Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Gigi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gigi. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Oktober 2012

Cara Mengobati Sakit Gigi Berlubang Secara Alami

Assalamualaikum Wr .Wb , Selamat datang di blog "http://makalahkesehatan1.blogspot.com/" yang tentunya menyajikan beberapa tips-tips tentang seputar kesehatan. Dan untuk perjumpaan kita kali ini, saya akan menjelaskan Cara Mengobati Sakit Gigi Berlubang Secara Alami  yang dapat anda baca secara lengkap beserta tips-tips yang dapat membantu anda dalam mengatasi segala problem (Masalah) kesehatan. Dibawah ini anda dapat membaca artikel Cara Mengobati Sakit Gigi Berlubang Secara Alami secara jelas dan mudah untuk anda praktekan, langsung saja ya silahkan baca artikel berikut :


Cara Mengobati Sakit Gigi Berlubang Secara Alami 
Cara Mengobati Sakit Gigi Berlubang Secara Alami dapat anda baca dan pelajari sesuai dengan isi dari artikel tutorial berikut ini :


1. Cara Mengobati Sakit Gigi Berlubang Dengan Getah Jarak.
Jarak ( ricinus communis ) , mengandung minyak kastor yang berkhasiat obat,selain mengurangi rasa nyeri ,minyak ini mengetahui meredam terjadinya peradangan. Ambilah getah daun jarak , tuangkan pada kapas ,lalu masukkan ke dalam gigi yang berlubang secara berulang-ulang ,niscaya rasa sakitnya akan berkurang dan cepat sembuh. 

 2. Cara Mengobati Sakit Gigi Berlubang Dengan Garam 
Garam mengandung zat yodium yang berguna untuk membersihkan kuman. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk menghilangkan rasa sakit pada gigi dengan cara larutkan garam dengan air hangat dan kemudian gunakan untuk berkumur. Lakukan secara teratur dan lihat Hasilnya. 

 3. Cara Mengobati Sakit Gigi Berlubang Minyak Cengkeh 
Minyak cengkeh mempunyai manfaat untuk menghilangkan rasa sakit dan untuk menghilangkan rasa sakit gunakan kapas yang sudah ditetesi minyak cengkeh dan taruh kapas tersebut pada lubang gigi yang sakit. 

 4. Cara Mengobati Sakit Gigi Berlubang Jeruk Limau 
Jeruk limau ini mengandung banyak vitamin C yang sudah dinyatakan mampu menghilangkan rasa sakit pada gigi, mencegah gigi berlubang, pendarahan yang sering terjadi pada gusi. 

5. Cara Mengobati sakit gigi berlubang Dengan Es batu 
Es batu dapat membantu meringankan sakit gigi, caranya ambil sepotong kecil es batu dan letakkan diantara jari telunjuk dan ibu jari. Pijat perlahan di bagian tersebut, rasakan perlahan rasa sakit itu mulai akan hilang. Pemijatan nyaman oleh si es balok menyentuh sel-sel syaraf yang terdapat di sekitar ibu jari dan telunjuk. Pemijatan yang dilakukan si es balok langsung ke pusat syaraf, sehingga 60%-90% rasa sakit yang Anda rasakan cepat menghilang. Lebih aman daripada obat pereda sakit kimia. 

6. Cara mengobati sakit gigi berlubang Dengan Bawang putih Potong halus si bawang putih (1 siung bawang putih), kemudian taburkan sedikit garam. Kunyah di daerah yang sakit dan tak lama kemudian rasa sakit di gigi Anda akan menghilang perlahan. Anda juga boleh menggunakannya sebagai terapi untuk memperkuat struktur tulang gigi Anda. 

 7. Cara mengobati sakit gigi berlubang Dengan Bawang 
Merah Bukan hanya si bawang putih saja, karena si bawang merah juga tidak ketinggalan untuk meringankan rasa sakit gigi Anda, hehe kayak cerita anak aja... Kandungan enzim dalam bawang merah dapat membantu membunuh kuman-kuman jahat di dalam mulut. Jadi Anda akan memperoleh manfaat lain dengan menggunakan bawang merah ini. Mengatasi sakit gigi sekaligus membasmi kuman, double jadi manfaatnya. 

8. Cara mengobati sakit gigi berlubang Dengan Jeruk Nipis 
Peras sari jeruk nipis, pulaskan pada bagian gigi yang sakit sesendok demi sesendok setiap 10 menit sampai sari jeruk tersebut habis. Selain kaya akan vitamin C, sari jeruk tersebut juga berfungsi sebagai pereda sakit gigi Anda. 

 9. Cara Mengobati sakit gigi berlubang Dengan Tepung Lada 
Jagalah kebersihan gigi dengan tepung lada, gunakan sedikit tepung lada dengan 1/4 sendok teh garam. Jika digunakan secara teratur setiap hari bisa mencegah gigi berlubang, nafas bau, gusi berdarah, sakit gusi, dan sakit gigi. Untuk meredakan sakit gigi, Anda bisa menempatkan campuran tepung lada dan minyak cengkeh ke dalam lubang gigi. Gigi sensitif pun bisa diatasi dengan cara yang sama. 

