Social Icons

Pages

Senin, 11 Juni 2012

Kontrol Kadar Gula dengan Olahraga

Selain melakukan diet rendah gula, sebaiknya penderita diabetes juga berolahraga untuk menekan kadar gulanya. Nah, olahraga apa yang tepat bagi mereka? 
Manfaat olahraga bagi tubuh sudah tak perlu diragukan lagi. Selain menjaga kesehatan, olahraga juga mampu meminimalisasi berkembangnya beberapa penyakit. Salah satunya adalah penyakit diabetes. Bagi pengidap penyakit diabetes, olahraga sangat membantu mengendalikan gula darah. Dikatakan oleh ahli rehabilitasi medik dari Unit Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Internasional Omni Alam Sutera Tangerang, Dr Jovita M Melania SpRM, pengaruh olahraga terhadap diabetes sangatlah besar.

Jika dilakukan teratur, olahraga dapat membantu kendalikan gula darah, ujar Jovita saat menghadiri acara seminar awam bertema Hindari Stroke dan Jantung Akibat Komplikasi Diabetes yang diadakan oleh RS Internasional Omni Alam Sutera Tangerang, belum lama ini.


Dijelaskan Jovita, olahraga yang dilakukan secara teratur oleh penderita diabetes ini akan meningkatkan aliran darah ke berbagai organ tubuh sehingga badan menjadi segar dan membantu menurunkan kadar kolesterol. Perbaikan profil kolesterol ini akan mengurangi risiko terjadinya komplikasi penyakit jantung dan stroke yang sering terjadi pada penderita diabetes.

Olahraga dapat memperbaiki ketegangan otot, meningkatkan kekuatan otot, membuat tidur lebih nyenyak, dan mengurangi stres, tandasnya.

Terlebih lagi apabila olahraga dilakukan bersamaan dengan pengaturan makan, maka akan dapat mencapai sasaran yang diinginkan, yakni memperbaiki kadar gula darah. Dengan adanya perbaikan gula darah akibat olahraga yang dilakukan secara rutin, teratur, dan tepat, ini dapat mengurangi kebutuhan atau dosis obatobatan penurun gula darah.

Masih dijelaskan Jovita, biasanya setelah berolahraga akan terjadi peningkatan kebutuhan energi, di mana glukosa adalah sumber energi yang diperlukan otot pada waktu kita bergerak, terutama pada saat berolahraga. Energi mula-mula diperoleh dari pembakaran cadangan glukosa kita di dalam otot. Bila sudah tidak mencukupi, diambil dari glukosa yang sedang beredar dalam pembuluh darah.

Jadi, selama berolahraga kadar glukosa darah dapat turun, terangnya.

Apabila dilakukan secara teratur, maka olahraga dapat mengakibatkan penggunaan glukosa oleh otot meningkat hingga 20 kali lipat, akibat meningkatnya aliran darah, membaiknya kinerja insulin, dan berkurangnya resistensi insulin. Setelah selesai berolahraga, tubuh akan mengambil glukosa yang berasal dari darah untuk mengisi kembali cadangan glukosa di dalam otot dan hati yang telah dipergunakan saat berolahraga.

Hal ini dapat mengakibatkan turunnya kadar glukosa darah hingga beberapa jam setelah selesai berolahraga, jelas Jovita.

Hanya saja saat berolah raga sebaiknya penderita diabetes harus memerhatikan beberapa faktor. Sebaiknya pilih olahraga ringan yang memiliki risiko cedera minimal. Jangan memilih olahraga berat seperti futsal, karena olahraga ini rentan cedera. Seperti diketahui cedera atau luka pada penderita diabetes akan berakibat buruk bagi kesehatannya.

Olahraga ini akan menunjukkan manfaatnya sebagai pengontrol gula darah bila diimbangi dengan asupan pola makan yang seimbang juga. Kurangi gula dan karbohidrat, sebagai gantinya, konsumsi banyak sayuran berserat. Faktor tingginya kadar gula darah jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi jangka panjang. Di antaranya, gangguan saraf tepi yang menyebabkan menurunnya sensasi nyeri, tekanan, dan suhu pada kaki. Oleh karena itu, dalam melakukan olahraga, penderita diabetes haruslah memperhatikan bagian kaki yang merupakan organ tubuh utama untuk menopang kegiatan sehari-hari.

