Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 November 2012

Sanitasi Pengelolaan Pestisida

Aspek Lingkungan Tempat Pengelolaan Pestisida

Sebagai praktisi Kesehatan lingkungan, salah satu jenis pestisida yang familier adalah pestisida hygiene lingkungan. Pestisida ini merupakan pestisida yang digunakan untuk pemberantasan vektor penyakit menular (serangga, tikus) atau untuk pengendalian hama di rumah-rumah, pekarangan, tempat kerja, tempat umum lain, termasuk sarana angkutan dan tempat penyimpanan/pergudangan. Dan aplikasi dari jenis pestisida ini kita mengenalnya dengan foggig, thermal fog, atau kegiatan dan istilah lainyya terkait pemberantasan vektor secara kimia.

Terkait dengan penggunaan pestisida, beberapa dasar hukum pengelolaan Pestisida yang kita kenal, antara lain :
  1. Peraturan Pemerintah Nomor : 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran, Penyimpanan, dan Penggunaan Pestisida
  2. Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 280/Kpts/Um/6/1973 tentang Prosedur Permohonan Pendaftaran dan Izin Pestisida.
  3. Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 24/Permentan/SR.140/4/2011 Tentang Syarat dan Tatacara Pendaftaran Pestisida 
  4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor   :  258/MENKES/PER/III/1992 Tentang Persyaratan Kesehatan Pengelolaan Pestisida
  5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor : PER-03/MEN/1986 tentang Syarat-syarat Keselamatan dan Kesehatan Tempat Kerja yang mengelola pestisida.
  6. Keputusan Menteri Pertanian No. 949 Tahun 1998 Tentang : Pestisida Terbatas
Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor   :  258/MENKES/PER/III/1992 terdapat dua jenis penggololngan, yaitu Pestisida dan Pestisida hygiene lingkungan. Yang dimaksud dengan Pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk :
  • Memberantas atau mencegah hama-hama  dan penyakit-penyakit yang merusak tanaman; bagian-bagian tanaman, atau hasil-hasil pertanian;
  • Memberantas rerumputan;
  • Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman tidak termasuk pupuk;
  • Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan;
  • Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan-hewan piaraan dan ternak;
  • Memberantas atau mencegah hama-hama air;
  • Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam rumah tangga, bangunan dan dalam alat-alat pengangkutan;
  • Memberantas atau mencegah binatang-binatang termasuk serangga yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi dengan penggunaan pada tanaman, tanah atau air;
Regulasi dan pengaturan teknis penggunaan pestisida memang harus sedemikian detail, mengingat dampak pengunaan pestisida ini. Berbagai komponen yang terlibat dalam tata kelola Pestisida beresiko terpapar pestisida. Misalnya petani, tenaga kerja toko penjual pestisida merupakan kelompok tenaga kerja yang berisiko mengalami keracunan akibat paparan pestisida. Paparan pestisida ke petani terjadi apabila petani bekerja dengan tidak memperhatikan aspek keselamatan dan Kesehatan kerja, seperti menggunakan alat bantu kerja yang baik dan selalu menggunakan alat pelindung diri pada saat petani melakukan pencampuran bahan aktif dengan air, pengadukan dan penyemprotan pestisida pada tanaman.

Terjadinya keracunan pestisida sangat berpotensi terjadi pada petani atau petugas pengelola (Toko) Pestisida.  Keracunan baik pada  tingkat ringan atau sedang sangat terkait dengan frekuensi penyemprotan atau dengan potensi terpapar melalui kontak dengan pestisida selama jam kerja (pada tenaga kerja toko penjual pestisida). Proses ini dapat terjadi dan berlangsung misalnya pada saat pestisida diterima dari distributor, pada saat pengangkutan dari kendaraan ke gudang penyimpanan, penataan dan penyusunan di rak atau etalase, memperbaiki atau mengganti pembungkus yang rusak, memformulasikan dan membuat kemasan pestisida dalam ukuran kecil, pada saat membersihkan gudang, toko dan selama tenaga kerja tersebut berada dalam lingkungan udara tempat kerja yang terkontaminasi oleh pestisida. Selain faktor lingkungan, terjadinya keracunan pestisida juga dimungkan karena faktor perilaku pekerja.

Perilaku yang tidak aman merupakan faktor penyebab utama timbulnya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Berdasarkan statistik, lebih dari 80% kecelakaan dan penyakit akibat kerja terjadi karena adanya perilaku yang tidak aman. Kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat terjadi karena kondisi lingkungan yang tidak aman (unsafe condition) dan karena perilaku yang tidak aman (unsafe act). Kedua kondisi tersebut secara sendiri-sendiri maupun bersamaan akan dapat menimbulkan kerugian berupa kecelakaan ataupun penyakit akibat kerja (Heinrich, 1980).

Menurut WHO,  kondisi lingkungan yang tidak aman pada toko penjual pestisida dapat dihindari dengan melakukan pengendalian lingkungan. Prinsip pengendalian lingkungan kerja pengelolaan pestisida antara lain meliputi penataan sistem ventilasi yang baik, housekeeping dan maintenance. Sistem ventilasi yang baik pada suatu tempat kerja akan menjamin kesegaran dan kebersihan udara tempat kerja sehingga memberikan kenyamanan dalam bekerja dan memberikan rasa aman dan sehat bagi tenaga kerja yang berada di dalamnya karena ia mampu menghilangkan atau mengurangi kontaminasi yang ada dalam udara dan menggantikanya dengan udara yang bersih (ILO, 1991).

Aspek Sistem Ventilasi
Kondisi udara perlu di tata secara optimal agar memberikan kondisi yang nyaman, aman dan sehat untuk bekerja. Dan salah satu tujuan dibuatnya fasiltas ventilasi untuk menciptakan suasana dimaksud. Ventilasi digunakan untuk memberikan kondisi dingin atau panas serta kelembaban di tempat Kerja. Fungsi lain ventilasi untuk mengurangi konsentrasi debu dan gas-gas yang dapat menyebabkan keracunan, kebakaran dan peledakan.

Secara prinsip sistem kerja ventilasi adalah menggerakan udara kotor di tempat kerja, kemudian menggantikannya dengan udara yang bersih. Sistem ventilasi merupakan hal pokok dalam upaya penyehatan udara lingkungan kerja. Jika ventilasi dibuat dengan standar dan berfungsi baik maka paparan bahan beracun pada tenaga kerja dapat dihindari atau minimal dikurangi.

Aspek Housekeeping
Housekeeping atau kebersihan dan pemeliharaan ketatarumahtanggaan merupakan hal yang penting dalam upaya menciptakan lingkungan kerja yang selamat dan sehat.

Aspek Maintenance
Menurut ILO (1991), maintenance diartikan sebagai upaya perawatan dengan cara perbaikan dan atau menggantikan bagian yang rusak dari suatu fasilitas baik yang berhubungan dengan kegiatan produksi, bangunan dan fasilitas lainnya agar sesuai dengan standar penggunaannya. Perawatan atau menjaga dan perbaikan suatu peralatan sebelum alat tersebut mengalami kerusakan. Maintenance dapat dilakukan melalui upaya secara periodik atau disebut sebagai periodic inspection and checking maupun inspeksi secara menyeluruh agar diketahui kesalahan dan kerusakan lebih awal.

Housekeeping dan maintenance meru pakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan dan keduanya saling mendukung. Bagaimana suatu tempat kerja dapat tertata dengan baik dan bersih bila upaya perawatan atau maintenance di tem pat kerja tersebut tidak dapat di jalankan dengan baik. Sebagai ilustrasi bagaimana housekeeping mengenai kebersihan suatu lantai kerja dapat tercapai bila kebocoran pada atap tempat kerja tidak segera di atasi melalui upaya maintenance, setiap hujan lantai akan menjadi basah dan kotor sehingga mengganggu kelancaran kerja bahkan dapat menjadi penyebab terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 258/MENKES/PER/III/1992 Tentang Persyaratan Kesehatan Pengelolaan Pestisida (Pasal 6), disebutkan bahwa :
  1. Tempat Pembuatan dan Penyimpanan pestisida harus memenuhi persyaratan Kesehatan;
  2. Persyaratan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mengenai lokasi, bangunan, kontruksi fasilitas sanitasi dan tata ruang/letak serta sarana lain yang diperlukan untuk pengamanannya.
  3. Pestisida yang disajikan dalam  ruang penjualan atau dalam pengangkutan harus memenuhi persyaratan Kesehatan untuk menghindarkan gangguan Kesehatan dan atau pencemaran lingkungan.
  4. Ketentuan persyaratan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan (3) ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
Sesuai Keputusan Dirjen P2M dan PLP Nomor : 32 tahun 1993 tentang Persyaratan Kesehatan Tempat Pembuatan, Penyimpanan, Penyajian dan Pengangkutan Pestisida, diatur tentang tata letak dan fasilitas- fasilitas yang harus dilengkapi agar mudah untuk dibersihkan dan diatur sedemikian rupa sehingga dapat menjamin keselamatan dan Kesehatan tenaga kerja.