10. Cara mengobati sakit gigi berlubang Dengan Cabai Hijau Tempelkan pada gigi yang sakit cabai hijau secukupnya yang dipotong ujungnya sedikit kemudian dibakar. Setelah panas, cabai ditempelkan pada bagian gigi yang sakit. Gunakan secara teratur 2 kali sehari. 

 11. Cara mengobati sakit gigi berlubang Dengan Avokad dan Daun Kembang Sore
Keringkan/sangrai 1 biji avokad, lalu haluskan sampai menjadi bubuk. Setelah itu masukkan bubuk biji avokad ke gigi yang berlubang, kemudian tutup dengan kapas. Anda juga bisa menggunakan daun kembang sore. Ambil beberapa daun, rebus hingga matang dengan air. Tiriskan lalu diminum sambil dikumur. 12. Tips cara mengobati sakit gigi berlubang Dengan Belimbing Wuluh Ambil beberapa buah belimbing wuluh. Cuci bersih, makanlah dengan menggunakan garam. Kunyah dengan menggunakan gigi yang sakit.

Jika Artkel Tips/Cara diatas Cara Mengobati Sakit Gigi Berlubang Secara Alami  tidak memberikan efek apapun, saya sarankan untuk melakukannya secara rutin, insyaallah jika anda melakukannya dengan rutin dan berdoa maka masalah kesehatan tersebut akan cepat sembuh. Terima Kasih dan selamat menjalankan aktifitas, Assalamualaikum.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Cara Menghilangkan Karang Gigi Dengan Cepat, Alami dan tanpa Dokter

Assalamualaikum Wr .Wb , Selamat datang di blog "http://makalahkesehatan1.blogspot.com/" yang tentunya menyajikan beberapa tips-tips tentang seputar kesehatan. Dan untuk perjumpaan kita kali ini, saya akan menjelaskan Cara Menghilangkan Karang Gigi Dengan Cepat, Alami dan tanpa Dokter yang dapat anda baca secara lengkap beserta tips-tips yang dapat membantu anda dalam mengatasi segala problem (Masalah) kesehatan. Dibawah ini anda dapat membaca artikel kesehatan secara jelas dan mudah untuk anda praktekan, langsung saja ya silahkan baca artikel berikut :

Cara Menghilangkan Karang Gigi Dengan Cepat, Alami dan tanpa Dokter

Untuk Cara Menghilangkan Karang Gigi Dengan Cepat, Alami dan tanpa Dokter dapat anda baca dan anda lakukan dirumah sesuai dengan tutorial tips berikut ini :
1. Menyikat gigi dengan benar minimal dua kali sehari.
Bagian gusi juga harus kita bersihkan. Gusi bagian atas dengan menggosoknya ke arah atas ke bawah, sedangkan untuk gusi rahang bawah dari arah bawah ke atas.
2. Biji asam kawak bisa kita gunakan untuk menghilangkan karang gigi.
Caranya sangrai biji asam kawak, kemudian haluskan dengan cara diblender atau ditumbuk. Bubuk dari biji asam kawak bisa kita gunakan untuk menggosok karang gigi dengan bantuan sikat gigi atau kapas.
3. Cengkeh juga bisa kita gunakan untuk membersihkan karang gigi.
Siapkan cengkeh sebanyak 7 buah. Tumbuk halus dan hasilnya kita gunakan untuk menggosok karang gigi. Bubuk cengkeh ini bisa pula kita gunakan untuk berkumur.
4. Konsumsi buah apel - Mengonsumsi buah apel tanpa dikupas kulitnya juga akan membantu membersihkan gigi dari karang gigi. Selain manfaat dari kandungan gizinya, sekaligus menjaga gigi dari plak. Tentu saja ini harus kita lakukan secara rutin.
Jika Artkel Tips/Cara diatas Cara Menghilangkan Karang Gigi Dengan Cepat, Alami dan tanpa Dokter tidak memberikan efek apapun, saya sarankan untuk melakukannya secara rutin, insyaallah jika anda melakukannya dengan rutin dan berdoa maka masalah kesehatan tersebut akan cepat sembuh. Terima Kasih dan selamat menjalankan aktifitas, Assalamualaikum.

Jumat, 29 Juni 2012

Ingin Hamil, Rajin Sikat Gigi Saja!

Anda dan suami tengah merencanakan kehamilan. Salah satu hal yang umum dilakukan ialah mengonsumsi makanan sehat dan suplemen mengandung vitamin, serta mineral. Kini, Anda dapat melakukan cara lain dengan rajin sikat gigi.

Sebuah klaim dari ahli kesuburan menyarankan bagi wanita yang ingin hamil harusnya mulai memerhatikan kesehatan gigi mereka. Ditambahkan ahli kesuburan University of Western Australia, penyakit dalam gusi secara signifikan menghambat proses kehamilan.