Hal itu dikarenakan kaki sering kurang diperhatikan, bahkan kadang demi keindahan, dipaksakan dikurung tanpa memperhatikan kepentingan kaki itu sendiri. Dengan demikian, kita tidak merasakan bila kaki kita terluka. Karena apabila kaki terluka dan disertai komplikasi pembuluh darah, maka akan memperburuk aliran darah ke kaki.

Hal inilah yang menyebabkan luka sukar sembuh, ujarnya. Jadi, untuk mencegah terjadinya masalah pada kaki, disarankan oleh Jovita, yang terpenting adalah mencegah terjadinya luka.

Dimulai dari pengelolaan diabetes sebaik mungkin sehingga komplikasi kronis dapat dicegah, termasuk kaki diabetes. Pasalnya, bila penderita diabetes mengalami luka di kaki bisa berakibat fatal. Cara perawatan kaki yang baik, yang tampaknya sederhana dapat memberikan manfaat yang sangat besar, ungkapnya.

Adapun cara pencegahan terjadinya luka disesuaikan dengan keadaan risiko kaki. Untuk kaki yang kurang merasa peka, dianjurkan untuk selalu memakai alas kaki guna melindungi kaki tersebut. Jika bentuk kaki sudah berubah, maka perlu perhatian khusus mengenai sepatu atau alas kaki khusus yang dipakai untuk pengguna diabetes. Sedangkan bila ada masalah pembuluh darah, latihan kaki perlu diperhatikan benar untuk memperbaiki aliran darah ke kaki.

Keikutsertaan aktif pasien dan keluarganya dalam usaha pencegahan sangat penting dalam usaha menyelamatkan kaki. Perhatikan dan peliharalah kaki setiap hari seperti memperhatikan dan memelihara wajah, pesannya.


Sumber: okezone.com

Kontrol Kadar Gula dengan Olahraga

Selain melakukan diet rendah gula, sebaiknya penderita diabetes juga berolahraga untuk menekan kadar gulanya. Nah, olahraga apa yang tepat bagi mereka? 
Manfaat olahraga bagi tubuh sudah tak perlu diragukan lagi. Selain menjaga kesehatan, olahraga juga mampu meminimalisasi berkembangnya beberapa penyakit. Salah satunya adalah penyakit diabetes. Bagi pengidap penyakit diabetes, olahraga sangat membantu mengendalikan gula darah. Dikatakan oleh ahli rehabilitasi medik dari Unit Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Internasional Omni Alam Sutera Tangerang, Dr Jovita M Melania SpRM, pengaruh olahraga terhadap diabetes sangatlah besar.

Jika dilakukan teratur, olahraga dapat membantu kendalikan gula darah, ujar Jovita saat menghadiri acara seminar awam bertema Hindari Stroke dan Jantung Akibat Komplikasi Diabetes yang diadakan oleh RS Internasional Omni Alam Sutera Tangerang, belum lama ini.


Dijelaskan Jovita, olahraga yang dilakukan secara teratur oleh penderita diabetes ini akan meningkatkan aliran darah ke berbagai organ tubuh sehingga badan menjadi segar dan membantu menurunkan kadar kolesterol. Perbaikan profil kolesterol ini akan mengurangi risiko terjadinya komplikasi penyakit jantung dan stroke yang sering terjadi pada penderita diabetes.

Olahraga dapat memperbaiki ketegangan otot, meningkatkan kekuatan otot, membuat tidur lebih nyenyak, dan mengurangi stres, tandasnya.

Terlebih lagi apabila olahraga dilakukan bersamaan dengan pengaturan makan, maka akan dapat mencapai sasaran yang diinginkan, yakni memperbaiki kadar gula darah. Dengan adanya perbaikan gula darah akibat olahraga yang dilakukan secara rutin, teratur, dan tepat, ini dapat mengurangi kebutuhan atau dosis obatobatan penurun gula darah.

Masih dijelaskan Jovita, biasanya setelah berolahraga akan terjadi peningkatan kebutuhan energi, di mana glukosa adalah sumber energi yang diperlukan otot pada waktu kita bergerak, terutama pada saat berolahraga. Energi mula-mula diperoleh dari pembakaran cadangan glukosa kita di dalam otot. Bila sudah tidak mencukupi, diambil dari glukosa yang sedang beredar dalam pembuluh darah.