Toko penjual pestisida merupakan tempat untuk menyimpan pestisida sekalian juga tempat meyajikan pestisida untuk itu perlu diketahui beberapa persyaratan tentang hal tersebut. Persyaratan Kesehatan tempat penyimpanan pestisida adalah sebagai berikut :

Lokasi: Lokasi berada di tempat bebas banjir di daerah atau kawasan industri, memiliki jarak aman dari pemukiman dan mudah dijangkau oleh kendaraan pengangkut, pemadam kebakaran dan ambulan.

Kontruksi bangunan: Lantai bangunan harus kedap air dan mudah dibersihkan, bagian luar dilapisi sekat kedap air setinggi 15 cm. Pelataran kedap air dan dikelilingi oleh parit. Langit-langit dan atap terbuat dari bahan yang ringan, mudah pecah oleh panas serta tidak tembus cahaya. Dilengkapi dengan penghisap debu, terdapat pintu darurat. Bahan bangunan tidak mudah terbakar serta pemasangan instalasi listrik harus bebas dari bahaya kebakaran.

Fasilitas sanitasi: Tersedia tempat air bersih, instalasi pengolahan air limbah, satu kakus untuk 20 tenaga kerja. Kamar mandi dilengkapi dengan shower, tempat cuci tangan dilengkapi dengan sabun dan lap. Pembersih lantai dilengkapi dengan absorbent dan bahan kimia penetralisasi. Tersedia tempat sampah domestik dan khusus pestisida.

Tata ruang: Harus tersedia tempat khusus untuk : 1) menyimpan pestisida; 2) kantor; 3) tempat ganti pakaian; 4) ruang istirahat; 5) ruang makan; 6) tempat menyimpan bahan baku pestisida; 7) tempat menyimpan bahan pestisida yang sudah diproses.

Tata letak: Setiap pestisida di letakan sesuai dengan sifat kimianya, pintu masuk tempat pestisida harus berhubungan langsung dengan ruang khusus lalulintas karyawan dan barang. Pintu utama harus berhubungan langsung dengan bagian luar. Ruangan khusus untuk perubahan atau perbaikan kemasan tidak dibenarkan dekat dengan pintu utama dan ruang kantor harus dipisah dengan ruangan tempat pestisida.

Tata cara penyimpanan: Setiap barang yang masuk ke gudang harus melalui pemeriksaan agar dapat disimpan secara aman. Bahan makanan, tekstil dan barang sejenis lainya dilarang diletakan di tempat pestisida. Setiap kemasan pestisida tidak boleh diletakan langsung diatas lantai, seperti : 1) kemasan berat (drum, bag dan boxis) diletakan atau disusun diatas balok kayu atau pallet; 2) kemasan kecil letakan atau disusun dalam rak. Tinggi rak masimal 2 meter dan jarak dari atap gudang minimal 1 meter. Sirkulasi barang dengan sistem FIFO (first in first out). Standar jarak rak penyimpanan adalah 5 cm dari dinding, 15 cm dari lantai dan 60 cm dari langit-langit.

Tata cara istirahat: Setiap orang dilarang berada dalam gudang pestisida selama waktu istirahat, makan dan minum, merokok dan kegiatan lainnya yang tidak berkaitan dengan kegiatan penyimpanan barang.

Standar dan persyaratan tempat penyajian pestisida adalah sebagai berikut :

Konstruksi ruangan: Konstruksi diatur sedemikian rupa sehingga memberikan kemudahan dalam pelayanan terhadap pembeli, mudah dibersihkan, luas ventilasi minimal 20 % luas lantai dan pencahayaan minimal 200 lux.

Tata letak: Setiap jenis (nama dagang) pestisida tidak boleh di sajikan erlalu banyak dalam ruang penjualan, disajikan dalam rak atau lemari dengan tinggi maksimal 2 meter dan tidak boleh langsung diatas lantai. Pestisida yang sangat berbahaya diletakakn dalam lemari kaca terkunci. Tiap jenis pestisida harus jelas batas pemisahannya. Bahan makanan dan obat-obatan tidak boleh didekatkan penyajianya.

Wadah: Penjualan pestisida tidak boleh dilakukan dengan cara membuka, merubah atau menukar wadah aslinya.

Sarana lain: Sarana lain yang harus dimiliki : 1) alat pemadam kebakaran;2) alat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun dan lap; 3) kakus dan kamar mandi.

Refference, antara lain :
  • Control Technology For The Formulation and Packing of Pesticide (WHO. 1992)
  • Industrial Accident Prevention (Heinrich, H.W. 1980)
  • Encylopaedia of Occupational Health and Safety (ILO, 1991)

Rabu, 31 Oktober 2012

Epidemiologi Demam Berdarah

Tinjauan Aspek Lingkungan pada Vektor DHF

Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit infeksi virus yang dibawa melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Tanda-tanda umum demam berdarah antara lain diitandai demam yang bersifat bifasik selama 2-7 hari dan adanya manifestasi pendarahan. Haemorraghic Fever atau demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang menjadi masalah serius kita. Penyakit ini masih sering menimbulkan KLB, juga kematian.

Demam Berdarah Dengue disebabkan virus yang termasuk kelompok B Arthropod Borne Virus (Arbovirosis) dalam genus Flavivirus. Secara epidemiologi terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus dengue, yaitu manusia, virus, dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Selain Eedes aegypti, keberadaan nyamuk Aedes albopictus, Aedes polynesiensis dapat berperan sebagi vector.  Pada Aedes dapat mengandung virus dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia. Kemudian virus yang ada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya.

Virus dalam tubuh nyamuk betina dapat ditularkan kepada telurnya (transovarian transmission), namun perannya dalam penularan virus tidak penting. Sekali virus dapat masuk dan berkembang biak di dalam tubuh nyamuk, nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama hidupnya (infektif).

Di dalam tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4-6 hari (intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari manusia kepada nyamuk hanya dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul.

Manusia merupakan pembawa utama virus dengue. Berdasarkan beberapa penelitian, perbaikan transportasi yang disertai perpindahan orang dan barang yang cepat dari daerah dengue ke daerah nondengue atau sebaliknya. Kepadatan penduduk dapat mempermudah transmisi virus dengue karena sifat multiple-bitting dari virus

Aspek Lingkungan Pada Penyebaran Vektor DBD
Sebagian Habitat Aedes Aegipty

Aspek Cuaca dan Iklim
Pola berjangkit infeksi virus dengue dipengaruhi oleh iklim dan kelembaban udara. Pada suhu yang panas (28-320C) dengan kelembaban yang tinggi, nyamuk Aedes akan tetap bertahan hidup untuk jangka waktu yang lama.

Ditengarai, aenyebaran Aedes aegypti di pedesaan akhir-akhir ini sangat terkait dengan pengembangan sistem penyediaan air bersih pedesaan dan sistem transportasi yang lebih baik.

Selain itu curah curah hujan lebih dari 200 cm per tahun, menjadikan populasi Aedes aegypti di perkotaan, semi perkotaan dan pedesaan lebih stabil. Menurut data WHO (2003), urbanisasi cenderung meningkatkan jumlah habitat yang cocok untuk Aedes agypti. Di beberapa kota yang banyak pepohonan, Aedes aegypti dan Aedes albopictus hidup bersamaan, namun pada umumnya Aedes aegypti lebih dominan, tergantung pada keberadaan dan jenis habitat jentik serta tingkat urbanisasi

Curah hujan dapat menambah jumlah tempat breading places atau dapat pula menghilangkan tempat perindukan. Curah hujan dapat juga berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban nisbi udara. Curah hujan 140 mm/minggu dapat menghambat berkembangbiaknya nyamuk. Curah hujan tinggi juga dimungkinkan menyebabkan hilangnya tempat perindukan vektor karena terbawa aliran air.

Berdasarkan aspek suhu, walaupun nyamuk dapat bertahan hidup pada suhu rendah, namun kemampuan proses metabolism nyamuk menurun atau bahkan terhenti bila suhu udara turun sampai dibawah suhu kritis. Pada suhu diatas 35C berdampak pada proses fisiologis nyamuk. Sedangkan suhu optimum rata-rata pertumbuhan nyamuk antara 25C - 27C. Pertumbuhan nyamuk akan terhenti sama sekali pada suhu kurang dari 10C atau lebih dari 40C. Sementara untuk proses pertumbuhan jentik memerlukan suhu antara 25C - 30C.

Sementara berdasarkan aspek kelembaban udara, merupakan faktor penting dalam pertumbuhan nyamuk. Kelembaban optimal yang diperlukan untuk pertumbuhan nyamuk antara 60% sampai 80%. Jika keadaan suhu udara dan kelembaban yang optimal, umur nyamuk dapat mencapai satu bulan (umur nyamuk Aedes aegypti betina rata-rata 10 hari). Fakroe kelembapan secara tidak langsung dapat berpengaruh terhadap umur nyamuk. Misalnya pada kelembaban tinggi menyebabkan nyamuk cepat payah sehingga dapat menyebabkan kematian. Sedangkan pada kelembaban kurang dari 60% umur nyamuk akan menjadi pendek.