Dalam studi mereka, peneliti menemukan wanita yang memiliki penyakit di gusi membutuhkan waktu dua bulan lebih untuk hamil dibandingkan mereka yang memiliki gigi dan gusi yang sehat. Umumnya, dibutuhkan waktu hingga 7 bulan hingga si pemilik penyakit gusi tadi untuk hamil, sementara proses kehamilan wanita yang rajin menyikat dan membersihkan sela-sela gigi mereka hanya membutuhkan waktu lima bulan saja.

Penyakit gusi disebabkan oleh plak yang menumpuk. Penyakit yang mengakibatkan bau mulut dan gusi berdarah, jika tidak segera diatasi akan menyebabkan gigi berlubang, gusi mundur dan gigi terlepas. Gusi berdarah disebabkan kesalahan saat menyikat gigi sehingga 700 tipe bakteri dapat masuk ke dalam aliran darah. Demikian seperti dilansir Dailymail, Rabu (6/7/2011).

Kendati belum dijelaskan dengan detail mengenai kaitannya, tapi gusi yang terinfeksi dapat melepaskan kimiawi imflamasi yang mengaktifkan sistem imun tubuh dan membuat panas dinding rahim. Sehingga memengaruhi proses pembuahan pada telur yang subur.

Ditambahkan peneliti, pengaruh ini serupa dengan wanita yang kegemukan. "Untuk pertama kalinya, penyakit gusi dihubungkan dengan ketidakmampuan wanita untuk hamil. Maka wanita seharusnya memeriksakan diri mereka rutin ke dokter gigi sebelum memiliki anak. Umumnya penyakit gusi mudah disembuhkan," ucap peneliti.

Lebih dari seperempat wanita hamil memiliki penyakit gusi, dijelaskan peneliti. Buktinya terlihat dengan semakin banyaknya kasus kelahiran prematur, keguguran, dan bayi mati waktu dilahirkan.

Hasil penelitian tersebut dilakukan terhadap 4.000 wanita yang telah hamil 12 pekan dan 26 persen dari mereka mengaku memiliki penyakit gusi.

Ingin Hamil, Rajin Sikat Gigi Saja!

Anda dan suami tengah merencanakan kehamilan. Salah satu hal yang umum dilakukan ialah mengonsumsi makanan sehat dan suplemen mengandung vitamin, serta mineral. Kini, Anda dapat melakukan cara lain dengan rajin sikat gigi.

Sebuah klaim dari ahli kesuburan menyarankan bagi wanita yang ingin hamil harusnya mulai memerhatikan kesehatan gigi mereka. Ditambahkan ahli kesuburan University of Western Australia, penyakit dalam gusi secara signifikan menghambat proses kehamilan.

Dalam studi mereka, peneliti menemukan wanita yang memiliki penyakit di gusi membutuhkan waktu dua bulan lebih untuk hamil dibandingkan mereka yang memiliki gigi dan gusi yang sehat. Umumnya, dibutuhkan waktu hingga 7 bulan hingga si pemilik penyakit gusi tadi untuk hamil, sementara proses kehamilan wanita yang rajin menyikat dan membersihkan sela-sela gigi mereka hanya membutuhkan waktu lima bulan saja.

Penyakit gusi disebabkan oleh plak yang menumpuk. Penyakit yang mengakibatkan bau mulut dan gusi berdarah, jika tidak segera diatasi akan menyebabkan gigi berlubang, gusi mundur dan gigi terlepas. Gusi berdarah disebabkan kesalahan saat menyikat gigi sehingga 700 tipe bakteri dapat masuk ke dalam aliran darah. Demikian seperti dilansir Dailymail, Rabu (6/7/2011).

Kendati belum dijelaskan dengan detail mengenai kaitannya, tapi gusi yang terinfeksi dapat melepaskan kimiawi imflamasi yang mengaktifkan sistem imun tubuh dan membuat panas dinding rahim. Sehingga memengaruhi proses pembuahan pada telur yang subur.

Ditambahkan peneliti, pengaruh ini serupa dengan wanita yang kegemukan. "Untuk pertama kalinya, penyakit gusi dihubungkan dengan ketidakmampuan wanita untuk hamil. Maka wanita seharusnya memeriksakan diri mereka rutin ke dokter gigi sebelum memiliki anak. Umumnya penyakit gusi mudah disembuhkan," ucap peneliti.

Lebih dari seperempat wanita hamil memiliki penyakit gusi, dijelaskan peneliti. Buktinya terlihat dengan semakin banyaknya kasus kelahiran prematur, keguguran, dan bayi mati waktu dilahirkan.

Hasil penelitian tersebut dilakukan terhadap 4.000 wanita yang telah hamil 12 pekan dan 26 persen dari mereka mengaku memiliki penyakit gusi.


Sumber: Mom&Kiddie

Minggu, 29 Mei 2011

Gigi Ngilu, Pertanda Gigi Sensitif

GIGI terasa ngilu saat mengonsumsi minuman yang terlalu dingin, itu merupakan pertanda awal gigi mulai sensitif. Apa pemicu gigi menjadi sensitif?

Gigi sensitif adalah suatu kondisi ketika gigi terasa ngilu tajam dan pendek saat terpapar makanan atau minuman yang terlalu dingin, panas, manis, asam atau saat terkena sentuhan suatu alat (sikat gigi misalnya).

