Social Icons

Pages

Senin, 13 Agustus 2012

Cara Melindungi Mata dari Radiasi Komputer


Banyak orang memiliki masalah dengan penglihatan. Padahal, mata merupakan aset berharga yang harus dijaga benar kesehatannya. Para dokter menyebutkan, kondisi tersebut disebabkan perkembangan teknologi modern.

Tahukah Anda bahwa radiasi gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan komputer bisa mengganggu kesehatan? Karena itu, beristirahat di depan komputer, menonton televisi atau pergi ke bioskop, dapat mengurangi paparan buruk radiasi komputer.

Dokter mata telah mengakui bahwa komputer pribadi merupakan musuh utama mata. Banyak masalah mata yang disebabkan oleh komputer. Penyakit itu memiliki nama khusus, computer eye syndrome (CES).

Gejala ini akrab bagi siapa saja yang menghabiskan lebih dari lima jam sehari di depan monitor. Kondisi itu menyebabkan mata kering, terbakar, kelopak mata memerah, dan sakit kepala. Ini melebihi gejala yang timbul akibat kelelahan membaca buku. Demikian dikutip dari Genius Beauty, Selasa (27/9/2011).

Lantas, mengapa layar komputer bisa memengaruhi kesehatan mata lebih daripada saat membaca buku?

Menjaga jarak pandang antara mata dan monitor merupakan cara jitu menangani radiasi komputer. Melihat secara bergantian dari jarak panjang dan pendek, dengan jarak minimum 45 sentimeter, bisa membantu Anda hilangkan radiasi komputer.

Namun mereka yang menghabiskan 10 jam di depan monitor tidak memiliki kemungkinan itu, dan mata mereka lelah melihat pada satu titik.

Masalah lain yang membuat orang terpapar radiasi komputer ialah jarang berkedip saat melihat monitor. Padahal sering mengedip mata dapat membuat mata tidak kering.

Mata berlendir butuh moisturing konstan, sebaliknya jika kurang basah akan membuatnya jadi kering. Kondisi ini sering disebut "pasir di mata", yang membuat nyeri akut, dan kelelahan.

Lingkungan yang tidak menguntungkan, asap rokok, debu jalanan, dan udara yang tercemar juga meningkatkan kekeringan pada mata. Biasanya mereka yang sering menghabiskan waktu di kantor sering terpapar udara AC sangat kering.

Selain itu, kualitas gambar pada monitor yang berbeda, bahkan jika itu adalah layar terbaik bisa membuat mata jadi bermasalah.

Pertama, terdiri dari piksel yang selalu flicker (meskipun dibedakan dengan mata). Kedua, gambar dan teks yang menyala sedemikian rupa sehingga mengarah ke beban tambahan pada mata. Ketiga, radiasi luminofor dari monitor tidak bertepatan dengan sensitivitas spektral maksimum mata.


Sumber: okezone.com

Cara Melindungi Mata dari Radiasi Komputer


Banyak orang memiliki masalah dengan penglihatan. Padahal, mata merupakan aset berharga yang harus dijaga benar kesehatannya. Para dokter menyebutkan, kondisi tersebut disebabkan perkembangan teknologi modern.

Tahukah Anda bahwa radiasi gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan komputer bisa mengganggu kesehatan? Karena itu, beristirahat di depan komputer, menonton televisi atau pergi ke bioskop, dapat mengurangi paparan buruk radiasi komputer.

Dokter mata telah mengakui bahwa komputer pribadi merupakan musuh utama mata. Banyak masalah mata yang disebabkan oleh komputer. Penyakit itu memiliki nama khusus, computer eye syndrome (CES).

Gejala ini akrab bagi siapa saja yang menghabiskan lebih dari lima jam sehari di depan monitor. Kondisi itu menyebabkan mata kering, terbakar, kelopak mata memerah, dan sakit kepala. Ini melebihi gejala yang timbul akibat kelelahan membaca buku. Demikian dikutip dari Genius Beauty, Selasa (27/9/2011).

Lantas, mengapa layar komputer bisa memengaruhi kesehatan mata lebih daripada saat membaca buku?

Menjaga jarak pandang antara mata dan monitor merupakan cara jitu menangani radiasi komputer. Melihat secara bergantian dari jarak panjang dan pendek, dengan jarak minimum 45 sentimeter, bisa membantu Anda hilangkan radiasi komputer.