Asepek Ketinggian
Menurut WHO (2003), berdasarkan penelitian, aspek ketinggian merupakan faktor penting yang membatasi penyabaran Aedes aegypti. Misalnya pada dataran rendah (kurang dari 500 meter) tingkat populasi nyamuk dari sedang hingga tinggi, sementara di daerah pegunungan (lebih dari 500 meter) populasinya rendah. Di negara-negara Asia Tenggara ketinggian 1000 sampai 1500 meter merupakan batas penyebaran Ae.aegypti. Dibelahan dunia lain, nyamuk tersebut di temukan di daerah yang lebih tinggi seperti di temukan pada ketinggian 2200 meter di Kolumbia

Aspek Kecepatan Angin
Kecepatan angin cecara tidak langsung dapat berpengaruh terhadap kelembaban dan suhu udara. Juga dapat berpengaruh pada jarak terbang nyamuk. Sebagaimana diketahui, jarak terbang nyamuk betina rata-rata 40 meter, dengan jarak terbang maksimal 100 meter. Namun jarang terbang secara pasiv dapat lebih jauh sehingga berpengaruh pada proses penyebaran DBD secara kewilayahan.

Aspek Lingkungan Biologi
Menurut Depkes RI (1992), banyak lingkungan biologik yang mendukung terjadinya tempat perindukan dan perkembangbiakan vektor DBD, misalnya pot tanaman bias, tempat minum hewan piaraan, perangkap semut dan sebagainya termasuk barang-barang bekas yang potensial sebagai tempat tergenangnya air. Selain itu dengan banyaknya tanaman hias dan pekarangan di sekitar rumah juga akan mempengaruhi kelembaban dan pencahayaan yang memungkinkan sebagai tempat untuk istirahat nyamuk Aedes aegypti.

Referensi, antara lain: Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue, WHO & Depkes RI. (2003)

Senin, 29 Oktober 2012

Dampak Asbes Terhadap <a href="http://toko-alkes.com">Kesehatan</a>

Asbes, Krakteristik dan Masalah Kesehatan yang Ditimbulkannya

Kita tentu sudah sangat familier dengan bahan asbes sebagai salah satu bahan utama kegiatan konstruksi rumah kita, terutama untuk plafon rumah. Penggunaan bahan initentu tidak sebatas untuk kepentingan ini. Di dunia penggunaan bahan asbes (asbestos) jauh lebih banyak tidak terbatas pada plafon rumah semata.  Dan celakanya, ternyata berdasarkan penelitian, bahan asbes ini berbahaya bagi Kesehatan dan bersifat karsinogenik. Beberapa unsur asbes dapat terhirup ketika kita bernafas, masuk ke paru-paru dan beresiko kanker. Karena sifat ini di beberapa negara maju (Amerika dan Eropa),  penggunaan bahan asbes ini telah mulai dilarang.

Sebetulnya asbestosis bukanlah kanker. Asbestosis disebabkan seseorang menghirup serat asbes yang mengiritasi jaringan paru-paru, menyebabkan luka pada jaringan paru-paru. Jaringan parut ini berakibat pada kesulitan bernapas karena proses oksigen dan karbon dioksida sulit melalui paru-paru. Asbestosis umumnya berlangsung lambat. Periode latensi untuk timbulnya asbestosis biasanya 10-20 tahun setelah paparan awal. Penyakit ini dapat bervariasi dari asimtomatik (tanpa gejala) untuk sampai dapat berakibat fatal bagi Kesehatan. Beberapa tanda dan ejala asbestosis dapat meliputi: Sesak napas sebagai gejala utama, batuk, sesak dada, nyeri dada, kehilangan nafsu makan, terjadi suara kering berderak di paru-paru ketika menghirup udara.


Namun apa sebenarnya Asbes itu? Berikut berbagai sifat dan karakteristik bahan asbes yang penting kita ketahui.

Asbes adalah nama sekelompok mineral berserat dengan serat terpisah, panjang, dan tipis. Serat asbes mempunyai potensi kuat untuk dapat terlepas di udara. Serat asbes bersifat  tahan panas, sehingga banyak digunakan untuk keperluan industri. Karena daya tahan mereka, serat asbes yang masuk ke jaringan paru-paru akan tetap untuk bertahan didalam paru-paru dalam jangka waktu lama.

Secara umum terdapat dua jenis asbes, amphibole dan chrysotile. Beberapa studi menunjukkan bahwa serat amphibole mempunyai kemampuan lebih lama tinggal di paru-paru l daripada chrysotile. Berdasarkan kecenderungan, sehingga jenis ini bahan ini bersifat toksis bagi tubuh .

Sementara menurut US Environmental Protection Agency (EPA), terdapat enam jenis mineral asbes, dengan jenis terbanyak yaitu chrysotile dan lima jenis golongan  amphibole, yaitu  actinolite, tremolite, anthophyllite,  crocidolite, dan amosite.

Nilai Ambang batas konsentrasi asbes di udara ambient berkisar  pada 00001-0,0001 serat per mililiter (fiber / mL). Jika nilai ambang ini terlampaui akan sangat beresiko terhadap efek pada Kesehatan manusia.

Serat asbes hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Karena sesuatu sebab, menyebabkan serat melayang di udara, mereka dapat dengan mudah terhirup ketika kita bernapas dan masuk dalam paru-paru. Para ilmuwan telah mengakui asbes sebagai ancaman Kesehatan bagi manusia karena serat dapat terhirup ke dalam paru-paru dan dapat menyebabkan kanker dan penyakit paru-paru lainnya. Resiko ini terutama menjadi meningkat ketika kita berada pada lingkungan terpapar debu asbes dalam jangka waktu lama. Diketahui masa inkubasi yaitu jeda waktu antara ketika menghirup sehingga terjadi manifestasi Kesehatan dapat berlangsung selama 30 tahun atau lebih.

Exposure Asbes di Lingkungan Kerja.

Berbagai lingkungan kerja beresiko meningkatkan paparan debu asbes, beberapa diantaranya antara lain : Industri produk dengan bahan baku asbes (bahan isolasi, atap, bangunan), industri Otomotif (rem & kopling), Kilang minyak, Pembangkit listrik, galangan kapal, pabrik baja, pekerja pembongkaran, pekerja di pabrik produk asbes , Tukang batu, pengawas bangunan, Carpenters, pekerja furnace, tukang pipa,  dan lain-lain.

Beberapa keunggulan bahan asbes sehingga banyak digunakan untuk keperluan industri, antara lain karena serat asbes hanya sedikit menyerap air,  sangat tahan terhadap panas dan api, tahan terhadap asam, penghantar listrik dan panas yang jelek, tahan terhadap gesekan dan cuaca, mampu menyerap suara.    Serat asbes antara lain digunakan  untuk bahan pencampur atap, bahan pembungkus, bahan penahan panas dan api dan bahan pelapis rem dan kopling.

Jika kita telah bekerja lama pada lingkungan dengan resiko terpapar asbes tinggi, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter dengan dengan keahlian dalam pengelolaan  dan evaluasi yang berhubungan dengan penyakit paru-paru karena asbes

Pengaruh Kesehatan


Berdasarkan kesimpulan hasil pengamatan penyakit pada kelompok pekerja dengan paparan kumulatif asbes 5 - 1.200 fiber-year/mL, didapatkan hasil bahwa eksposur signifikan untuk semua jenis asbes akan meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti kanker paru-paru,  mesothelioma paru-paru, gangguan non malignant pleura, termasuk asbestosis , plak pada pleura, penebalan pleura, dan efusi pleura.  Eksposur tersebut akan dihasilkan dari 40 tahun pajanan pada konsentrasi udara 125-30 serat / mL.

Penyakit karena paparan asbes membutuhkan waktu lama untuk berkembang. Sebagian besar kasus kanker paru-paru atau asbestosis pada pekerja asbes terjadi 15 tahun atau lebih setelah paparan awal. Faktor perokok beresiko jauh lebih besar terkena kanker paru-paru daripada bukan perokok karena asbestosis ini.  Sementara secara umum waktu antara diagnosis penyakit ini dengan waktu pajanan awal asbes sekitar 30 tahun atau lebih.

Mekanisme Paparan Asbestosis
Pada saat seseorang menghirup serat asbes , secara alami sebagian besar daripadanya dapat dikeluarkan, namun beberapa dapat bersarang di paru-paru sepanjang hidup. Serat dapat terakumulasi dan menyebabkan peradangan jaringan parut, sehingga . mempengaruhi pernapasan dan menyebabkan penyakit.

Sebetulnya secara alami asbes telah ada di sekitar kita. Asbes alami dapat dilepaskan dari batu atau tanah oleh kegiatan rutin manusia, seperti konstruksi, atau pada proses pelapukan alami. Jika serat asbes alami tidak dilepaskan ke udara, maka itu bukan merupakan risiko Kesehatan. Kita lebih mungkin mengalami gangguan yang berhubungan dengan asbes ketika terkena konsentrasi tinggi asbes, untuk waktu yang cukup lama, dan / atau lebih sering.