"Banyak faktor penyebab timbulnya gigi sensitif ini, di antaranya faktor pola makan dan gaya hidup," ucap dokter gigi dari Universitas Dr Moestopo (beragama), Drg Lita Darmawan.

Lita melanjutkan, faktor pola makan cukup banyak mempengaruhi gigi sensitif. Proses itu bisa terjadi karena orang Timur lebih banyak mengonsumsi nasi (karbohidrat). 20 menit setelah makan, bakteri akan mengubah glukosa dan karbohidrat menjadi asam. Inilah yang disebut proses fermentasi dan proses tersebut akan terjadi berulang-ulang.



Bakteri, asam, sisa makanan, dan air liur akan membentuk plak. Plak pada gigi yang tidak dibersihkan akan termineralisasikan menjadi karang gigi yang terletak pada leher gusi. Di sinilah terjadi peradangan gusi (ginggivitis) karena gusi mengalami abrasi dan hal itu bisa menyebabkan gigi sensitif dan tanggalnya gigi.

"Konteksnya adalah semua itu dimulai dari bakteri," tutur Dokter Lita.

Menurut penelitian para ahli dan hasil survei yang dilakukan, sekitar 34 persen dari populasi penduduk di Indonesia memiliki gigi yang sensitif. Kondisi ini diperkuat dari hasil penelitian yang diterbitkan International Dental Journal (2002, UK) yang menyatakan, prevalensi gigi sensitif di kalangan masyarakat Indonesia masih rendah.

"Dok, aku habis makan es krim, tetapi kenapa ya kok gigi saya langsung ngilu?" begitu mayoritas keluhan pemilik gigi sensitif usai menikmati es krim.

"Keluhan-keluhan seperti itu banyak dialami pasien yang datang berobat pada saya," cerita Lita yang juga pakar estetika gigi dari klinik Kharinta Dental & Skin Care di kawasan Bintaro ini.

"Dari keadaan tersebut, maka si penderita menjadi sulit makan dan minum yang sifatnya asam, manis, panas, dan dingin karena akan merasakan ngilu pada gigi," tambahnya.

Hal senada dikatakan dokter gigi dari Universitas Indonesia Drg Anton Rahardjo MKM PhD. Dia menyebutkan, gigi sensitif disebabkan abrasi akibat cara menyikat gigi yang terlalu kuat atau konsumsi makanan atau minuman yang mengandung asam sehingga menyebabkan terbukanya bagian gigi yang disebut dentin.

"Pada umumnya, para penderita gigi sensitif akhirnya menghindari makanan dan minuman favorit mereka seperti es krim, permen, atau cokelat, dan bahkan hanya mengunyah di satu bagian gigi saja untuk menghindari rasa sakit yang ditimbulkan gigi sensitif tersebut," ucap Anton yang berbicara pada acara yang diadakan pasta gigi Sensodyne.

Anton mengatakan, selain itu gigi sensitif juga bisa disebabkan caries dalam, erosi (asam lambung, mual-mual, dan muntah-muntah misal pada wanita hamil, masalah pada saliva), dan juga bisa karena pemakaian bahan pemutih gigi. Atau bisa juga dari gaya hidup seseorang yang perokok, karena kandungan rokok bisa mempengaruhi kesensitifan pada gigi.

"Ngilu tersebut timbul jika ujung tubula dentin yang terbuka terkena rangsangan, sehingga mengubah arah pergerakan cairan di dalam tubula dentin yang diteruskan ke sensor saraf," tutur Anton yang juga praktik di Rumah Sakit Ananda, Bekasi.

Di AS, kasus gigi sensitif terjadi sebanyak 40 juta orang/tahun. Dan rata-rata 8?57 persen terjadi pada gigi orang dewasa yaitu usia 20?30 tahun dan meningkat di umur 50 tahun.

"Hal tersebut terjadi karena adanya proses yang dilakukan oleh bakteri di dalam mulut kita. Karena gigi sensitif ini tidak langsung terjadi. Misalnya, kita sering memakan permen waktu kecil, maka kita akan mengalami gigi sensitif jika sudah dewasa nanti," ungkap Lita.


Sumber: www.lifestyle.okezone.com

Bau Mulut Pertanda Gigi Berlubang

GIGI tak sekadar aksesori di mulut. Gigi pun wajib dijaga kesehatannya. Nah, status gigi sehat dapat dilihat dari ada tidaknya karies atau gigi yang berlubang.

Dokter gigi dari Universitas Indonesia, DrdrgIndirawati Tjahja N SpPerio menegaskan, status kesehatan gigi dan mulut pada seseorang dapat dideteksi melalui adanya lubang gigi (karies) dan penyakit gusi (penyakit periodontal). "Banyak faktor yang menyebabkan seseorang mengalami penyakit gigi berlubang, dan masalah gigi berlubang ini adalah masalah terbanyak," ujar dokter yang praktik di RS Saint Carolus di daerah Salemba Raya ini.