Namun mereka yang menghabiskan 10 jam di depan monitor tidak memiliki kemungkinan itu, dan mata mereka lelah melihat pada satu titik.

Masalah lain yang membuat orang terpapar radiasi komputer ialah jarang berkedip saat melihat monitor. Padahal sering mengedip mata dapat membuat mata tidak kering.

Mata berlendir butuh moisturing konstan, sebaliknya jika kurang basah akan membuatnya jadi kering. Kondisi ini sering disebut "pasir di mata", yang membuat nyeri akut, dan kelelahan.

Lingkungan yang tidak menguntungkan, asap rokok, debu jalanan, dan udara yang tercemar juga meningkatkan kekeringan pada mata. Biasanya mereka yang sering menghabiskan waktu di kantor sering terpapar udara AC sangat kering.

Selain itu, kualitas gambar pada monitor yang berbeda, bahkan jika itu adalah layar terbaik bisa membuat mata jadi bermasalah.

Pertama, terdiri dari piksel yang selalu flicker (meskipun dibedakan dengan mata). Kedua, gambar dan teks yang menyala sedemikian rupa sehingga mengarah ke beban tambahan pada mata. Ketiga, radiasi luminofor dari monitor tidak bertepatan dengan sensitivitas spektral maksimum mata.


Sumber: okezone.com

Upaya Higiene dan Sanitasi Mencegah Infeksi Nosokomial


Tindakan Higiene dan Sanitasi untuk Mencegah Infeksi Nosokomial

Kita memahami pengertian sanitasi selama ini sebagai sebuah tindakan terkait dengan lingkungan, sementara higiene terkait dengan tindakan Kesehatan secara personal. Berikut beberapa upaya terkait higiene dan sanitasi untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Terkait dengan hal tersebut, ada baiknya kita pahami terlebih dahulu pengertian higiene dan sanitasi. Beberapa diantarany sebagai berikut:

  • Sanitasi adalah suatu upaya pengawasan faktor-faktor lingkungan fisik manusia (ruang, peralatan-peralatan, dan lain-lain) yang mempunyai atau mungkin mempunyai pengaruh terhadap perkembangan fisik manusia, Kesehatan maupun kelangsungan hidupnya (Siswanto, 2002). 
  • Higiene adalah kebersihan perorangan, secara kumunal didifinisikan pemeliharaan Kesehatan masyarakat dengan penyediaan air bersih, sanitasi yang efisien, pemelihaaan rumah yang baik, dan lain-lain. Personal hygiene adalah kebersihan perorangan, tindakan perorangan yang dilakukan untuk memelihara kebersihan dirinya sendiri untuk menuju sehat (Hartono, 2002). 
  • Higiene adalah suatu ilmu tentang pengenalan, evaluasi, dan pengontrolan gangguan Kesehatan dalam suatu lingkungan tertentu dengan tujuan agar dapat diperoleh taraf Kesehatan yang maksimal (Setyawati, 2004).

Pemeliharan ruang bangun dan peralatan non medis yang baik dapat mencegah penularan penyakit yang ditularkan melalui udara seperti influenza, TBC, batuk-batuk, campak, dan melalui alat-alat non medis seperti: infeksi pada luka bakar, luka operasi. Lantai, dinding dan langit-langit harus selalu dijaga kebersihannya. Cara-cara pembersihan yang dapat menebarkan debu sedapat mungkin dihindari. Dianjurkan untuk selalu menggunakan pembersihan cara basah dengan menggunakan kain pel yang tepat dengan antibiotik yang sesuai.

Sanitasi ruang bangun dan peralatan non medis dimaksudkan untuk menciptakan kondisi ruang dan konstruksi serta pengaturan peralatan non medis yang nyaman, bersih, dan sehat di lingkungan rumah sakit agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap pasien, pengunjung dan karyawan rumah sakit disamping juga dapat memperkecil kemungkinan rusaknya sarana dan peralatan. Kondisi ruang dan konstruksi dipengaruhi oleh kualitas udara, keadaan bangunan dan pengaturan pengisian/penggunaan ruang. Bakteri dan virus dapat berada di udara ruang akibat pemeliharaan ruang dan bangun yang tidak memadai.