Paparan asbes dapat meningkatkan kemungkinan kanker paru-paru, mesothelioma, dan asbestosis (pembatasan penggunaan paru-paru karena tertahan oleh serat asbes). dan perubahan pada pleura (selaput rongga dada, di luar paru-paru) . Perubahan pleura seperti penebalan, plak, kalsifikasi, dan terdapatnya cairan di sekitar paru-paru (efusi pleura) dapat menjadi tanda awal dari paparan asbes. Perubahan ini dapat mempengaruhi pernafasan.. Efusi pleura bisa menjadi tanda peringatan dini untuk mesothelioma (kanker pada lapisan paru-paru). Berikut beberapa fakta terkait penyakit karena asbes ini :
  • Sebagian besar kasus asbestosis atau kanker paru-paru pada pekerja terjadi 15 tahun atau lebih setelah orang tersebut pertama kali terpapar asbes.
  • Sebagian besar kasus mesothelioma didiagnosis 30 tahun atau lebih setelah paparan pertama asbes.
  • Penyakit yang berhubungan dengan asbes telah didiagnosis pada pekerja asbes, anggota keluarga, dan warga yang tinggal di dekat tambang asbes atau pabrik pengolahannya.
  • Efek pada Kesehatan karena paparan asbes dapat terus berkembang bahkan setelah paparan dihentikan.
  • Merokok atau asap rokok, bersama dengan paparan asbes, sangat meningkatkan kemungkinan kanker paru-paru.
Faktor Risiko
Berbagai faktor menentukan bagaimana paparan asbes mempengaruhi individu, antara lain :
  • Konsentrasi paparan
  • Durasi paparan - berapa lama jangka waktu pemaparan.
  • Frekuensi paparan - seberapa sering dan jangka waktu orang yang terkena paparan
  • Ukuran, bentuk dan bahan kimia dari serat asbes:

Sumber : Centers for Disease Control and Prevention (CDC)

Rabu, 24 Oktober 2012

Teori Surveilans Kesmas


Definisi dan Pengertian Surveilans Kesehatan Masyarakat

Sebagai refresh rekan-rekan Sanitarian, berikut beberapa pengertian surveilans Kesehatan masyarakat menurut beberapa ahli. Surveilans penting kita pahami, khususnya terkait (elaborasi) dengan teori simpul Ahmadi. Juga, surveilans menjadi vital juga karena pijakan pola fikir kita sejauh menyangkut konsep dasar Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL). Menurut German (2001), surveilans Kesehatan masyarakat (public health surveillance) adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara terus menerus berupa pengumpulan data secara sistematik, analisis dan interpretasi data mengenai suatu peristiwa yang terkait dengan Kesehatan untuk digunakan dalam tindakan Kesehatan masyarakat dalam upaya mengurangi angka kesakitan dan kematian, dan meningkatkan status Kesehatan. Data yang dihasilkan oleh sistem surveilans Kesehatan masyarakat dapat digunakan : a) sebagai pedoman dalam melakukan tindakan segera untuk kasus-kasus penting Kesehatan masyarakat b) mengukur beban suatu penyakit atau terkait dengan Kesehatan lainnya, termasuk identifikasi populasi resiko tinggi c) memonitor kecenderungan beban suatu penyakit atau terkait dengan Kesehatan lainnya, termasuk mendeteksi terjadinya outbreak dan pandemic d) sebagai pedoman dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi program e) mengevaluasi kebijakan-kebijakan publik f) memprioritaskan alokasi sumber daya Kesehatan dan g) menyediakan suatu dasar untuk penelitian epidemiologi lebih lanjut.

Menurut Timmreck (2005), surveilans epidemiologi adalah pengumpulan, analisis, dan interpretasi secara sistematik dan berkesinambungan pada data yang berkaitan dengan Kesehatan, penyakit, dan kondisi. Temuan dari kegiatan surveilans epidemiologi digunakan untuk merencanakan, mengkaji, mengevaluasi, dan menerapkan program pencegahan dan pengendalian di bidang Kesehatan.

Surveilans Kesehatan masyarakat adalah proses pengumpulan data Kesehatan yang mencakup tidak saja pengumpulan informasi secara sistematik, tetapi juga melibatkan analisis, interpretasi, penyebaran, dan penggunaan informasi Kesehatan. Hasil surveilans dan pengumpulan serta analisis data digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang status Kesehatan populasi guna merencanakan, menerapkan, mendeskripsikan, dan mengevaluasi program Kesehatan masyarakat untuk mengendalikan dan mencegah kejadian yang merugikan Kesehatan. Dengan demikian, agar data dapat berguna, data harus akurat, tepat waktu, dan tersedia dalam bentuk yang dapat digunakan.

Sementara menurut pendapat lain dikemukakan, surveilans merupakan sebuah istilah umum yang mengacu pada observasi yang sedang berjalan, pengawasan berkelanjutan, pengamatan menyeluruh, pemantauan konstan, serta pengkajian perubahan dalam populasi yang berkaitan dengan penyakit, kondisi, cedera, ketidakmampuan, atau kecenderungan kematian.

Reffernce:

  • German, R.R. (2001) Recommendations and Reports, Update Guidelines for Evaluating Public Health Surveillance System 
  • Timmreck, C.T. (2005). Epidemiologi : Suatu Pengantar. EGC, Jakarta.


Minggu, 07 Oktober 2012

Sanitasi Kandang

Hubungan Kandang & Ternak dengan Lalat, Nyamuk, Malaria dan Flu Burung

Rekan-rekan Sanitarian sebagai pelaksana tenaga Kesehatan lingkungan, tentu sering berhadapan dengan keluhan atau pertanyaan terkait dengan sanitasi kandang. Kita masih ingat pada saat flu burung menjadi trend cenderung out break kemarin, sebagian masyarakat melayangkan keluhan dan pertanyaan terkait ternak dan kandang kepada Sanitarian. Tentu masih butuh koordinasi intens tentang siapa berwenang apa terkait kandang dan ternak ini, bisa Dinas Kesehatan atau dinas pertanian atau peternakan. Namun siapapun itu sebagai tenaga profesional Sanitarian kita harus sedikit banyak paham tentang sanitasi kandang dan ternak ini.

Sebagaimana kita ketahui, kandang mempunyai beberapa fungsi, antara lain ;
  • Melindungi ternak dari pengaruh lingkungan yang merugikan, seperti hujan, sengatan matahari, angin, suhu malam hari, binatang buas, atau bahkan pencuri.
  • Kandang juga berperan pnring dalam menunjang tata laksana pemberian pakan, pengawasan , prodduksi dan reproduksi, serta sanitasi
Sedangkan beberapa komponen sanitasi kandang yang harus kita perhatikan antara lain menyangkut letak bangunan kandang. Beberapa persyaratan letak kandang sebagai berikut :
Sanitasi Kandang
  1. Harus memperhatikan faktor hygiene. Faktor higiene lingkungan penting untuk ternak maupun peternak, antara lain untuk menjamin Kesehatan ternak dan lingk sekitar
  2. Letak bangunan kandang juga harus jauh dari pemukiman penduduk. Kandang di dalam rumah tertutup dapat  menarik nyamuk vektor An. aconitus (zoophilic), sehingga memungkinkan kontak dengan manusia makin besar. Jarak kandang ari rumah minimal 10 -20 m sehingga dapat mengurangi kepadatan vektor An. aconitus secara signifikan. 
  3. Dibangun dekat sumber air, yang berfungsi untuk air minum  dan memandikan ternak serta sebagai sarana pembersih lantai.
  4. Dibangun di dekat areal pertanaman rumput, sehingga mempermudah akses pada pakan
  5. Mudah diakses transportasi
  6. Kandang tunggal menghadap ke timur, kandang ganda membujur utara-selatan
  7. Penggunaan  sumber air untuk ternak tidak mengganggu ketersediaan air bagi masyarakat. Persyaratan untuk topografi ini antara lain tempat kandang harus lebih tinggi dari sekitar, tanah mudah menyerap air sehingga mengurangi kemungkinan genangan air
  8. Tempat tidak terlalu tertutup pepohonan rindang yang dapat mengurangi  sinar matahari dan sirkulasi udara
  9. Kandanh harus dekat dengan petugas, sehingga mempermudah dan memperlancar pengawasan Kesehatan, keamanan, dan tata laksana 
 



