Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Kanker Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kanker Hati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Mei 2011

Waspadai Virus "Pintar" Penyebab Kanker Hati

DATA Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukan pada 2005 kanker telah membunuh lebih dari 206.000 orang di Indonesia. 12,5 persen berasal dari penderita kanker hati.

International Agency for cancer Research, GLOBOCAN 2002, menyebutkan kanker hati adalah enam dari kanker paling umum yang ditemukan di seluruh dunia dan merupakan penyebab kematian ketiga akibat kanker secara global.

"Kanker hati merupakan jenis kanker yang sering ditemukan di Indonesia," ucap dokter spesialis penyakit dalam Prof dr Ali Sulaiman SpPD PhD KGEH FACG.



Ali juga menambahkan, kanker hati terjadi apabila sel kanker berkembang pada jaringan hati. Adanya gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini, di antaranya kekurangan berat badan tanpa adanya alasan yang diketahui dan tanpa berusaha untuk mengurangi berat badan, kehilangan selera makan secara berkelanjutan, merasa kenyang setelah makan dalam porsi sedikit, pembengkakan di bagian kanan perut yang berada tepat di bawah tulang rusuk, warna kulit dan mata yang kuning kehijauan, keletihan yang tidak biasanya dan mual.

"Penyakit ini adalah penyakit yang tidak mengenal umur. Selain itu, masalah penyakit kanker hati ini sangat erat kaitannya dengan penyakit hepatitis B dan hepatitis C," ucap dokter yang juga menjabat sebagai Ketua Pokja Hepatitis Virus ini.

Meningkatnya penderita kanker hati setiap tahunnya ini disebabkan tingginya kasus hepatitis B dan C kronis di Indonesia. Dua penyakit ini penyebab terjadinya kanker hati. Selain itu penyakit ini sulit terdeteksi.

"Kanker hati (karsinoma hepatoseluler) disebabkan adanya infeksi hepatitis B kronis apabila terjadi dalam jangka waktu lama. Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan virus hepatitis B (VHB) yang menyerang hati. Selain itu hepatitis B dalam jangka waktu lama juga bisa menyebabkan pengerasan hati (sirosis), bahkan dapat menyebabkan kematian," ucap ahli hepatologi Departemen Penyakit Dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta ini.

Selanjutnya, fakta menunjukkan bahwa hepatitis B adalah penyebab kematian nomor 10 di dunia. Hingga saat ini, 2 miliar orang terinfeksi di seluruh dunia, dan 350 juta orang berlanjut menjadi pasien dengan infeksi hepatiatis B kronik. Di Indonesia sendiri diperkirakan angka kejadian infeksi hepatitis B kronik mencapai 5-10 persen dari total jumlah penduduk.

Ketua komisi Hubungan Masyarakat dari Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dr Irsan Hasan SpPD KGEH mengatakan, gejala infeksi virus hepatitis B pada orangtua berbeda dengan gejala yang terdapat pada anak-anak yang pengidap penyakit ini.

"Gejala infeksi virus hepatitisBsangatberkaitandengan aktivitas sistem imun tubuh. Serangan sistem imun terhadap sel hati yang mengandung virus akan menimbulkan kerusakan. Serangan bertubi-tubi akan menyebabkan kerusakan hebat. Kerusakan ini akan bermanifestasi berupa gejala seperti kuning, mual, lemas, dan sebagainya," paparnya.

Dia juga menambahkan, serangan bertubi-tubi hanya bisa terjadi jika sistem imun sudah terbentuk dengan baik. Pada anak kecil, sistem kekebalan tubuhnya (sistem imun) masih belum sempurna sehingga tidak mampu melakukan serangan terhadap sel hati. Akibatnya gejala jarang sekali muncul.

Sebagai dampaknya, virus tidak bisa dieliminasi sehingga infeksi jadi berlanjut alias menjadi kronik. Sebaliknya, pada dewasa sistem imun sudah sempurna sehingga virus beserta sel hati yang didiaminya dapat segera dihancurkan. "Konsekuensi kehancuran sel hati adalah timbulnya gejala," kata Irsan.

Dia juga mengatakan, hepatitis B dapat menular. Penularan virus ini bisa terjadi di antaranya karena kontak darah antara nonpenderita hepatitis B dan penderita hepatitis B.

Penyakit ini, Irsan menyebutkan, sebenarnya sering ditemukan tanpa gejala. Umumnya, si penderita terdeteksi saat check up. Banyak sekali pasien yang diobati tidak tahu kalau dirinya sudah sakit. "Virus ini adalah virus yang pintar karena dia (virus) berdiam diri di sel hati," ujar Irsan.

Beragamnya pengobatan hati bisa dilakukan bagi pasien ini. Umumnya cara pengobatan yang dilakukan si penderita untuk penyakit ini adalah dengan cara operasi dengan cara transpalasi hati.

