika diberi obat penghilang rasa sakit, sakitnya tidak akan hilang
4. Kontraksi tidak akan hilang, walaupun Anda mengubah sikap tubuh Anda.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Tanda-tanda Persalinan
NYERI, tegang, plus mula-mulas. Ups, jangan-jangan saat persalinan Anda sudah dekat. Jangan panik dulu, punya pengetahuan mengenai tanda-tanda persalinan jelas sangat membantu. Namun, begitu, tidak semua wanita hamil akan melewati merasakan pengalaman yang sama saat melahirkan.
Menurut dr Febriansyah Darus SpOG, setiap persalinan itu dimulai dengan adanya tanda dan gejala. Misalnya saja, jika persalinan itu dirasakan sudah dekat, awalnya si ibu hamil akan merasa ada yang mengganjal di daerah pangkal paha (selangkangan). "Misalnya, sewaktu dia berjalan atau duduk, di selangkangannya seperti ada yang mengganjal. Dan di bagian ulu hatinya sudah mulai kosong," dokter yang berpraktek di RSIA Hermina Jatinegara ini mengawali.
Ia melanjutkan, banyak wanita yang mulai merasakan tanda-tanda dan gejala-gejala persalinan sehari sebelum sang bayi benar-benar lahir. Tapi, ada pula yang merasakan kondisi tersebut seminggu sebelum bayi lahir. Apalagi jika Anda seorang calon ibu untuk pertama kalinya, tak menutup kemungkinan tanda dan gejala persalinan dirasakan beberapa minggu sebelum persalinan yang sebenarnya.
Keluarnya Lendir
Kelahiran biasanya akan dimulai dengan pelunakan leher rahim. Ketika hal ini terjadi, leher rahim mulai membesar, sejumlah lendir akan menyumbat menutupi leher rahim dan kehamilan Anda akan segera berakhir.
Dokter kelahiran Palembang, 6 Februari 1976 ini menjelaskan, dalam medis, tanda-tanda inpartu (proses persalinan) pertama kali ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah yang keluar dari vagina.
"Dalam mulut rahim itu ada yang namanya cervical plug (sumbat). Nah, pada saat mulai persalinan, mulut rahim mulai terbuka. Dalam keadaan terbuka itulah, sumbatnya keluar, dan bercampur dengan darah," papar ayah dari dua anak ini.
Cairan berwarna kemerahan atau kecoklatan mungkin saja akan muncul. Ini disebut perdarahan. Meskipun hal ini dapat disimpulkan bahwa kelahiran akan segera terjadi, tetapi perdarahan bisa terjadi pada beberapa minggu sebelum kelahiran yang sesungguhnya. Oleh karena itu, tanda-tanda ini tidak dapat dijadikan satu-satunya tanda dan gejala persalinan.
Pecah Ketuban
Tanda lain yang menyertai persalinan adalah pecahnya ketuban. Janin dibungkus oleh selaput ketuban (korioamnion). Di dalamnya, terdapat cairan ketuban yang merupakan bantalan (bemper) bagi janin. Jika ketuban telah pecah, maka Anda dapat menduga bahwa persalinan akan terjadi dalam waktu 24 jam.
Ketika ketuban pecah, biasanya kontraksi akan terjadi lebih intensif, dan bayi akan semakin dekat ke arah pelebaran rahim. Jika Anda mengalami pecah ketuban di rumah, ingatlah kapan kejadian ini berlangsung, konsistensi dan jumlah cairan ketuban yang telah keluar.
Cairan ketuban pada umumnya berwarna bening dan tidak berbau, dan akan terus keluar sampai pada saat Anda melahirkan. Dokter akan meminta Anda untuk menjaga vagina bebas dari benda-benda asing untuk menjaga risiko terjadinya infeksi.
Selain itu, pecah ketuban bisa juga terjadi karena trauma, infeksi, karena locus minoris (bagian tipis ketuban) berlubang dan pecah. Jika ketuban sudah pecah, berarti janin sudah kontak dengan dunia luar. Akibatnya, kuman bisa masuk. Karena itu, tak boleh menunggu terlalu lama. Hanya boleh paling lama 12 jam, setelah itu harus dilakukan tindakan untuk mengeluarkan janin.
Belum Mulas Tapi Sudah Pecah Ketuban
Nah, yang perlu Anda perhatikan, jika belum mulas, tapi sudah pecah ketuban. Ini bukan keadaan normal. Anda harus segera ke rumah sakit.