Selain letak kandang beberapa aspek sanitasi kandang, khususnya yang terkait dengan potensi penularan penyakit dan masalah Kesehatan antara lain :
Hubungan Kandang dan Nyamuk
  • Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan terhadap investasi nyamuk pada kerbau, diperoleh data spesies nyamuk yang mempunyai asosiasi erat dengan kerbau  diperoleh 27 spesies yang tergolong dalam 7 genus yaitu  Anopheles dengan 10 spesies, Culex dengan 12 spesies, serta Mansonia, Aedes, Ficalbia, Tripteroides dan Armigeres masing-masing 1 spesies
  • Sebagaimana umum diketahui, bahwa masalah investasi nyamuk pada hewan ternak belum memperoleh apresiasi yang baik dari masyarakat (bahkan kita sebagai petugas Kesehatan lingkungan).Hal ini antara lain disebabkan oleh adanya pandangan bahwa nyamuk bukan merupakan masalah besar, baik sebagai vektor penyakit maupun sebagai pengganggu Kesehatan hewan. Juga adanya fakta nyamuk hanya datang menyerang hewan pada waktu malam hari sehingga lepas dari pengamatan para petugas Kesehatan hewan. Sedangkan fakta secara epidemiologis penting untuk kita cermati aspek ini bagi Kesehatan masyarakat.
  • Hubungan kandang dan ternak dengan vektor malaria & filariasis. Sebagian diantara berbagai jenis nyamuk yang mengisap darah ternak, terdapat jenis-jenis yang merupakan vektor penyakit malaria. Hal ini dikuatkan dengan adanya fakta bahwa Anopheles aconitus, An barbirostris, An sundaicus, tiga jenis vektor penting untuk malaria, dan Mansonia uniformis, vektor filariasis malayi, bersifat zoofilik sehingga petugas surveilans (ketika kita praktikum dulu) pun selalu mencari sasaran lokasi penangkapan  nyamuk disekitar kandang ternak. Secara epidemiologis juga terdapat usaha secara tidak langsung untuk memanfaatkan ternak sebagai perisai bagi manusia terhadap serangan nyamuk di waktu malam hari (upaya profilaksis melawan malaria).
Sebagai alternatif pemecahan masalah adanya investasi nyamuk terhadap kandang dan ternak tersebut, kita dapat melakukan alternatif tindakan seperti melakukan koordinasi dengan Dinas Peternakan atau pertanian. Juga melakukan Penyemprotan pestidida terhadap kandang & ternak)

Hubungan kandang dan ternak dengan investasi lalat dan flu burung.

Upaya pengendalian penyakit menular tidak terlepas dari usaha peningkatan Kesehatan lingkungan dengan salah satu kegiatannya adalah pengendalian vektor penyakit termasuk lalat. Juga terdapat hubungan erat antara sanitasi  dan lalat sejauh menyangkut kandang dan ternak ini. Kita tentu sangat paham, bahwa lalat merupakan species yang berperan dalam masalah Kesehatan masyarakat. Lalat sangat terkait dengan masalah sampah yang antara lain bertambah besar sebagai dampak negatif dari pertambahan penduduk. Jika sampah tidak dikelola dengan baik akan mengundang lalat untuk datang sehingga memperbesar resiko kontak dengan manusia.Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat akan higiene dan sanitasi dapat lalat menimbulkan masalah Kesehatan masyarakat secara luas baik dari segi estetika sampai maupun penularan penyakit.

Selain itu juga terdapat hubungan antara kandang dan ternak dengan Flu burung dan lalat. Penyebaran virus flu burung diduga tidak hanya melalui unggas dan babi. Penularan virus flu burung ternyata juga bisa melalui perantara lalat. Berasarkan penelitian penyebaran virus lewat lalat ini ditemukan di daerah-daerah yang tidak terdapat burung-burung migran (Kota Makassar, Sulawesi Selatan dan Kota Karanganyar, Jawa Tengah). Dicurigai lalat yang menjadi pembawa virus flu burung ini. Hal ini juga didukung hasil penelitian yang menunjukkan, diitemukan bahwa lalat ternyata positif mengandung  nucleo protein dan virus avian influenza subtipe H5N1. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh sanitasi dan kebersihan kandang yang  sangat tidak terjaga,.

Sebagaimana diketahui, penyebaran  penyebaran virus flu burung hanya bisa terjadi melalui kontak langsung dengan mukosa saluran pernapasan, sehingga kemungkinan lalat dapat berperan penting melakukan penyebaran virus ini. Juga dimngkinkan kontak langsung dengan lalat atau termasuk dengan saluran pernapasan. Mekanisme yang terjadi lalat yang membawa  virus H5N1 hinggap di     sebuah tempat, kemudian disentuh jari manusia, mengorek-ngorek lubang hidung, maka akan terjadi kontak langsung dengan saluran.

Fakta diatas dapat juga menunjukkan peran lalat yang semakin besar untuk memperluas dan mempermudah penyebaran virus. Kita harus mewaspadai kondisi ini dan menyikapinya dengan sentuhan surveilans epidemiologi berbasis lingkungan. Sebagaimana kita ketahui bahwa virus flu burung tergolong ganas, karena hanya butuh satu hingga tiga hari untuk berinkubasi. Penderita biasanya mengalami kerusakan paru-paru secara hebat atau pneumonia. Berdasarkan penelitian, sekitar separuh dari 100 penderita flu burung meninggal dalam tempo singkat.

Minggu, 09 September 2012

Pemanfaatan Data Suveilans

Pentingnya Suveilans dalam Praktek Kesehatan masyarakat

Berikut pengingat kembali beberapa hal terkait surveilans, yang penting kita pahami untuk menambah tool kerja Sanitarian kita. Pengenertian surveilans menurut beberapa ahli Kesehatan masyarakat, adalah pengamatan secara terus menerus dan sistematik melalui pengumpulan, analisa, interpretasi dan diseminasi penyampaian informasi status Kesehatan, ancaman lingkungan atau faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi Kesehatan.

Sedangkan menurut definisi public health surveilance, merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara terus menerus berupa pengumpulan, analisis/pengelolahan dan interpretasi data Kesehatan yang penting untuk dipergunakan dalam perencanaan, implentasi, evaluasi praktek Kesehatan masyarakat. Mata rantai dari surveilans ialah pemanfaatan data tersebut untuk pencegahan dan pengendalian penyakit. Suatu sistem surveilans dengan kemampuan dan fungsinya dalam pengumpulan data, analisis dan penyebarluasan informasi yang berkaitan dengan program-program Kesehatan masyarakat. Suatu perubahan penting tentang surveilans yang pada awalnya mengenai penyakit menular berubah kedalam spektrum yang lebih luas dari masalah Kesehatan masyarakat seperti: masalah penyakit kronis, Kesehatan kerja, lingkungan, perilaku individu, dan teknologi pencegahan penyakit.

Tujuan surveilans adalah tersedianya data dan informasi epidemiologi sebagai dasar manajemen Kesehatan untuk pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi program Kesehatan dan peningkatan kewaspadaan serta respon kejadian luar biasa yang cepat dan tepat.

Sistem surveilans yang baik dan benar akan memberikan informasi epidemiologi yang akurat sehingga sistem  kewaspadaan dini dapat berjalan dengan baik. Informasi epidemiologi akan efektif dalam pencegahan dan penanggulangan masalah Kesehatan bila ditunjang oleh sistem surveilans yang adekuat.

Informasi Kesehatan masyarakat bermanfaat untuk mengamati status Kesehatan masyarakat, menggambarkan prioritas Kesehatan masyarakat, evaluasi program, dan petunjuk penelitian. Informasi surveilans mengatakan kepada petugas Kesehatan bahwa dimana masalahnya adalah yang mereka pengaruhi dan jika pelaksanaan program dan kegiatan pencegahan yang harus diarahkan. Informasi Kesehatan dapat juga bermanfaat untuk membantu menggambarkan prioritas Kesehatan masyarakat dalam suatu cara kuantitatif dan dalam evaluasi secara efektif dari pelaksanaan suatu program. Analisa data surveilans juga memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi pada suatu wilayah untuk penyelidikan lebih lanjut.

Sedangkan manfaat surveilans antara lain :  memperkirakan besarnya masalah Kesehatan yang penting,  sebagai gambaran perjalanan alami suatu penyakit,  sebagai deteksi KLB,  dokumentasi, distribusi, dan penyebaran peristiwa Kesehatan,  bermanfaat untuk epidemiologi dan penelitian laboratorium, untuk keperluan  evaluasi pengendalian dan pencegahan,  sebagai tool monitoring kegiatan karantina, dapat memperkiraan perubahan dalam praktek Kesehatan, dan sebagai perencanaan.