Kesehatan dan kebersihan tangan secara bermakna mengurangi jumlah mikroorganisme penyebab penyakit dan mampu meminimalisasi kontaminasi silang, misalnya dari petugas Kesehatan ke pasien, atau sebaliknya. Cuci tangan dianggap merupakan salah satu langkah yang paling penting untuk mengurangi penularan mikroorganisme dan mencegah infeksi. Beberapa hasil studi memperlihatkan kemungkinan besar penularan penyakit infeksi dari satu pasien ke pasien lainnya dapat melalui tangan petugas. Banyak penelitian lain menyimpulkan bahwa Kesehatan dan kebersihan tangan dapat mencegah penularan mikroorganisme dan mengurangi frekuensi infeksi nosokomial.

Menurut Tietjen (2004), selama bertahun tahun, para perawat dan dokter secara bersungguh-sungguh mengkaji dan menulis mengenai masalah tersebut. Berbagai laporan telah mencatat efektifitas tindakan cuci tangan dan prosedur Kesehatan dan kebersihan tangan lainnya dan mengungkapkan bahwa cuci tangan dan penggunaan sarung tangan adalah cara yang menghemat biaya untuk masalah infeksi nososkomial yang ditularkan oleh petugas Kesehatan terus meningkat secara global.

Bentuk personal higiene sendiri menurut Setyawati (2004), diadakan dengan berbagai cara yaitu secara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Secara promotif personal hygiene diupayakan melalui:

  1. Pendidikan dan pelatihan
  2. Penjagaan kebersihan tubuh, penjagaan diri agar selalu sehat, dan tidak menjadi pembawa penyakit (carier)
  3. Pemakaian pakaian/APD yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang dibebankan
  4. Pemeriksaan awal sebelum tenaga kerja di pekerjakan
  5. Pemeriksaan Kesehatan secara berkala/periodik dan spesifik
  6. Menjauhkan diri dari adat kebiasaan yang tidak baik.

Refference:

  • Setyawati, L. 2004. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (MK3). Kumpulan Makalah Hiperkes Keselamatan Kerja. 
  • Siswanto, H. 2002. Kamus Populer Kesehatan Lingkungan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
  • Hartono, A. 2002. Kamus Kesehatan . Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
  • Tietjen, L. 2004. Panduan Pencegahan Infeksi untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Tips Mudik Untuk Pekerja

Tips Mudik Untuk Pekerja

Tips mudik untuk para pekerja – Kata mudik indentik dengan pulang kampung, tradisi ini sering dilakukan oleh orang-orang yang bekerja di luar negeri atau luar kota dan kembali ke kampung halamannya untuk merayakan lebaran bersama keluarga.  Lebaran ini banyak sekali orang yang melakukan mudik dengan cara memakai kendaraan pribadi (mobil dan sepeda motor),sehingga memperparah arus mudik menjadi padat dan banyak terjadi kecelakaan.

Mudik bagi pekerja itu sangat diharapankan sekali, karena mereka yang udah 1 tahun lebih tidak bertemu dengan keluarga bisa merayakan lebaran bersama. Siapa sie yang tidak senang dengan mudik. Senang bagi sang pemudik juga senang dengan keluarga yang ada dirumah untuk menyambut datanganya Anda.