"Kita lihat dulu, kalau pembukaannya sudah besar, biasanya kita rangsang supaya janinnya keluar. Tapi kalau hamil belum cukup bulan, sudah pecah ketuban, biasanya kita lihat, kalau tidak ada tanda-tanda infeksi, bayinya akan kita matangkan terus, kita pertahankan supaya dia bisa lahir cukup bulan," terang suami dari dr Margareta Komalasari ini.
Frekuensi dan Intensitas Kontraksi
Setelah pecah ketuban, lanjut Febriansyah, biasanya wanita hamil yang akan segera melahirkan akan merasakan mulas-mulas. Kontraksi ini makin lama makin teratur. Hal ini merupakan sebuah tanda persalinan yang nyata, dan berarti bayi Anda akan segera lahir.
Kontraksi mengawali sebuah proses yang mendorong bayi Anda keluar secara perlahan-lahan melalui uterus bawah, sehingga kelahiran menjadi semakin dekat. Kontraksi ini dimulai dari puncak rahim, menjalar turun ke arah paha bawah. Yang dinilai dari rasa mulas itu, menurut pehobi nonton dan gym ini adalah frekuensi kontraksi dalam 10 menit.
"Pertama kali kontraksi, si ibu hanya merasakan mulas satu sampai dua kali. Nanti, menjelang persalinan rasa mulas itu akan semakin bertambah. Dalam 10 menit, si ibu bisa merasakan mulas 4-5 kali," jelas dr. Febriansyah.
Tidak hanya frekuensi yang bertambah, intensitas kontraksi juga semakin meningkat. Intensitas kontraksi ini diukur dalam satuan detik.
"Awalnya, setiap kontraksi durasinya kurang dari 20 detik. Tapi, semakin dekat ke proses persalinan, kontraksinya semakin kencang, bisa 40 detik dalam setiap kontraksi," papar Febriansyah.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Menurut dr Febriansyah Darus SpOG, setiap persalinan itu dimulai dengan adanya tanda dan gejala. Misalnya saja, jika persalinan itu dirasakan sudah dekat, awalnya si ibu hamil akan merasa ada yang mengganjal di daerah pangkal paha (selangkangan). "Misalnya, sewaktu dia berjalan atau duduk, di selangkangannya seperti ada yang mengganjal. Dan di bagian ulu hatinya sudah mulai kosong," dokter yang berpraktek di RSIA Hermina Jatinegara ini mengawali.
Ia melanjutkan, banyak wanita yang mulai merasakan tanda-tanda dan gejala-gejala persalinan sehari sebelum sang bayi benar-benar lahir. Tapi, ada pula yang merasakan kondisi tersebut seminggu sebelum bayi lahir. Apalagi jika Anda seorang calon ibu untuk pertama kalinya, tak menutup kemungkinan tanda dan gejala persalinan dirasakan beberapa minggu sebelum persalinan yang sebenarnya.
Keluarnya Lendir
Kelahiran biasanya akan dimulai dengan pelunakan leher rahim. Ketika hal ini terjadi, leher rahim mulai membesar, sejumlah lendir akan menyumbat menutupi leher rahim dan kehamilan Anda akan segera berakhir.
Dokter kelahiran Palembang, 6 Februari 1976 ini menjelaskan, dalam medis, tanda-tanda inpartu (proses persalinan) pertama kali ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah yang keluar dari vagina.
"Dalam mulut rahim itu ada yang namanya cervical plug (sumbat). Nah, pada saat mulai persalinan, mulut rahim mulai terbuka. Dalam keadaan terbuka itulah, sumbatnya keluar, dan bercampur dengan darah," papar ayah dari dua anak ini.
Cairan berwarna kemerahan atau kecoklatan mungkin saja akan muncul. Ini disebut perdarahan. Meskipun hal ini dapat disimpulkan bahwa kelahiran akan segera terjadi, tetapi perdarahan bisa terjadi pada beberapa minggu sebelum kelahiran yang sesungguhnya. Oleh karena itu, tanda-tanda ini tidak dapat dijadikan satu-satunya tanda dan gejala persalinan.
Pecah Ketuban
Tanda lain yang menyertai persalinan adalah pecahnya ketuban. Janin dibungkus oleh selaput ketuban (korioamnion). Di dalamnya, terdapat cairan ketuban yang merupakan bantalan (bemper) bagi janin. Jika ketuban telah pecah, maka Anda dapat menduga bahwa persalinan akan terjadi dalam waktu 24 jam.
Ketika ketuban pecah, biasanya kontraksi akan terjadi lebih intensif, dan bayi akan semakin dekat ke arah pelebaran rahim. Jika Anda mengalami pecah ketuban di rumah, ingatlah kapan kejadian ini berlangsung, konsistensi dan jumlah cairan ketuban yang telah keluar.
