Social Icons

Pages

Minggu, 29 Mei 2011

Jangan Anggap Enteng Keropos Tulang

PENGEROPOSAN tulang atau osteoporosis merupakan penyakit tanpa gejala atau "The Silent Thief". Alhasil, seseorang tak pernah menyadari jika terserang penyakit tersebut.

"Empat tahun setelah saya mengalami berhenti mens (menopause), setiap pagi saya selalu merasakan pegal-pegal sehabis bangun tidur, terutama di sekitar pergelangan tangan. Padahal dulu sebelum saya mengalami menopause, saya tidak pernah mengalami hal seperti itu. Apa saya terkena osteoporosis, Dok?"

Pertanyaan tersebut terlontar dari seorang ibu rumah tangga, Nunung, 54. Dia mengaku mengalami perubahan pada dirinya setelah menopause kepada salah satu dokter pada saat acara seminar kesehatan dengan tema "Osteoporosis, Deteksi, Pencegahan, dan Penanggulangannya" yang digelar di Rumah Sakit Jakarta.



Dokter spesialis dari RS Jakarta, Dr H Subagyo SpBSpOT menjelaskan, osteoporosis adalah penyakit yang ditandai dengan rendahnya massa tulang dan disertai kerusakan mikroarsitektur jaringan. Kelainan ini menyebabkan kerapuhan tulang sehingga terjadi peningkatan risiko fraktur."

Sebenarnya osteoporosis ini banyak penyebabnya, tetapi osteoporosis ini salah satunya terjadi pada wanita yang telah mengalami menopause. Dikarenakan pengaruh hormon estrogen yang memengaruhi tulang. Pada orang menopause, hormon turun sebanyak 20 persen, dan itu bisa menyebabkan tulang rusak, maka terjadilah osteoporosis," tutur dokter yang juga praktik di RS Siaga Raya yang terletak di kawasan Pasar Minggu.

Subagyo mengungkapkan, keluhan yang diderita Nunung belum bisa langsung disebut osteoporosis. Maka langkah paling tepat apabila mengalami gejala tersebut adalah melakukan deteksi dari dokter. "Jangan pernah mendiamkan tanda-tanda seperti ini karena osteoporosis ini adalah penyakit tanpa gejala. Jarang pasien menyadari terkena penyakit ini," kata dokter yang juga menjadi staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti ini.

Subagyo menuturkan, bahan- bahan yang menyusun tulang itu terdiri atas dua bahan, yaitu matrik yang kaya mineral (70 persen) atau sama juga dengan Bone (tulang yang sudah matang) dan bahan-bahan organik (30 persen) yang terdiri atas sel (2 persen) dan osteoid (98 persen). Sel ini juga terdiri atas beberapa bagian, yaitu sel osteoblast yang membuat matrik tulang, sel osteocyte yang mempertahankan matrik tulang dan sel osteoclast yang menyerap osteoid (95 persen) (resorbsi) matrik tulang. Adapun osteoid merupakan matrik bahan yang mengandung sedikit mineral (osteoid = tulang muda).

Dia melanjutkan,sel osteoclast ini mencari "tulang tua" atau yang rusak dan mengabsorsinya sehingga meninggalkan lubang di tulang. Sementara sel osteoblast menggunakan mineral seperti kalsium (Ca), fosfor (F), dan vitamin D untuk mengisi lubang sebagai formasi tulang baru. "Proses terjadinya osteoporosis yaitu berawal dari pembentukan tulang (osteoblast) dan proses penyerapan tulang (osteoclast) berjalan dengan seimbang.

Namun, pada saat memasuki usia 30 tahun, osteoclast menjadi lebih dominan (menonjol), akibatnya lebih banyak terjadi penyerapan tulang daripada pembentukan tulang sehingga kepadatannya (densitas) tulang berkurang, semakin lama semakin rapuh dan keropos, lalu terjadi kerapuhan pada tulang (osteoporosis). Tulang yang keropos menjadi mudah patah (fraktur) walaupun dengan trauma yang ringan saja," katanya.

Ada beberapa penyebab osteoporosis. Subagyo menyebutkan yang terjadi secara alamiah karena proses menua (di atas 70 tahun), menopause pada wanita (biasanya di atas 50 tahun) disebabkan estrogen menurun tinggal 20 persen. Lalu diet kekurangan kalsium, protein, dan vitamin D3, kurangnya aktivitas fisik, kebanyakan mengonsumsi obat yang mengandung steroid (biasanya pada penderita asma dan rematik). Berlebihan mengonsumsi alkohol, rokok, dan kopi sampai penyakit kronis yang mengganggu metabolisme tulang, seperti diabetes yang menahun, penyakit lever sirosis, hypertyroid (gondok), tumor kelenjar pituitarym tumor tulang, dan sebagainya.

"Wanita dan orang-orang dengan gaya hidup tidak baik seperti perokok atau alkoholik adalah orang yang berisiko terkena penyakit ini," kata dokter yang juga mengajar di Universitas Pembangunan Nasional.

Akibat-akibat dari osteoporosis ditandai dengan nyeri pada tulang, tubuh semakin memendek (membungkuk), tulang menjadi mudah patah sehingga berisiko kecacatan atau lumpuh.Tentu biaya perawatan besar, ketergantungan pada orang lain, kualitas hidup menurun, bahkan kematian. "Untuk mengetahui terjadinya osteoporosis, bisa dilakukan dengan cara mendeteksi melalui suatu alat yang disebut dengan Bone Densitometry, pemeriksaan laboratorium, penanda biokimia, dan juga dengan pemeriksaan radiologi," kata Subagyo.

Pengobatan-pengobatan osteoporosis dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan pengobatan simtomatik yang di antaranya analgesik (relaksasi otot), istirahat, dll. Lalu dengan cara mengatasi faktor risiko. Bisa juga melalui pengobatan kausal yang meliputi kalsium dan vitamin D3, pemberian obat-obatan serm (raloxifene) evista, calcitonin, bifosfonat, dan olahraga. "Pengobatan-pengobatan ini bertujuan meningkatkan kepadatan tulang, mencegah terjadinya patah tulang pada osteoporosis, menjaga keseimbangan metabolisme tulang, dan mengembalikan kualitas tulang," tutur dokter yang juga anggota Persatuan Ahli Bedah Ortopedi ini.

Dokter spesialis bedah ortopedi yang juga dari RS Jakarta Dr Muki Partono SpBO menimpali, apabila pendeteksian sudah dilakukan, dan jika sudah terdeteksi osteoporosis, salah satu cara untuk melakukan penyembuhan adalah operasi.

"Untuk melakukan operasi osteoporosis, perlu beberapa tahap persiapan seperti perencanaan, sterilitas, melakukan scan atau kontrol x-ray pada tulang yang ingin dioperasi dan sebagainya," tuturnya di acara yang sama.

Muki menambahkan, apabila penyakit ini terasa pada pergelangan tangan, yakni pergelangan tangan menjadi bengkak, sangat sakit, kekuatan genggam berkurang, maka harus dioperasi. Biasanya nyeri dan kaku pada pergelangan dan jari menetap walaupun setelah operasi, maka hal tersebut masih harus dilakukan penanganan. "Penanganan yang tepat pada masalah tersebut adalah dengan penanganan konservatif yaitu menggunakan gips," kata dokter lulusan Universitas Indonesia itu.


Sumber: www.lifestyle.okezone.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text

Sample Text