Ada beberapa tips yang harus diperhatikan untuk para pemudik sebelum melakukan mudik dan bisa bertemu keluarga yang tercinta di kampung halaman. Simak tips mudik untuk para pekerja:
  1. Persiapan Uang.
    Uang adalah faktor utama anda untuk melakukan mudik, tanpa uang Anda pasti akan menemui beberapa kesulitan waktu mudik. Jadi siapkan uang cukup untuk mudik tetapi ingat jangan membawa uang berlebihan mendingan pakai uang yang cukup untuk mudik aja. Takutnya nanti terjadi kejahatan, mendingan uang disimpan di Bank aj. Jika diperlukan baru diambil.
  2. Cek Kendaraan. 
    Bagi Anda yang ingin melakukan mudik dengan kendaraan sendiri jangan lupa untuk mengecek kendaraan anda mulai dari Oli,mesin,rem dan ban kendaraan Anda. Jangan lupa untuk service dan ganti oli untuk kendaraan anda sebelum mudik.
  3. Siapkan Oleh-oleh.
    Siapkan oleh-oleh untuk keluarga itu sangat wajib bagi Anda yang sudah kerja. Apalagi yang diharapkan selain itu yang ditunggu-tunggu yang dirumah. Kebanyakan yang sering dibawa pemudik adalah roti,pakaian dan uang yang wajib dibawa.
  4. Cari waktu untuk Mudik. 
    Mencari waktu mudik itu sangat penting bagi Anda yang sangat jauh dari kampung halaman. Jangan sampai Anda mudik 1hari sebelum lebaran karena Anda pasti akan mengalami macet. Mudik mendingan dilakukan minimal 3hari sebelum lebaran. Kalau masalah jam disarankan untuk mudik di malam hari atau habis saur, karena waktu itu sangat sepi dan tidak macet.
  5. Minta THR. 
    Mudik tanpa THR sangat menyedihkan sekali. Sebenarnya THR itu wajib untuk Anda yang sudah bekerja untuk perusahaan atau perseorangan. Mintalah THR Anda ketika mau mudik.
  6. P3K atau obat-obatan.  
    Sebenarnya ini sangat sepele tapi sangat bermanfaat bagi Anda. P3K itu bisa buat jaga-jaga ketika terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.
Semoga dengan persiapan diatas Anda akan bisa melakukan mudik dengan nyaman dan selamat sampai rumah ingat “Berhati-hatilah saat mudik dijalan karena keluarga menanti Anda di rumah”. Dengan persiapan diatass semoga bermanfaat. Selamat bermudik ria. 

Selasa, 07 Agustus 2012

Kriteria Jamban dan Jamban Sehat


Jamban Improved dan Macam Jenis Jamban

Pembuangan tinja atau buang air besar disebut secara eksplisit dalam dokumen Millenium Development Goals (MDGs). Dalam nomenklatur ini buang air besar disebut sebagai sanitasi yang antra lain meliputi jenis pemakaian atau penggunaan tempat buang air besar, jenis kloset yang digunakan dan jenis tempat pembuangan akhir tinja. Dalam laporan MDGs 2010, kriteria akses terhadap sanitasi layak adalah bila penggunaan fasilitas tempat BAB milik sendiri atau bersama, jenis kloset yang digunakan jenis latrine dan tempat pembuangan akhir tinjanya menggunakan tangki septik atau sarana pembuangan air limbah atau SPAL. Sedangkan kriteria yang digunakan Joint Monitoring Program (JMP) WHO-UNICEF 2008, sanitasi terbagi dalam empat kriteria, yaitu improved, shared, unimproved dan open defecation. Dikategorikan sebagai improved bila penggunaan sarana pembuangan kotoran nya sendiri, jenis kloset latrine dan tempat pembuangan akhir tinjanya tangki septik atau SPAL.

Pengertin lain terkait jamban menyebutkan bahwa jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk tempat membuang dan mengumpulkan kotoran/najis manusia yang lazim disebut kakus atau WC, sehingga kotoran tersebut disimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman. Kotoran manusia yang dibuang dalam praktek sehari-hari bercampur dengan air, maka pengolahan kotoran manusia tersebut pada dasarnya sama dengan pengolahan air limbah. Oleh sebab itu pengolahan kotoran manusia, demikian pula syarat-syarat yang dibutuhkan pada dasarnya sama dengan syarat pembuangan air limbah.

Sedangkan menurut WSP (2008) kriterian Jamban Sehat (improved latrine), merupakan fasilitas pembuangan tinja yang memenuhi syarat :

  • Tidak mengkontaminasi badan air.
  • Menjaga agar tidak kontak antara manusia dan tinja.
  • Membuang tinja manusia yang aman sehingga tidak dihinggapi lalat atau serangga vektor lainnya termasuk binatang.
  • Menjaga buangan tidak menimbulkan bau
  • Konstruksi dudukan jamban dibuat dengan baik dan aman bagi pengguna 