Cairan ketuban pada umumnya berwarna bening dan tidak berbau, dan akan terus keluar sampai pada saat Anda melahirkan. Dokter akan meminta Anda untuk menjaga vagina bebas dari benda-benda asing untuk menjaga risiko terjadinya infeksi.
Selain itu, pecah ketuban bisa juga terjadi karena trauma, infeksi, karena locus minoris (bagian tipis ketuban) berlubang dan pecah. Jika ketuban sudah pecah, berarti janin sudah kontak dengan dunia luar. Akibatnya, kuman bisa masuk. Karena itu, tak boleh menunggu terlalu lama. Hanya boleh paling lama 12 jam, setelah itu harus dilakukan tindakan untuk mengeluarkan janin.
Belum Mulas Tapi Sudah Pecah Ketuban
Nah, yang perlu Anda perhatikan, jika belum mulas, tapi sudah pecah ketuban. Ini bukan keadaan normal. Anda harus segera ke rumah sakit.
"Kita lihat dulu, kalau pembukaannya sudah besar, biasanya kita rangsang supaya janinnya keluar. Tapi kalau hamil belum cukup bulan, sudah pecah ketuban, biasanya kita lihat, kalau tidak ada tanda-tanda infeksi, bayinya akan kita matangkan terus, kita pertahankan supaya dia bisa lahir cukup bulan," terang suami dari dr Margareta Komalasari ini.
Frekuensi dan Intensitas Kontraksi
Setelah pecah ketuban, lanjut Febriansyah, biasanya wanita hamil yang akan segera melahirkan akan merasakan mulas-mulas. Kontraksi ini makin lama makin teratur. Hal ini merupakan sebuah tanda persalinan yang nyata, dan berarti bayi Anda akan segera lahir.
Kontraksi mengawali sebuah proses yang mendorong bayi Anda keluar secara perlahan-lahan melalui uterus bawah, sehingga kelahiran menjadi semakin dekat. Kontraksi ini dimulai dari puncak rahim, menjalar turun ke arah paha bawah. Yang dinilai dari rasa mulas itu, menurut pehobi nonton dan gym ini adalah frekuensi kontraksi dalam 10 menit.
"Pertama kali kontraksi, si ibu hanya merasakan mulas satu sampai dua kali. Nanti, menjelang persalinan rasa mulas itu akan semakin bertambah. Dalam 10 menit, si ibu bisa merasakan mulas 4-5 kali," jelas dr. Febriansyah.
Tidak hanya frekuensi yang bertambah, intensitas kontraksi juga semakin meningkat. Intensitas kontraksi ini diukur dalam satuan detik.
"Awalnya, setiap kontraksi durasinya kurang dari 20 detik. Tapi, semakin dekat ke proses persalinan, kontraksinya semakin kencang, bisa 40 detik dalam setiap kontraksi," papar Febriansyah.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Mempersiapkan Persalinan
SENAM hamil merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan persalinan yang normal. Dengan begitu, bumil setidaknya sudah punya gambaran akan seperti apa proses melahirkan yang akan dijalaninya, sehingga ia tidak kaku atau kaget.
Menurut dokter spesialis kandungan dari Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ), dr Eddy Purwanta SpOG, kalau sejak awal sudah tidak mungkin melakukan persalinan normal (misalkan harus operasi caesar karena panggul ibu terlalu sempit), maka senam hamil mungkin tidak begitu diperlukan.
"Fokusnya kan memang untuk persalinan normal, tapi kalau untuk tujuan kenyamanan tidak masalah kalau ibu mau ikut. Ada segi positif dan manfaatnya untuk kesehatan ibu dan bayi. Jadi pilihan ada pada ibu," katanya.
Pegal-pegal dan rasa tidak nyaman adalah hal yang paling sering dikeluhkan ibu hamil. Hal tersebut wajar sebagai akibat perubahan fisik dan hormonal selama masa kehamilan. Ditambah lagi beban yang harus ditopang ibu kian hari kian berat seiring pertumbuhan janin dalam rahimnya.
"Senam hamil juga bisa mengurangi keluhan-keluhan tersebut, melatih otot dasar panggul, pernapasan dan memperlancar sirkulasi darah ibu-bayi yang mengalir melalui ari-ari sehingga mendukung tumbuh kembang bayi di dalam rahim," tuturnya.