Ketua dari PPHI dr Unggul Budihusodo SpPD KGEH menjelaskan bahwa transpalasi hati ini adalah satu-satunya pengobatan yang diakui secara total dapat menyembuhkan.


Sumber: www.lifestyle.okezone.com

Tidur Terlalu Malam Bisa Menyebabkan Kanker Hati

WASPADAILAH serangan kanker hati dalam tubuh Anda. Karena pada awalnya, kanker hati memang tanpa gejala apapun, bahkan seringkali orang menduga bahwa dirinya mengalami sakit maag. Lalu, apa saja yang harus diwaspadai?

Kanker hati merupakan jenis kanker terbesar di dunia dan berada dalam urutan kelima. Kanker hati sendiri terjadi apabila sel kanker berkembang pada jaringan hati. Kanker hati yang sering terjadi adalah Hepatocellural Carcinoma (HCC) dan ini merupakan komplikasi akhir yang serius dari hepatitis kronis, terutama sirosis yang terjadi karena virus hepatitis yang paling sering, terutama pada virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Pada hepatitis D hanya dapat menyerang penderita yang telah terinfeksi virus hepatitis B dan dapat memperparah keadaan penderita.
Tidur Terlalu Malam Bisa Menyebabkan Kanker Hati

Faktor risiko kanker hati di antaranya adalah virus hepatitis, aflatoksin, obesitas atau kegemukan, alkohol, diabetes, dan senyawa kimia vinil klorida. Aflatoksin merupakan salah satu contoh mitotoksin atau jamur beracun yang dihasilkan pada beras, jagung, gandum, serta biji-bijian lainnya, terutama kacang-kacangan yang tersimpan dalam kondisi yang kurang memenuhi syarat. Sedangkan vinil klorida biasanya terdapat pada plastik kemasan tertentu.



Pada awalnya kanker hati memang tanpa suatu gejala apapun, dan seringkali orang menduga bahwa dirinya mengalami sakit maag. Menurut dr Rudy, dalam fase lebih lanjut si penderita akan merasakan gejala ini, kita dapat melakukan screening ultrasonografi hati dan dan penanda tumor alfa-fetoprotein.

Penyebab utama penyakit ini diyakini adalah tidur yang terlalu malam dan bangun terlalu siang karena akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat tidak berguna. Selain itu, dari tengah malam hingga pukul 4 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah.

Selain itu, tidak buang air besar di pagi hari, pola makan yang terlalu berlebihan, tidak makan pagi, terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan, bahkan terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet seperti zat tambahan, zat pewarna, pemanis buatan, juga dapat menjadi penyebab terjadinya kerusakan hati. Mengkonsumsi masakan yang mentah juga menambah beban hati.

Risiko terjadinya kanker juga bervariasi berdasarkan tempat tinggal seseorang. Beberapa virus menyebabkan kanker pada manusia dan virus lainnya dicurigai sabagai penyebab kanker. Virus sitomegalo menyebabkan sarkoma kaposi. Virus hepatitis B bisa menyebabkan kanker hati, meskipun karsinogen atau promotornya tidak diketahui.

Penularan pada penyakit ini bisa melalui jarum suntik atau pisau yang terkontaminasi, transfusi darah, dan gigitan manusia. Penggunaan alat-alat kebersihan seperti sikat gigi, gelas, piring makan secara bersama-sama juga bisa menjadi media penularan virus hepatitis B. Pada umumnya penularan tersebut terjangkit dengan cara pertukaran cairan tubuh, merupakan risiko tertular hepatitis B adalah pecandu narkotika, dan orang yang mempunyai banyak pasangan seksual.

"Secara umum penyakit hepatitis B bisa menyerang siapa pun dari semua golongan umur, tetapi umumnya yang terinfeksi adalah orang pada usia produktif," ungkap dr Rudy.

Penyakit hepatitis B yang telah kronis mengakibatkan kerusakan hati. Sifat kekronisan inilah yang telah membawa hati ke tahap sirosis hati akibat virus. Karena itu, hepatitis B adalah satu di antara penyakit menular yang sangat berbahaya. Virus ini menyerang hati dan mengakibatkan peradangan hati.

Selama ini dalam pengobatan penyakit kanker hati hanya ada dua cara yang bisa dilakukan, pertama dengan kemoterapi dan yang kedua dengan radioterapi. Selain itu, ada pula pengobatan yang dilakukan dengan operasi dan transplantasi hati. Namun sampai saat ini, transplantasi hati belum ada di Indonesia sehingga si pasien harus berobat ke luar negeri.

Pada stadium awal, kanker hati bisa diatasi dengan cara tindakan pembedahan untuk mengangkat sel kanker tersebut. Selain itu, si pasien menjalani kemoterapi. Namun pada stadium lanjut, pasien tidak bisa menjalani terapi ini karena sel kanker sudah menyebar.


Sumber: www.lifestyle.okezone.com
 

Sample text

Sample Text

Sample Text