Menurut kriterian Depkes RI (1985), syarat sebuah jamban keluarga dikatagorikan jamban sehat, jika memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  1. Tidak mencemari sumber air minum, untuk itu letak lubang penampungan kotoran paling sedikit berjarak 10 meter dari sumur (SPT SGL maupun jenis sumur lainnya). Perkecualian jarak ini menjadi lebih jauh pada kondisi tanah liat atau berkapur yang terkait dengan porositas tanah. Juga akan berbeda pada kondisi topografi yang menjadikan posisi jamban diatas muka dan arah aliran  air tanah.  
  2. Tidak berbau serta tidak memungkinkan serangga dapat masuk ke penampungan tinja. Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan menutup lubang jamban atau dengan sistem leher angsa. 
  3. Air seni, air pembersih dan air penggelontor tidak mencemari tanah di sekitarnya. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat lantai jamban dengan luas minimal 1x1 meter, dengan sudut kemiringan yang cukup kearah lubang jamban. 
  4. Mudah dibersihkan, aman digunakan, untuk itu harus dibuat dari bahan-bahan yang kuat dan tahan lama dan agar tidak mahal hendaknya dipergunakan bahan-bahan yang ada setempat;
  5. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna terang;
  6. Cukup penerangan;
  7. Lantai kedap air;
  8. Luas ruangan cukup, atau tidak terlalu rendah;
  9. Ventilasi cukup baik, dan
  10. Tersedia air dan alat pembersih.

Terdapat beberapa jenis jamban sesuai bentuk dan namanya, antara lain Azwar (1983 :

1. Pit privy (Cubluk)
Kakus ini dibuat dengan jalan membuat lubang ke dalam tanah sedalam 2,5 sampai 8 meter dengan diameter 80-120 cm. Dindingnya diperkuat dari batu bata ataupun tidak. Sesuai dengan daerah pedesaan maka rumah kakus tersebut dapat dibuat dari bambu, dinding bambu dan atap daun kelapa. Jarak dari sumber air minum sekurang-kurangnya 15 meter.

2. Jamban cemplung berventilasi (ventilasi improved pit latrine)
Jamban ini hampir sama dengan jamban cubluk, bedanya menggunakan ventilasi pipa. Untuk daerah pedesaan pipa ventilasi ini dapat dibuat dari bambu.

3. Jamban empang (fish pond latrine)
Merupakan jamban ini dibangun di atas empang ikan. Sistem jamban empang memungkinkan terjadi daur ulang (recycling) yaitu tinja dapat langsung dimakan ikan, ikan dimakan orang, dan selanjutnya orang mengeluarkan tinja, demikian seterusnya.

4. Jamban pupuk (the compost privy)
Secara prinsip jamban ini seperti kakus cemplung, hanya lebih dangkal galiannya, di dalam jamban ini juga untuk membuang kotoran binatang dan sampah, daun-daunan.

5. Septic tank
Jamban jenis septic tank merupakan jamban yang paling memenuhi syarat. Tangki septick (septic tank) terdiri dari tangki sedimentasi yang kedap air, dimana tinja dan air buangan masuk mengalami dekomposisi. Dalam tangki ini tinja akan berada selama beberapa hari. Selama waktu tersebut tinja akan mengalami 2 proses, yaitu proses kimiawi dan proses biologis. Pada proses kimiawi, sebagai tinja (60- 70%), akan mengalami penghancuran dan direduksi. Sebagian besar zat-zat padat akan mengendap di dalam tangki sebagai sludge Zat-zat yang tidak dapat hancur bersama-sama dengan lemak dan busa akan mengapung dan membentuk lapisan yang menutup permukaan air dalam tangki tersebut. Lapisan ini disebut scum yang berfungsi mempertahankan suasana anaerob dari cairan di bawahnya, yang memungkinkan bakteri-bakteri anaerob dan fakultatif anaerob dapat tumbuh subur, yang akan berfungsi pada proses selanjutnya.

Dalam proses biologis, terjadi dekomposisi melalui aktivitas bakteri anaerob dan fakultatif anaerob yang memakan zat-zat organik alam sludge dan scum. Hasilnya selain terbentuknya gas dan zat cair lainnya, adalah juga pengurangan volume sludge, sehingga memungkinkan septic tank tidak cepat penuh. Kemudian cairan influent sudah tidak mengandung bagian-bagian tinja dan mempunyai BOD yang relatif rendah. Selanjutnya cairan influent dialirkan melalui pipa, untuk dilakukan proses peresapan dalam tanah atau dialirkan melalui pipa pada fasilitas riol kota.