Dia mengatakan, penyebab penyakit tersebut adalah akumulasi plak dari kebersihan mulut yang buruk. Umumnya, karies ini sudah ditemukan dalam keadaan yang sudah parah atau sudah lanjut.



"Karies ditimbulkan dari plak, yang terjadi karena melakukan gosok gigi yang kurang bersih. Di dalam mulut terdapat banyak kuman yang bersarang," ucap dokter yang baru saja meraih gelar doktor pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Plak gigi adalah suatu lapisan bening, yang sangat tipis, terdiri dari mucusdan kumpulan bakteri yang menyelimuti permukaan gigi. Plak gigi hanya dapat dilihat dengan pewarnaan pada gigi. Pewarna yang digunakan juga khusus dikenal dengan nama disclosing agent. "Dari adanya plak ini, pelan- pelan lubang akan timbul dari yang kecil, dan akhirnya membesar," tutur Indirawati.

Dia menambahkan, air liur juga bisa menjadi faktor. Di dalam mulut ini, terdapat dua jenis air liur, yaitu jenis asam dan basah. Biasanya, pada seseorang yang mempunyai air liur basah cenderung tidak mempunyai lubang pada gigi. Berbeda dengan air liur jenis asam yang lebih banyak menyebabkan karies.

"Untuk masalah gigi berlubang ini, awalnya bermula dari faktor makanan. Selain itu, juga faktor air ludah juga ikut memengaruhi," sebut dokter yang juga berprofesi sebagai peneliti di Litbang Departemen Kesehatan RI.

Pada anak-anak misalnya, beberapa jenis makanan bisa berpengaruh. Sebut saja seperti makanan yang terlalu banyak mengandung gula. Misal pada susu botol yang mereka konsumsi karena kandungan karbohidrat yang banyak.

"Semua makanan yang dikonsumsi anak-anak hendaknya mendapat pengawasan dari orangtuanya," ujarnya.

Indirawati melanjutkan, faktor lingkungan juga memengaruhi. Misalnya saja ada orang yang mengatakan bahwa biaya perawatan yang mahal sehingga membuat seseorang semakin malas ke dokter gigi.

"Banyak yang menyepelekan penyakit karies. Mereka tidak memedulikannya. Padahal jika penyakit ini dibiarkan, akan menimbulkan berbagai macam penyakit. Salah satunya kanker mulut," ucapnya

Dokter yang juga praktik di rumahnya di kawasan Cempaka Putih ini menambahkan, bau mulut pada seseorang juga menjadi faktor akibat adanya karies.

Penyebabnya, mulut yang mempunyai banyak kuman ini jika terdapat lubang, maka kuman akan terus masuk ke dalam gigi dan akan berkembang biak sehingga akan menimbulkan bau. "Jika keadaan gigi atau mulut seseorang bersih, maka bau mulut tidak akan datang," ujarnya.

Pernyataan yang sama mengenai bau mulut ini juga dilontarkan dokter gigi dari Universitas Dr Moestopo (beragama) Drg Lita Darmawan.

"Bau mulut atau halitosis, penyebab umumnya adalah penyakit jantung, diabetes, atau gangguan pencernaan, sedangkan penyebab lokalnya adalah lubang gigi, karang gigi, dan sisa makanan," ucap Lita yang juga pakar estetika gigi dari klinik Kharinta Dental di kawasan Bintaro.

Lita menuturkan, tandatanda dari bau mulut ini adalah mulut kering, air liur kental, dan tidak nyaman untuk berbicara. Itu penyebabnya adalah keseimbangan asam mulut yang hilang.

Indirawati mengatakan, gigi adalah faktor lokal infeksi terhadap kesehatan di seluruh tubuh seseorang. Hal itu karena kuman yang ada di dalam gigi akan terbawa ke seluruh tubuh sehingga menimbulkan penyakit. "Itulah mengapa penting menjaga kesehatan gigi," pesannya.

Luangkan Waktu, Gelar "Ritual" Perawatan Gigi di Rumah

UMUMNYA faktor penyebab datangnya karies adalah kurangnya kesadaran atau ketidaktahuan masyarakat akan pentingnya kesehatan mulut. Terlebih biaya perawatan yang tinggi dan perilaku dokter gigi yang pasif cenderung memberi pelayanan kuratif terhadap pasien.

"Dalam keseharian, diharapkan ada kerja sama antara pasien yang menderita karies (faktor umur dan jenis kelamin), rumah sakit (dari pihak dokter gigi yang merawat), dan puskesmas yang dapat meningkatkan kesehatan pada gigi," ujar Indirawati. Sebenarnya perawatan dalam menjaga kesehatan gigi ini mudah dilakukan. Cukup dari hal yang sederhana saja, yaitu perawatan yang dilakukan di rumah atau yang dikenal dengan homecare.

Ada tiga "ritual" membersihkan gigi di rumah (homecare) yang dianjurkan oleh dokter gigi di dunia: menyikat gigi, berkumur, dan menggunakan benang gigi. Di Indonesia, penggunaan obat kumur antiseptik juga telah mendapat rekomendasi dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia sebagai salah satu syarat untuk mencegah timbulnya penyakit mulut dan gigi.