Senin, 27 Agustus 2012

<a href="http://toko-alkes.com">Kesehatan</a> Lingkungan dan Global Health

Perkembangan Global Health dan ikutan Wajah Kesehatan Lingkungan

Global health atau Kesehatan global merupakan sebuah wilayah untuk studi, penelitian, dan praktek yang menempatkan prioritas pada peningkatan Kesehatan dan mencapai kesetaraan dalam Kesehatan bagi semua orang di seluruh dunia. Kesehatan global ini terutama menekankan masalah Kesehatan transnasional atau antar negara beserta determinan, dan solusi pemecahannya. Global health melibatkan banyak disiplin ilmu di dalam dan di luar ilmu Kesehatan serta berusaha mengabungkan serta sinkronisasi berbagai cabang disiplin ilmu. Disiplin ilmu ini juga menekankan pentingnya berbagai usaha pencegahan di penyakit dan masalah Kesehatan pada tingkatan populasi yang dibarengi dengan usaha perawatan pada tingkat  individu (Consortium of Universities for Global Health Executive Board, 2009)

BENDERA KARANTINA
Sejarah perkembangan glogal health sendiri dimulai dengan tonggak peristiwa yang secara langsung maupun tidak ikut berpengaruh pada perkembangan penyakit dan masalah Kesehatan di dunia. Beberapa peristiwa terkait diantaranya antara lain :

Konsep Karantina: Konsep karantina ini merupakan era dimulainya strategi Kesehatan global modern. Karantina atau quadraginta (latin) berarti 40. Pada awalnya  konsep ini menerapkan konsep isolasi selama 40 hari terhadap semua penderita penyakit pes. Sebagaimana kita ketahui pada tahun 1348 lebih dari 60 juta orang meninggal karena penyakit Pes. Peristiwa ini dikenal sebagai Black Death. Pada tahun 1348 Pelabuhan Venesia sebagai salah satu pelabuhan yang terbesar di Eropa melakukan upaya karantina dengan cara menolak masuknya kapal yang datang dan daerah terjangkit Pes atau dicurigai terjangkit penyakit pes (plague).

Kota Roguasa pada tahun 1377 menetapkan peraturan bahwa penumpang dari daeah terjangkit penyakit pes harus tinggal di suatu tempat diluar pelabuhan dan tinggal di sana selama 2 bulan supaya bebas dari penyakit. Itulah sejarah tindakan karantina dalam bentuk isolasi pertama kali dilakukan. terhadap manusia.
Pada tahun 1383 di Marseille, Perancis, ditetapkan UU Karantina yang pertama dan didirikan Station Karantina yang pertama.

Tahap perdangangan dan perbudakan: Tahap ini telah memunculkan era pertukaran penyakit dan masalah Kesehatan antar negara, seiring lalu lintas dan mobilitas pergerakan manusia antar negara yang mengikutinya.

Era lahirnya kedokteran tropis: Era ini dimulai ketika banyak penyakit tropis meluas ke Eropa Utara dan Amerika Utara (Abad 17-19). Beberapa penyakit yang menandai era itu misalnya Plasmodium vivax (malaria), Plague, Typhoid, Cholera, Cacar. P. vivax menjadi indigenous di southeast England. Kedokteran tropis sendiri pada mulanya berasal  Kerajaan Inggris atau Colonial science, yang dikembangkan sebagai komponen penting dari Future development of British economic and social imperialism. Bidang ini dimanfaatkan oleh kolonialis untuk menjaga Kesehatan personil British di berbagai wilayah kekuasaan dan sekembalinya ke Inggris. Sedangkan berbagai disiplin ilmu yang terlibat antara lain Kesehatan masyarakat, travel dan eksplorasi, ilmu pengetahuan alam, teori evolusi, dan pengetahuan  tentang penyebab penyakit. Beberapa lembaga dan perguruan tinggi dunia yang mengembangkan ilmu kedokteran tropis diantaranya School of Tropical Medicine, London (1899), Liverpool School of Tropical Medicine (1899), London School of Hygiene and Tropical Medicine (1929), Ross Institute for Tropical Hygiene (1934).

International Sanitary Conferences dan LOffice Internationale dHygiene Publique (OIHP):
Latar belakang lahirnya konferensi ini ditandai antara lain, bahwa pada kurun waktu 1830 1847,wabah kolera melanda Eropa. Kemudian dilaksanakan diplomasi penyakit infeksi secara intensif dan kerjasama multilateral Kesehatan masyarakat yang kemudian menghasilkan international sanitary conference, di Paris pada tahun 1851, yang kemudian dikenal sebagai ISR 1851. Pada tahun 1951 World Health Organization mengadopsi regulasi yang dihasilkan oleh international sanitary conference. Kemudian pada tahun 1969 diubah lagi menjadi  International Health Regulations (IHR) dan dikenal sebagai IHR 1969. tujuan ihr adalah untuk menjamin keamanan maksimum terhadap penyebaran penyakit infeksi dengan melakukan tindakan yang sekecil mungkin mempengaruhi lalu lintas dunia. Pada tahun 1983 WHO melakukan revisi international health regulations menjadi IHR 1969 third annotated edition. Dengan revisi ini penyakit Karantina yang dulunya 6 penyakit menjadi 3 penyakit yaitu Pes (Plague), Demam kuning (Yellow Fever) serta Kolera.

The League of Nations Health Organization: Liga bangsa-bangsa sendiri merupakan sebuah organisasi antar pemerintah yang didirikan sebagai hasil dari Konferensi Perdamaian Paris yang mengakhiri Perang Dunia Pertama. Ini adalah organisasi internasional pertama permanen yang utama misi adalah untuk menjaga perdamaian. Sedangkan terkait Kesehatan, Konstitusi Organisasi Kesehatan Dunia telah ditandatangani oleh semua 61 negara dari Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 22 Juli 1946. Sejak pembentukannya, WHO telah bertanggung jawab untuk memainkan peran utama dalam pemberantasan cacar. Prioritas saat ini meliputi penyakit menular, khususnya, HIV / AIDS, malaria dan TBC, mitigasi dampak penyakit tidak menular, Kesehatan seksual dan reproduksi, pengembangan, dan penuaan, nutrisi, keamanan dan Kesehatan makanan, dan lain sebagainya.

Office of Malaria control in War areas: 1942-1945 :
Latar belakang era ini dimulai ketika mulai disadari oelh para pemimpin perang bahwa malaria telah melumpuhkan dan membunuh banyak serdadu mereka, sehingga tindakan khusus penting segera dilakukan untuk menjamin keselamatan tentara dari keganasan penyakit ini.

WHO Constitution (1946): Konstitusi WHO ini merekomendasikan Kesehatan untuk semua orang, dengan definisi Kesehatan sebagai keadaan sejahtera dari fisik, mental dan sosial dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kecacatan.

The Cold War Effect:1949-1956 : Perang Dingin adalah sebutan bagi situasi tegang dan konflik antara Blok Barat dengan komando Amerika Serikat dan Blok Timur dibawah Uni Soviet. Dampak era ini juga berimbas pada bidang Kesehatan dan epidemiologi, dengan kompetisi dibidang pengembangan vaksin, eradikasi berbagai penyakit, dan lain sebagainya.

The global malaria Eradication (1955-1978): Tahap ini di Indonesia ditandai dengan pencanangan Kopem (Komando pemberantasan malaria) oleh Presiden Soekarno yang kemudian diikuti penyemprotan nyamuk malaria secara simbolis pada tanggal 12 November 1964, di desa Kalasan, kota Yogyakarta, yang kemudian kita kenal sebagai Hari Kesehatan Nasional itu. Dikemudian hari kopem ini merupakan cikal bakal lahirnya konsep dan lembaga Puskesmas.

The Small Pox Eradication (1959): Pemberantasan penyakit cacar disebut merupakan prestasi terbesar dalam Kesehatan masyarakat.Sebuah resolusi Majelis (Kesehatan Dunia WHA33.3), yang diadopsi pada tanggal 8 Mei 1980, menyatakan bahwa tujuan global pemberantasan cacar telah dicapai, dimana kasus terakhir ditemukan pada tanggal 26 Oktober 1977 di Somalia. Temuan ini kemudian diikuti oleh dua tahun pencarian kasus aktif untuk memastikan bahwa penularan virus itu telah dihentikan.

Alma Ata Conference (1978): Deklarasi Alma-Ata diadopsi pada Konferensi Internasional tentang Kesehatan hasil konferensi ini antara lain mengemukakan pentingnya tindakan mendesak oleh semua pemerintah, semua pekerja Kesehatan dan pembangunan, dan masyarakat dunia untuk melindungi dan meningkatkan Kesehatan semua orang. Deklarasi ini merupakan deklarasi internasional pertama yang menggarisbawahi pentingnya perawatan Kesehatan primer. Dan sejak itu diterima oleh negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai kunci untuk mencapai tujuan "Kesehatan Untuk Semua".

Health for All in the Year 2000: merupakan deklarasi dari "Kesehatan untuk Semua di Tahun 2000" menganjurkan pendekatan "inter-sektoral" dan multidimensi untuk Kesehatan dan pembangunan sosial ekonomi, menekankan penggunaan "teknologi tepat guna," dan mendesak partisipasi aktif masyarakat dalam perawatan Kesehatan dan pendidikan Kesehatan di setiap tingkat.

Selective vs comprehensive primary health care:
Kita mengenal era ini dengan istilah G.O.B.I, yang merupakan akronim dari huruf pertama yang menggambarkan masing-masing empat unsur dalam paket intervensi yaitu Growth monitoring atau monitoring pertumbuhan anak, Oral  rehydration therapy  atau terapi rehidrasi oral dalam kasus diare, Breast  feeding  atau pemberian ASI eksklusif pada bayi serta Immunization atau imunisasi. Dalam prakteknya masih sering terjdi perdebatan efektifitas program ini dengan Primary Health Care. Program ini dipelopori oleh UNICEF.