Refference
Juklak Program Sanitasi Total & Pemasaran Sanitasi (SToPS), WSP. 2008
Riskesdas 2010, Depkes RI.
Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat, Direktorat Jenderal PPM & PL. 2003
Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan,  Azwar, A. 1983

Kamis, 02 Agustus 2012

Kumpulan Form Inspeksi Sanitasi TTU

Checklist Inspeksi Sanitasi Tempat-Tempat Umum

Kumpulan form dan checklist inspeksi sanitasi Tempat-Tempat Umum (TTU) yang dapat rekan-rekan download pada link di bawah ini merupakan respon lambat dari permintaan teman-teman Sanitarian melalui email. Pada awalnya, brbagai link download Form ini terbagi menjadi beberapa link download, seperti form IS kolam renang, ponpes, hotel, dan lainnya.  Sedangkan pada tautan di bawah ini, dapat rekan-rekan download keseluruhan form inspeksi sanitasi dimaksud. untuk Untuk itu kami mohon maaf atas keterlambatan posting tulisan ini.

Secara lengkap form inspeksi sanitasi tempat-tempat umum ini memuat antara lain form Inspeksi Sanitasi :
1.   Kolam Renang/Pemandian Umum
2.   Depot Air Minum Isi Ulang
3.   Pasar
4.   Pusat Perbelanjaan
5.   Salon
6.   Pangkas Rambut
7.   Masjid
8.   Gereja
9.   Hotel Melati
10.  Pondok Pesantren (Ponpes)
  

File lengkap dapat di download pada link ini : DOWNWLOAD IS TTU

Rabu, 01 Agustus 2012

Faktor Lingkungan pada Penularan TBC

Faktor Lingkungan Pada Penularan TB Paru


Menurut teori simpul Achmadi, gangguan Kesehatan terhadap seseorang atau masyarakat disebabkan oleh adanya agen penyakit yang sampai pada tubuhnya. Agen yang berasal dari sumbernya menyebar melalui simpul media (vehicle) yang seperti  udara, air, tanah, makanan dan vektor atau manusia itu sendiri. Setelah agen sampai pada tubuh manusia kemudian berinteraksi dan memberikan dampak sakit mulai dari yang ringan sampai berat. Bibit penyakit yang berasal dari sumbernya (simpul A) kemudian menjalar melalui media (simpul B) yang disebut ambien. Setelah proses ini bibit penyakit masuk tubuh manusia (simpul C) baik secara melekat/adsorbs atau meresap masuk/absorbsi yang akhirnya timbul sakit atau tetap sehat (simpul D).

Sebagaimana kita ketahui, sumber utama penularan penyakit TB Paru penderita tuberkulosis paru BTA (+). Penularan terjadi saat penderita batuk atau bersin (droplet) yang mengandung kuman, dan terhirup masuk ke dalam saluran pernafasan. Kemampuan menularkan kuman tuberkulosis dari seorang penderita, sangat tergantung dari jumlah kuman yang dikeluarkan dari paru. Semakin tingi tingkat kepadatan kuman positif, semakin tinggi pula penderita memberikan risiko penularan kepada orang lain .

Penderita TB BTA positif sebagai sumber penularan menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak pada waktu batuk atau bersin. Percikan dahak yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi jika percikan dahak itu terhirup dalam saluran pernafasan. Kuman TB yang masuk kedalam tubuh manusia dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lain .

Daya penularan seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, TB makin menular. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

Terkait dengan penyakit TB Paru, faktor lingkungan yang sangat padat akan mempermudah proses penularan dan berperan sekali atas peningkatan jumlah kasus TB. Proses terjadinya infeksi oleh M. tuberculosis biasanya secara inhalasi, sehingga TB paru merupakan manifestasi klinis yang paling sering dibanding organ lainnya. Penularan penyakit ini sebagian besar melalui inhalasi basil yang mengandung percik renik, khususnya yang didapat dari pasien TB paru dengan batuk berdahak yang mengandung basil tahan asam

Parameter faktor lingkungan yang mendukung terjadinya penularan penyakit TBC, meliputi tingkat kepadatan penghuni rumah, lantai, pencahayaan, ventilasi, serta faktor kelembaban. Pada faktor kepadatan penghuni dapat dijelaskan, bahwa semakin padat maka perpindahan penyakit, khususnya penyakit melalui udara akan semakin mudah dan cepat. Sesuai standard Depkes, tingkat kepadatan rumah minimal 10 m2 per orang, jarak antar tempat tidur satu dengan lainnya 90 cm. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa risiko terjadinya TB Paru jauh lebih tinggi pada penduduk yang tinggal pada rumah yang tidak memenuhi standar kepadatan hunian.