"Banyak orang yang mengabaikan pentingnya homecare setelah perawatan yang meliputi menyikat gigi, berkumur, dengan obat kumur antiseptik dan menggunakan benang gigi, atau dental fluss," kata Lita yang mengikuti program kursus mengenai perawatan gigi di Amerika Serikat.

Banyak pasien datang dengan tuntutan ingin segera mendapatkan gigi yang sempurna, baik warna maupun bentuk. Mereka pun tidak segan mengeluarkan biaya besar untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Alangkah sia-sianya semua usaha ini jika pasien tidak melakukan perawatan kesehatan gigi di rumah untuk mempertahankan hasil perawatan dokter gigi.

"Kelalaian melakukan homecare akan mengakibatkan kegagalan perawatan dan meningkatnya biaya perawatan gigi," tutur Lita saat seminar diselenggarakan oleh produk obat kumur Listerine. Banyak kebiasaan sehari-hari yang menambah rusak gigi.

Membersihkan gigi dengan cara yang salah, misalnya. Begitu juga dengan terlalu jarang membersihkan gigi hingga plaknya masih melekat pada gigi, mengonsumsi makanan yang memiliki daya rusak tinggi terhadap gigi, merokok, minuman kopi, dan meminum minuman beralkohol terlalu banyak.

Menurut dokter gigi dari Universitas Trisakti, drg Joko Kusnoto DDS, MS, PhD, untuk mencegah masalah yang terjadi pada gigi, selain menyikat bisa pula berkumur dengan obat kumur. "Obat kumur antiseptik bisa digunakan untuk membersihkan daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh sikat gigi, pasien dianjurkan menggunakan obat kumur," ucap dokter mengajar pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti itu.

Lita menilai sebagian orang menganggap perawatan gigi kurang penting, tetapi jika mereka sudah merasa sakit, barulah mereka merasa bahwa merawat gigi itu penting.


Sumber: www.lifestyle.okezone.com

Jumat, 20 Mei 2011

Hati-hati, Bleaching Bisa Membuat Gigi Rapuh!

SENYUM yang cemerlang seringkali disamakan dengan senyuman yang disertai kilauan gigi yang putih dan bersih. Untuk itulah, orang berusaha memutihkan giginya. Dan bleaching adalah salah satu jalan memutihkan gigi. Masalahnya, bleaching bisa seperti pisau bermata dua. Bisa memutihkan, bisa juga menghancurkan.

Terlihat lebih cantik dan menarik adalah keinginan semua orang. Karena itulah, orang berlomba-lomba untuk melakukan berbagai perawatan terhadap berbagai bagian tubuh. Tak hanya rambut, wajah dan kulit saja yang memerlukan perawatan khusus, tetapi juga gigi dan mulut yang merupakan bagian integral dari wajah.

Dua bagian yang disebutkan terakhir itu mendapat perhatian khusus karena gaya hidup dan kebiasaan telah membuat kedua bagian itu tak enak dipandang mata. Kebiasaan itu, antara lain, menghisap rokok, minum kopi, dan teh. Zat-zat yang terdapat dalam rokok, kopi dan teh itu bisa mengubah warna gigi.

Meskipun demikian, masih bisa dipersoalkan apakah gigi yang normal itu selalu berwarna putih atau tidak. Anggapan bahwa gigi yang normal selalu berwarna putih ternyata tidak benar. Pada dasarnya masing-masing individu memiliki rentan warna normal gigi yang berbeda-beda, mulai dari agak kekuningan, oranye, cokelat, bahkan abu-abu.



"Warna gigi tergantung dari warna kulit kita," kata drg Prita Pradnya Paramita dari Klinik Anakku. Dan tidak semua orang memiliki rentang warna gigi tersebut. Kadang-kadang warna gigi berubah menjadi lebih tua atau tampak kusam. Itulah diskolorasi gigi.

Ada dua tipe diskolorasi. Pertama, disklorasi karena faktor ekstrinsik akibat stain pada permukaan gigi. Penyebab umumnya adalah kopi, teh, perwarna makanan buatan, anggur, berry, dan merokok, atau mengunyah tembakau. Kedua, diskolorasi intrinsik yang lebih kompleks karena selain melibatkan email, juga mencapai dentin. Penyebabnya, antara lain, erythroblastosis fetalis, jaundice, porphyria, dental fluorosis, antibiotik tetracycline, material perawatan endodontik, dan material restorasi.

Bleaching untuk Mengatasi Diskolorasi

Bleaching merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah diskolorasi. Bleaching adalah pembuangan noda atau warna dengan bahan kimia.

"Sebenarnya bleaching itu bertujuan untuk membersihkan gigi dengan menggunakan hydrogen peroxide dan carbamide peroxide. Bukan untuk memutihkan gigi, tetapi untuk menghilangkan warna-warna yang bukan warna asli dari gigi seseorang. Terutama karena warna asli gigi tidak semua putih, "jelas drg Prita Pradnya Paramita dari Klinik Anakku.