The recipe for economic recession:
Era ini ditandai dengan adanya krisis minyak pada tahun 1970-an, yang melahirkan kebijakan formula dari Bank Dunia, IMF dan AS, diantaranya dengan melakukan pemotongan secara drastis terhadap belanja publik termasuk Kesehatan. Hal ini untuk mengurangi inflasi dan hutang public. Paket kebijakan yang terkenal ari formula ini antara lain privatisasi di semua sector serta desentralisasi.

The decline of WHO:
Pada tahun 1982 terjadi pengurangan (pembekuan?) anggaran WHO sangat signifikan.yang diikuti kebijakan Amerika Serikat (1985) untuk menahan kontribusi anggaran rutin mereka pada WHO sebagai protes terhadap kebijakan program Obat Esensial dan international Code on pengganti ASI.

Bagaimana dengan wajah Kesehatan lingkungan pada berbagai proses diatas  ...  ?  .. to be continued ...

Senin, 13 Agustus 2012

Upaya Higiene dan Sanitasi Mencegah Infeksi Nosokomial


Tindakan Higiene dan Sanitasi untuk Mencegah Infeksi Nosokomial

Kita memahami pengertian sanitasi selama ini sebagai sebuah tindakan terkait dengan lingkungan, sementara higiene terkait dengan tindakan Kesehatan secara personal. Berikut beberapa upaya terkait higiene dan sanitasi untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Terkait dengan hal tersebut, ada baiknya kita pahami terlebih dahulu pengertian higiene dan sanitasi. Beberapa diantarany sebagai berikut:

  • Sanitasi adalah suatu upaya pengawasan faktor-faktor lingkungan fisik manusia (ruang, peralatan-peralatan, dan lain-lain) yang mempunyai atau mungkin mempunyai pengaruh terhadap perkembangan fisik manusia, Kesehatan maupun kelangsungan hidupnya (Siswanto, 2002). 
  • Higiene adalah kebersihan perorangan, secara kumunal didifinisikan pemeliharaan Kesehatan masyarakat dengan penyediaan air bersih, sanitasi yang efisien, pemelihaaan rumah yang baik, dan lain-lain. Personal hygiene adalah kebersihan perorangan, tindakan perorangan yang dilakukan untuk memelihara kebersihan dirinya sendiri untuk menuju sehat (Hartono, 2002). 
  • Higiene adalah suatu ilmu tentang pengenalan, evaluasi, dan pengontrolan gangguan Kesehatan dalam suatu lingkungan tertentu dengan tujuan agar dapat diperoleh taraf Kesehatan yang maksimal (Setyawati, 2004).

Pemeliharan ruang bangun dan peralatan non medis yang baik dapat mencegah penularan penyakit yang ditularkan melalui udara seperti influenza, TBC, batuk-batuk, campak, dan melalui alat-alat non medis seperti: infeksi pada luka bakar, luka operasi. Lantai, dinding dan langit-langit harus selalu dijaga kebersihannya. Cara-cara pembersihan yang dapat menebarkan debu sedapat mungkin dihindari. Dianjurkan untuk selalu menggunakan pembersihan cara basah dengan menggunakan kain pel yang tepat dengan antibiotik yang sesuai.

Sanitasi ruang bangun dan peralatan non medis dimaksudkan untuk menciptakan kondisi ruang dan konstruksi serta pengaturan peralatan non medis yang nyaman, bersih, dan sehat di lingkungan rumah sakit agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap pasien, pengunjung dan karyawan rumah sakit disamping juga dapat memperkecil kemungkinan rusaknya sarana dan peralatan. Kondisi ruang dan konstruksi dipengaruhi oleh kualitas udara, keadaan bangunan dan pengaturan pengisian/penggunaan ruang. Bakteri dan virus dapat berada di udara ruang akibat pemeliharaan ruang dan bangun yang tidak memadai.

Kesehatan dan kebersihan tangan secara bermakna mengurangi jumlah mikroorganisme penyebab penyakit dan mampu meminimalisasi kontaminasi silang, misalnya dari petugas Kesehatan ke pasien, atau sebaliknya. Cuci tangan dianggap merupakan salah satu langkah yang paling penting untuk mengurangi penularan mikroorganisme dan mencegah infeksi. Beberapa hasil studi memperlihatkan kemungkinan besar penularan penyakit infeksi dari satu pasien ke pasien lainnya dapat melalui tangan petugas. Banyak penelitian lain menyimpulkan bahwa Kesehatan dan kebersihan tangan dapat mencegah penularan mikroorganisme dan mengurangi frekuensi infeksi nosokomial.

Menurut Tietjen (2004), selama bertahun tahun, para perawat dan dokter secara bersungguh-sungguh mengkaji dan menulis mengenai masalah tersebut. Berbagai laporan telah mencatat efektifitas tindakan cuci tangan dan prosedur Kesehatan dan kebersihan tangan lainnya dan mengungkapkan bahwa cuci tangan dan penggunaan sarung tangan adalah cara yang menghemat biaya untuk masalah infeksi nososkomial yang ditularkan oleh petugas Kesehatan terus meningkat secara global.

Bentuk personal higiene sendiri menurut Setyawati (2004), diadakan dengan berbagai cara yaitu secara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Secara promotif personal hygiene diupayakan melalui:

  1. Pendidikan dan pelatihan
  2. Penjagaan kebersihan tubuh, penjagaan diri agar selalu sehat, dan tidak menjadi pembawa penyakit (carier)
  3. Pemakaian pakaian/APD yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang dibebankan
  4. Pemeriksaan awal sebelum tenaga kerja di pekerjakan
  5. Pemeriksaan Kesehatan secara berkala/periodik dan spesifik
  6. Menjauhkan diri dari adat kebiasaan yang tidak baik.

Refference:

  • Setyawati, L. 2004. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (MK3). Kumpulan Makalah Hiperkes Keselamatan Kerja. 
  • Siswanto, H. 2002. Kamus Populer Kesehatan Lingkungan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
  • Hartono, A. 2002. Kamus Kesehatan . Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
  • Tietjen, L. 2004. Panduan Pencegahan Infeksi untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.

Rabu, 01 Agustus 2012

Faktor Lingkungan pada Penularan TBC

Faktor Lingkungan Pada Penularan TB Paru


Menurut teori simpul Achmadi, gangguan Kesehatan terhadap seseorang atau masyarakat disebabkan oleh adanya agen penyakit yang sampai pada tubuhnya. Agen yang berasal dari sumbernya menyebar melalui simpul media (vehicle) yang seperti  udara, air, tanah, makanan dan vektor atau manusia itu sendiri. Setelah agen sampai pada tubuh manusia kemudian berinteraksi dan memberikan dampak sakit mulai dari yang ringan sampai berat. Bibit penyakit yang berasal dari sumbernya (simpul A) kemudian menjalar melalui media (simpul B) yang disebut ambien. Setelah proses ini bibit penyakit masuk tubuh manusia (simpul C) baik secara melekat/adsorbs atau meresap masuk/absorbsi yang akhirnya timbul sakit atau tetap sehat (simpul D).

Sebagaimana kita ketahui, sumber utama penularan penyakit TB Paru penderita tuberkulosis paru BTA (+). Penularan terjadi saat penderita batuk atau bersin (droplet) yang mengandung kuman, dan terhirup masuk ke dalam saluran pernafasan. Kemampuan menularkan kuman tuberkulosis dari seorang penderita, sangat tergantung dari jumlah kuman yang dikeluarkan dari paru. Semakin tingi tingkat kepadatan kuman positif, semakin tinggi pula penderita memberikan risiko penularan kepada orang lain .

Penderita TB BTA positif sebagai sumber penularan menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak pada waktu batuk atau bersin. Percikan dahak yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi jika percikan dahak itu terhirup dalam saluran pernafasan. Kuman TB yang masuk kedalam tubuh manusia dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lain .

Daya penularan seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, TB makin menular. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

Terkait dengan penyakit TB Paru, faktor lingkungan yang sangat padat akan mempermudah proses penularan dan berperan sekali atas peningkatan jumlah kasus TB. Proses terjadinya infeksi oleh M. tuberculosis biasanya secara inhalasi, sehingga TB paru merupakan manifestasi klinis yang paling sering dibanding organ lainnya. Penularan penyakit ini sebagian besar melalui inhalasi basil yang mengandung percik renik, khususnya yang didapat dari pasien TB paru dengan batuk berdahak yang mengandung basil tahan asam

Parameter faktor lingkungan yang mendukung terjadinya penularan penyakit TBC, meliputi tingkat kepadatan penghuni rumah, lantai, pencahayaan, ventilasi, serta faktor kelembaban. Pada faktor kepadatan penghuni dapat dijelaskan, bahwa semakin padat maka perpindahan penyakit, khususnya penyakit melalui udara akan semakin mudah dan cepat. Sesuai standard Depkes, tingkat kepadatan rumah minimal 10 m2 per orang, jarak antar tempat tidur satu dengan lainnya 90 cm. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa risiko terjadinya TB Paru jauh lebih tinggi pada penduduk yang tinggal pada rumah yang tidak memenuhi standar kepadatan hunian.