Faktor lantai terkait dengan dengan tingkat kelembaban ruangan, sehingga pada kondisi lantai tumah terbuat dari tanah, cenderung mempengaruhi viabilitas kuman TBC di lingkungan  yang pada akhirnya dapat memicu daya tahan kuman TBC di udara semakin lama.

Faktor Ventilasi akan terkait dengan sirkulasi pergantian udara dalam rumah serta proses pengurangan tingkat kelembaban. Standar luas ventilasi sesuai Kepmenkes Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah 10% dari luas lantai. Ventilasi selain berperan sebagai tempat masuk sinar matahari, juga  mempengaruhi dilusi udara, yang dapat mengencerkan konsentrasi kuman TBC atau kuman lain, yang dapat terbawa keluar ruangan, yang pada akhirnya dapat mati oleh sinar ultra violet matahari.

Beberapa penelitian menunjukkan, bahwa luas lubang ventilasi rumah dan pencahayaan rumah mempengaruhi kehidupan bakteri dan jamur dalam rumah. Sementara penelian lain menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan penularan penyakit TB Paru adalah kepadatan hunian kamar tidur, pencahayaan sinar matahari, ventilasi, jenis lantai, jenis dinding, dan bahan bakar yang digunakan dalam rumah tangga, status gizi, dan perilaku merokok.

Faktor Pencahayaan.  Menurut penelitian semua cahaya pada dasarnya dapat membunuh kuman TBC, tergantung jenis dan intensitasnya. Pencahayaan yang tidak memenuhi syarat berisiko 2,5 kali terkena TBC dibanding yang memenuhi syarat Rumah memerlukan cahaya cukup, khususnya sinar  matahari dengan ultra violet nya. Pemenuhan pencahayaan rumah selain dipenuhi dari sumber buatan seperti lampu, juga oleh keberadaan ventilasi dan genteng kaca di rumah kita.

Sebagaimana kita ketahui, penyakit TB Paru disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis yang menular melalui udara. Proses penularan tidak sederhana, misalnya dengan menghirup udara bercampur bakteri TBC lalu terinfeksi kemudian menderita penyakit TB Paru. Masih banyak faktor atau variabel yang berperan dalam timbulnya TB Paru pada seseorang. Daya penularan ditentukan banyaknya kuman dan patogenitas kuman, serta lamanya seseorang menghirup udara yang mengandung bakteri TBC.

Faktor Kelembaban. Tingkat kelembaban masih terkait erat dengan tingkat kepadatan dan ventilasi rumah. Kelembaban merupakan sarana yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme, termasuk TBC.  Namun kelembaban juga dipengaruhi oleh topografi sehingga wilayah lebih tinggi cenderung memiliki kelembaban yang lebih rendah. Menurut penelitian, penghuni rumah menempati rumah dengan tingkat kelembaban ruang lebih besar dari 60% berisiko terkena TB Paru 10,7 kali dibanding yang tinggal pada rumah dengan kelembaban lebih kecil atau sama dengan 60%.

Beberapa penelitian menunjukkan, bahwa TBC akan meningkat pada penduduk dengan keadaan gizi yang jelek, tingkat kepadatan hunian yang tinggi, serta faktor lingkungan terutama sirkulasi udara yang buruk. Hal lain yang dapat menjadi faktor risiko adalah paparan asap rokok dimana anak yang terpapar asap rokok (perokok pasif) terbukti lebih sering mendapat TB. Tuberkulosis pada perokok lebih menular daripada TB pada penderita yang tidak merokok. Selain asap rokok, asap pembakaran di dapur juga dapat menjadi faktor risiko TB.

Refference:
  • Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah,  Achmadi, U.F,  Penerbit Buku Kompas, Jakarta. 2005.
  • Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/Menkes/ SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan, Jakarta.
  • Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Depkes RI, 2007
 

Sample text

Sample Text

Sample Text