Menurutnya, ada empat pilihan perawatan gigi dengan bleaching. Pertama, in office bleaching yaitu proses bleaching yang dilakukan di klinik-klinik perawatan gigi. "Sebelum bleaching dilakukan, biasanya dokter akan memberikan analisa terlebih dahulu boleh atau tidaknya seseorang melakukan bleaching. Kalau orang tersebut memiliki masalah-masalah tersebut akan diatasi terlebih dahulu sebelum dilakukan bleaching. Karena itu, bleaching memang seharusnya dilakukan oleh dokter yang ahli," tambah dokter cantik ini.

Gigi diisolasi dan diaplikasikan pasta peroksida yang diaktivasi dengan laser atau cahaya. Perawatan office bleaching memiliki tiga teknik, yakni aplikasi hidrogen peroxide 35 persen dengan pemanasan (thermocatalytic technique), aplikasi hidrogen peroxide 35 persen dengan pemanasan dan penyinaran (thermo-photocatalytic technique) dan aplikasi hidrogen peroxide 35 persen tanpa penyinaran maupun pemanasan.

Kedua, at home bleaching, yang kerap disebut tray bleaching, yaitu perawatan yang dilakukan sendiri dengan menggunakan mouth guard atau tray yang diisi dengan gel carbamide peroxide diisikan ke dalam tray kemudian diaplikasikan ke gigi selama sekitar 45 menit sampai 4 jam, tergantung konsentrasi gel bleaching yang digunakan. Konsentrasi gel bleaching untuk perawatan ini berkisar antara 10-30 persen carbamide peroxide. Perawatan at home bleaching dilakukan selama 2-3 minggu sampai hasil yang diharapkan tercapai. Perawatan ini menghabiskan biaya lebih sedikit dibandingkan dengan in office bleaching.

Ketiga, whitening strip yang berupa plastik yang dapat melepaskan bahan bleaching dan didesain sedemikian rupa sehingga dapat menempel pada gigi. Strip mengandung carbamide peroxide dengan konsentrasi hanya 7-14 persen. Kandungan carbamide peroxide yang rendah ini menuntut waktu aplikasi yang lebih lama dibandingkan dengan tray. Di sini pasien tidak perlu melakukan pencetakan gigi untuk membuat tray dan strip. Pun kemungkinan terjadinya sensitivitas gigi lebih kecil dibandingkan dengan perawatan lainnya.

"Dalam pasta gigi berpemutih biasanya kandungan peroksidanya lebih rendah dari batas maksimal yang ditetapkan oleh American Dental Association, yaitu 3,6 persen," ujar drg Prita.

Bleaching dan Kesehatan Gigi

Bleaching tidak selamanya memberikan hasil yang diharapkan. Ada beberapa kOndisi di mana bleaching justru sangat tidak dianjurkan untuk dilakukan. Apa saja?

Menurut drg Prita Pradnya Paramita dari Klinik Anakku, pertama proses bleaching tidak dapat mencerahkan mahkota gigi yang terbuat dari bahan komposit, yang berwarna kurang cerah. Kedua, jika bleaching dilakukan pada gigi yang memiliki area sangat transparan pada tepi insisal gigi anterior, makin meningkatlah transparansi gigi dan menimbulkan warna keabuan sebagai pancaran kondisi gelap rongga mulut.

Ketiga, jika ada bintik-bintik cokelat atau abu-abu gelap akibat tetracycline, gigi akan kurang merespon proses bleaching ekstrinsik dan lebih membutuhkan proses bleaching intristik. Kelima, bleaching tidak akan dapat mencerahkan warna gigi yang hitam, cokelat atau putih akibat proses pembusukan. Terakhir, bleaching tidak dapat mencerahkan warna gigi yang gelap akibat tambalan amalgam yang telah menahun.

"Amalgam adalah tambalan pada gigi dengan menggunakan campuran antara timah hitam dan mercury. Tetapi belakangan ini amalgam tidak lagi digunakan karena jika terjadi kebocoran, kandungan mercury yang berada di dalamnya akan buruk sekali bagi kesehatan," sambung drg Prita.

Tidak semua orang dapat menghasilkan prognosis yang baik agar bisa melakukan perawatan bleaching. Perawatan bleaching pada para perokok berat, peminum teh dan kopi akan memberi prognosis baik apabila menghentikan kebiasaan selama proses perawatan. Jika orang tersebut memiliki warna stain keabu-abuan, proses bleaching akan lebih sulit dibandingkan dengan yang memiliki warna kekuningan.

Untuk kasus penderita fluorosis, proses bleaching tidak mampu menghilangkan bintik putih, sehingga bintik putih tersamar. Gigi penderita fluorosis juga tidak dapat dirawat dengan bleaching jika pasien terus mengkonsumsi air yang mengandung fluoride berkadar tinggi.

Bagi pemilik gigi normal dan tidak bermasalah yang ingin melakukan perawatan untuk kepentingan kosmetis, amankah bleaching dilakukan? Drg Prita mengatakan, bleaching aman bagi kesehatan gigi jika dilakukan sesuai dengan peraturan yang ada.