Senam hamil baru boleh dilakukan di atas usia kehamilan 7 bulan hingga menjelang persalinan. Kalau dilakukan sebelum usia tersebut, dikhawatirkan menyebabkan kontraksi yang bisa mengarah pada keguguran. "Pada usia 7 bulan, selain janinnya sudah cukup mature, posisinya juga sudah mantap dan diharapkan kepala bayi sudah ada di bawah," kata Fahriah, bidan sekaligus instruktur senam hamil di RSIJ.
Fahriah menambahkan, biasanya ibu yang datang untuk senam hamil itu mengeluh letak bayinya tidak bagus, padahal dia ingin melahirkan normal. "Ibu yang ikut senam hamil berarti dia ingin ibu dan bayinya sejahtera. Pada saat senam hamil, kami juga menginformasikan bahwa ketika usia kehamilan sudah mencapai 36 atau 38 minggu dianjurkan agar ibu dan suaminya bersiap-siap. Artinya, selain mental juga pakaian bayi, pakaian ibu, termasuk pembalut, pakaian dalam, gurita, dan kain," paparnya.
Ibu hamil dianjurkan melakukan senam seminggu dua kali, atau bisa juga setiap hari di rumah setelah bangun tidur dan menjelang tidur. Namun, saat pertama kali sebaiknya memakai instruktur untuk memantau gerakannya apakah sudah betul atau salah. "Akibat gerakan yang salah, bisa-bisa badan malah jadi tidak enak," ujar wanita yang sudah menjalani profesinya selama 20 tahun ini.
Senam hamil dilakukan tahap demi tahap dengan durasi satu jam untuk sekali pertemuan. Untuk latihan pertama kali biasanya belajar duduk dan sikap yang baik, pernapasan perut, dada, dan iga.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Menurut dokter spesialis kandungan dari Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ), dr Eddy Purwanta SpOG, kalau sejak awal sudah tidak mungkin melakukan persalinan normal (misalkan harus operasi caesar karena panggul ibu terlalu sempit), maka senam hamil mungkin tidak begitu diperlukan.
"Fokusnya kan memang untuk persalinan normal, tapi kalau untuk tujuan kenyamanan tidak masalah kalau ibu mau ikut. Ada segi positif dan manfaatnya untuk kesehatan ibu dan bayi. Jadi pilihan ada pada ibu," katanya.
Pegal-pegal dan rasa tidak nyaman adalah hal yang paling sering dikeluhkan ibu hamil. Hal tersebut wajar sebagai akibat perubahan fisik dan hormonal selama masa kehamilan. Ditambah lagi beban yang harus ditopang ibu kian hari kian berat seiring pertumbuhan janin dalam rahimnya.
"Senam hamil juga bisa mengurangi keluhan-keluhan tersebut, melatih otot dasar panggul, pernapasan dan memperlancar sirkulasi darah ibu-bayi yang mengalir melalui ari-ari sehingga mendukung tumbuh kembang bayi di dalam rahim," tuturnya.
Senam hamil baru boleh dilakukan di atas usia kehamilan 7 bulan hingga menjelang persalinan. Kalau dilakukan sebelum usia tersebut, dikhawatirkan menyebabkan kontraksi yang bisa mengarah pada keguguran. "Pada usia 7 bulan, selain janinnya sudah cukup mature, posisinya juga sudah mantap dan diharapkan kepala bayi sudah ada di bawah," kata Fahriah, bidan sekaligus instruktur senam hamil di RSIJ.
Fahriah menambahkan, biasanya ibu yang datang untuk senam hamil itu mengeluh letak bayinya tidak bagus, padahal dia ingin melahirkan normal. "Ibu yang ikut senam hamil berarti dia ingin ibu dan bayinya sejahtera. Pada saat senam hamil, kami juga menginformasikan bahwa ketika usia kehamilan sudah mencapai 36 atau 38 minggu dianjurkan agar ibu dan suaminya bersiap-siap. Artinya, selain mental juga pakaian bayi, pakaian ibu, termasuk pembalut, pakaian dalam, gurita, dan kain," paparnya.
Ibu hamil dianjurkan melakukan senam seminggu dua kali, atau bisa juga setiap hari di rumah setelah bangun tidur dan menjelang tidur. Namun, saat pertama kali sebaiknya memakai instruktur untuk memantau gerakannya apakah sudah betul atau salah. "Akibat gerakan yang salah, bisa-bisa badan malah jadi tidak enak," ujar wanita yang sudah menjalani profesinya selama 20 tahun ini.
Senam hamil dilakukan tahap demi tahap dengan durasi satu jam untuk sekali pertemuan. Untuk latihan pertama kali biasanya belajar duduk dan sikap yang baik, pernapasan perut, dada, dan iga.
Sumber: www.lifestyle.okezone.com
Langganan:
Postingan (Atom)