Faktor lantai terkait dengan dengan tingkat kelembaban ruangan, sehingga pada kondisi lantai tumah terbuat dari tanah, cenderung mempengaruhi viabilitas kuman TBC di lingkungan  yang pada akhirnya dapat memicu daya tahan kuman TBC di udara semakin lama.

Faktor Ventilasi akan terkait dengan sirkulasi pergantian udara dalam rumah serta proses pengurangan tingkat kelembaban. Standar luas ventilasi sesuai Kepmenkes Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah 10% dari luas lantai. Ventilasi selain berperan sebagai tempat masuk sinar matahari, juga  mempengaruhi dilusi udara, yang dapat mengencerkan konsentrasi kuman TBC atau kuman lain, yang dapat terbawa keluar ruangan, yang pada akhirnya dapat mati oleh sinar ultra violet matahari.

Beberapa penelitian menunjukkan, bahwa luas lubang ventilasi rumah dan pencahayaan rumah mempengaruhi kehidupan bakteri dan jamur dalam rumah. Sementara penelian lain menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan penularan penyakit TB Paru adalah kepadatan hunian kamar tidur, pencahayaan sinar matahari, ventilasi, jenis lantai, jenis dinding, dan bahan bakar yang digunakan dalam rumah tangga, status gizi, dan perilaku merokok.

Faktor Pencahayaan.  Menurut penelitian semua cahaya pada dasarnya dapat membunuh kuman TBC, tergantung jenis dan intensitasnya. Pencahayaan yang tidak memenuhi syarat berisiko 2,5 kali terkena TBC dibanding yang memenuhi syarat Rumah memerlukan cahaya cukup, khususnya sinar  matahari dengan ultra violet nya. Pemenuhan pencahayaan rumah selain dipenuhi dari sumber buatan seperti lampu, juga oleh keberadaan ventilasi dan genteng kaca di rumah kita.

Sebagaimana kita ketahui, penyakit TB Paru disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis yang menular melalui udara. Proses penularan tidak sederhana, misalnya dengan menghirup udara bercampur bakteri TBC lalu terinfeksi kemudian menderita penyakit TB Paru. Masih banyak faktor atau variabel yang berperan dalam timbulnya TB Paru pada seseorang. Daya penularan ditentukan banyaknya kuman dan patogenitas kuman, serta lamanya seseorang menghirup udara yang mengandung bakteri TBC.

Faktor Kelembaban. Tingkat kelembaban masih terkait erat dengan tingkat kepadatan dan ventilasi rumah. Kelembaban merupakan sarana yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme, termasuk TBC.  Namun kelembaban juga dipengaruhi oleh topografi sehingga wilayah lebih tinggi cenderung memiliki kelembaban yang lebih rendah. Menurut penelitian, penghuni rumah menempati rumah dengan tingkat kelembaban ruang lebih besar dari 60% berisiko terkena TB Paru 10,7 kali dibanding yang tinggal pada rumah dengan kelembaban lebih kecil atau sama dengan 60%.

Beberapa penelitian menunjukkan, bahwa TBC akan meningkat pada penduduk dengan keadaan gizi yang jelek, tingkat kepadatan hunian yang tinggi, serta faktor lingkungan terutama sirkulasi udara yang buruk. Hal lain yang dapat menjadi faktor risiko adalah paparan asap rokok dimana anak yang terpapar asap rokok (perokok pasif) terbukti lebih sering mendapat TB. Tuberkulosis pada perokok lebih menular daripada TB pada penderita yang tidak merokok. Selain asap rokok, asap pembakaran di dapur juga dapat menjadi faktor risiko TB.

Refference:
  • Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah,  Achmadi, U.F,  Penerbit Buku Kompas, Jakarta. 2005.
  • Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/Menkes/ SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan, Jakarta.
  • Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Depkes RI, 2007

Jumat, 30 Maret 2012

Pencemaran Pb dan <a href="http://toko-alkes.com">Kesehatan</a>

Pengaruh Pencemaran Timbal (Pb) pada Kesehatan

Saat ini masalah pencemaran lingkungan sudah sedemikian membahayakan lingkungan dan Kesehatan. Kondisi lingkungan tercemar menyebabkan penurunan kualitas lingkungan yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kelangsungan hidup manusia. Pencemaran lingkungan terjadi sebagai akibat masuk atau dimasukkannya sesuatu (makhluk hidup, zat, atau energi) kedalam lingkungan. Lingkungan dikatagorikan tercemar jika telah terjadi perubahan dan bergeser dari kondisi semula.

Sebagaimana kita ketahui, salah satu jenis bahan pencemar yang berbahaya berupa pencemaran karena logam berat. Pencemaran oleh bahan aktif dari logam-logam berat sangat beracun dapat menghancurkan tatanan ekosistem organismenya. Daya racun yang dimiliki oleh bahan aktif logam berat akan bekerja sebagai penghalang kerja enzim dalam proses fisiologis atau metabolisme tubuh. Sehingga proses metabolisme terputus. Selain itu bahan beracun tersebut dapat terakumulasi dalam tubuh yang akan mengakibatkan gangguan Kesehatan.

Salah satu jenis logam berat tersebut yang dapat menimbulkan gangguan Kesehatan serius adalah Timbal. Timbal dalam keseharian biasa dikenal dengan timah hitam, dalam bahasa ilmiahnya dinamakan plumbum, dengan symbol (Pb). Salah satu sumber utama pencemaran timbal adalah penddunaan bahan bakar minyak (BBM), dimana timbal digunakan sebagai salah satu komponen utama pencampur BBM, untuk meningkatkan nikai oktan. Timbal juga biasa kita dapatkan pada beberapa peralatan yang sering kita pakai selama ini seperti peralatan rumah tangga seperti sendok, garpu dan pisau. Timbal juga digunakan dalam bentuk oksida timbale sebagai pigmen atau zat pewarna dalam industri kosmetik dan glace serta industri keramik.

Timah hitam banyak digunakan untuk berbagai keperluan karena mempunyai sifat-sifat, antara lain: Mempunyai titik cair rendah sehingga jika digunakan dalam bentuk cair dibutuhkan teknik yang cukup sederhana dan tidak mahal. Timah hitam merupakan logam yang lunak sehingga mudah diubah menjadi berbagai bentuk. Timah hitam dapat membentuk alloy (suatu persenyawaan) dengan logam lainnya, dan alloy yang terbentuk sifatnya akan berbeda dengan timah hitam secara umurn.

Proses pencemaran Pb pada makanan, antara lain terjadi pada hasil olahan makanan dalam kaleng. Kontaminan ini antara lain dapat berasal dari kaleng karena proses pematrian pada saat penyambungan kaleng, atau dari campuran cat yang digunakan untuk melindungi metal. Air minum dapat tercemar cukup tinggi oleh timbal karena menggunakan pipa berlapis Pb.

Keberadaan timbal dalam tubuh dapat berpengaruh dan mengakibatkan berbagai gangguan fungsi jaringan dan metabolisme. Gangguan mulai dari sintesis haemoglobin darah, gangguan pada ginjal, system reproduksi, penyakit akut atau kronik sistem syaraf serta gangguan fungsi paru-paru. Pengaruh lain yang sangat mengkawatirkan kita, bahwa seorang anak kecil dapat menurun dua point tingkat kecedasannya jika terdapat 10 20 g/dl pb dalam dalam darahnya.

Beberapa penelitian juga mendapatkan bahwa timbal dapat merusak jaringan saraf, fungsi ginjal, menurunkan kemampuan belajar dan membuat anak hiperaktif.  Kondisi dapat dijelaskan bahwa jaringan lunak tubuh yang dapat menyerap Pb antara lain otak, hati, limfa, ginjal dan sumsum belakang dalam bentuk Pb posfat, kemudian mengalami redistribusi.

Pengaruh pencemaran pB dalam tubuh, bahkan dapat mempengaruhi kecerdasan. Tingkat kecerdasan anak (yang tubuhnya telah terkontaminasi Pb sampai 10 mikrogram) bisa menurun atau bahkan menjadi idiot. Pada ibu hamil dapat menyebabkan berkurangnya kesuburan, keguguran atau mempengaruhi perkembangan sel otak janin, bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan. Timbal yang terserap oleh anak, walaupun dalam jumlah kecil, dapat menyebabkan gangguan pada fase awal pertumbuhan fisik dan mental yang kemudian berakibat pada fungsi kecerdasan dan kemampuan akademik.

Reference: Palar. H, 2004, Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. PT Rineka Cipta.Jakarta.

 

Sample text

Sample Text

Sample Text