"Pada dasarnya, bleaching bekerja seperti pembersih lantai yang bertujuan untuk mengikis kotoran-kotoran yang ada di permukaannya. Soda kuat yang terkandung di dalamnya bisa menyingkirkan kotoran. Tetapi jika terlalu sering dilakukan, akan merusak gigi dan membuat gigi menjadi sensitif," terangnya.

Oleh karena itu, proses bleaching paling tidak diperbolehkan setiap enam bulan sekali. Rasa sensitif yang timbul setelah proses bleaching biasanya hilang dalam beberapa waktu. Namun, jika bleaching dilakukan terlalu sering, rasa sensitif tersebut bisa permanen. Bahkan gigi bisa rapuh dan menimbulkan karies gigi.

Hydrogen peroxide dan carbamide peroxide sebagai bahan yang digunakan dalam proses bleaching sebenarnya merupakan bahan yang reaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika mukosa rongga mulut berkontak dengan carbamide peroxide 2 persen selama 60 detik sehari selama 3 hari saja sudah dapat secara nyata menyebabkan peradangan mukosa mulut. Padahal, at home bleaching membutuhkan waktu kontak lebih lama, yakni dalam hitungan jam, sehingga risikonya pun lebih besar.


Sumber: www.lifestyle.okezone.com

Waspada Penyebab Gigi Berlubang

DALAM lagu, sakit gigi diperumpamakan lebih menyiksa dari sakit hati. Nyeri pada bagian tubuh itu memang mengganggu. Seringkali dipicu oleh gigi berlubang.

Gigi yang sakit memang dapat mengganggu segala aktivitas seseorang. Terutama saat bagian gigi tidak utuh lagi alias berlubang.

Angka kerusakan gigi di Indonesia, berdasarkan survei kesehatan yang dilakukan Departemen Kesehatan RI pada tahun 2001 menemukan sekitar 70 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas, pernah mengalami kerusakan gigi. Pada usia 12 tahun, jumlah kerusakan gigi mencapai 43,9 persen, usia 15 tahun mencapai 37,4 pesren, usia 18 tahun sebanyak 51,1 persen, usia 35-44 mencapai 80,1 persen dan usia 65 tahun ke atas mencapai 96,7 persen.



Disusul dengan data Hasil Survei Kesehatan Nasional 2002 yang menunjukkan prevalensi gigi berlubang di Indonesia adalah sebesar 60 persen. Berarti dari setiap 10 orang Indonesia, 6 orang di antaranya menderita gigi berlubang.

Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Dr drg Tri Erri Astoeti MKes menuturkan, untuk memahami mengenai gigi berlubang, maka harus memperhatikan tiga komponen utama gigi di dalam mulut. Komponen tersebut yaitu gigi, mikroorganisme, dan makanan. Kemudian, faktor lainnya yang berpengaruh yaitu waktu. Semua faktor tersebut yang ada di dalam mulut saling berinteraksi. "Pada saat seseorang makan, maka sukrosa hasil dari fermentasi karbohidrat akan menghasilkan mikroorganisme yang berinteraksi dengan gigi. Dengan begitu, terjadi demineralisasi pada gigi. Jika terus terjadi, maka bisa mengakibatkan gigi berlubang" sebut Erri.

Kuman yang sering menjadi penyebab terjadinya lubang gigi adalah streptococcus mutans. Kuman itu berbentuk bulat yang mudah tumbuh di dalam mulut.

Sesaat setelah berada di dalam mulut, kuman itu akan menghasilkan cairan yang lengket. Bagian tersebut menjadi media yang baik bagi tumbuh kembangnya kuman lain yang dapat menyebabkan gigi berlubang.

Selain itu, ada juga kuman staphylococcus yang berbentuk batang. Kuman tersebut biasanya menyertai kuman streptococcus mutans. Kedua jenis kuman itu biasanya tumbuh pada sisa-sisa makanan yang membusuk. "Lambat laun, kuman akan bertambah banyak dan menghasilkan asam yang dapat merusak email gigi," sebut drg Erri.

Menurut Dental Coordinator/ Hygienist, Dental Services, Alfred I duPont Hospital for Children,Wilmington, Lisa A Goss RDH BS,gigi berlubang atau biasa disebut caries dapat terjadi ketika gigi tanggal atau patah. Selain itu, plak juga sering kali menjadi penyebabnya.

Dia menyebutkan, plak merupakan lapisan tipis yang lengket yang terbentuk dari bekas-bekas makanan yang tidak terangkat ketika menyikat gigi. "Bakteri dalam mulut akan mengeluarkan asam sehingga ketika plak terbentuk. Asam tersebut akan menghabiskan lapisan luar dari gigi yaitu enamel," papar Goss.

Saat gigi berlubang, Goss mengingatkan, penting untuk segera diperbaiki. Jika tidak segera diperiksakan ke dokter gigi, maka asam dalam mulut akan terus merusak enamel sehingga bagian dalam gigi akan mulai berlubang.


Sumber: www.lifestyle.okezone.com
 

Sample text

Sample Text

Sample Text