Jadi, selama berolahraga kadar glukosa darah dapat turun, terangnya.

Apabila dilakukan secara teratur, maka olahraga dapat mengakibatkan penggunaan glukosa oleh otot meningkat hingga 20 kali lipat, akibat meningkatnya aliran darah, membaiknya kinerja insulin, dan berkurangnya resistensi insulin. Setelah selesai berolahraga, tubuh akan mengambil glukosa yang berasal dari darah untuk mengisi kembali cadangan glukosa di dalam otot dan hati yang telah dipergunakan saat berolahraga.

Hal ini dapat mengakibatkan turunnya kadar glukosa darah hingga beberapa jam setelah selesai berolahraga, jelas Jovita.

Hanya saja saat berolah raga sebaiknya penderita diabetes harus memerhatikan beberapa faktor. Sebaiknya pilih olahraga ringan yang memiliki risiko cedera minimal. Jangan memilih olahraga berat seperti futsal, karena olahraga ini rentan cedera. Seperti diketahui cedera atau luka pada penderita diabetes akan berakibat buruk bagi kesehatannya.

Olahraga ini akan menunjukkan manfaatnya sebagai pengontrol gula darah bila diimbangi dengan asupan pola makan yang seimbang juga. Kurangi gula dan karbohidrat, sebagai gantinya, konsumsi banyak sayuran berserat. Faktor tingginya kadar gula darah jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi jangka panjang. Di antaranya, gangguan saraf tepi yang menyebabkan menurunnya sensasi nyeri, tekanan, dan suhu pada kaki. Oleh karena itu, dalam melakukan olahraga, penderita diabetes haruslah memperhatikan bagian kaki yang merupakan organ tubuh utama untuk menopang kegiatan sehari-hari.

Hal itu dikarenakan kaki sering kurang diperhatikan, bahkan kadang demi keindahan, dipaksakan dikurung tanpa memperhatikan kepentingan kaki itu sendiri. Dengan demikian, kita tidak merasakan bila kaki kita terluka. Karena apabila kaki terluka dan disertai komplikasi pembuluh darah, maka akan memperburuk aliran darah ke kaki.

Hal inilah yang menyebabkan luka sukar sembuh, ujarnya. Jadi, untuk mencegah terjadinya masalah pada kaki, disarankan oleh Jovita, yang terpenting adalah mencegah terjadinya luka.

Dimulai dari pengelolaan diabetes sebaik mungkin sehingga komplikasi kronis dapat dicegah, termasuk kaki diabetes. Pasalnya, bila penderita diabetes mengalami luka di kaki bisa berakibat fatal. Cara perawatan kaki yang baik, yang tampaknya sederhana dapat memberikan manfaat yang sangat besar, ungkapnya.

Adapun cara pencegahan terjadinya luka disesuaikan dengan keadaan risiko kaki. Untuk kaki yang kurang merasa peka, dianjurkan untuk selalu memakai alas kaki guna melindungi kaki tersebut. Jika bentuk kaki sudah berubah, maka perlu perhatian khusus mengenai sepatu atau alas kaki khusus yang dipakai untuk pengguna diabetes. Sedangkan bila ada masalah pembuluh darah, latihan kaki perlu diperhatikan benar untuk memperbaiki aliran darah ke kaki.

Keikutsertaan aktif pasien dan keluarganya dalam usaha pencegahan sangat penting dalam usaha menyelamatkan kaki. Perhatikan dan peliharalah kaki setiap hari seperti memperhatikan dan memelihara wajah, pesannya.


Sumber: okezone.com

Konsumsi Serat Bikin Panjang Umur

Mengonsumsi makanan berserat sangat bagus untuk kesehatan. Selain mencegah berbagai penyakit berbahaya, penelitian terbaru menemukan bukti bahwa serat juga membuat seseorang panjang umur.

Anjuran untuk mengonsumsi banyak serat karena baik bagi kesehatan memang telah lama didengungkan. Hal itu karena manfaatnya yang tergolong banyak bagi tubuh. Tetapi apa sebenarnya serat itu?

Serat adalah salah satu jenis karbohidrat yang membentuk struktural dari daun, batang, dan akar tanaman. Namun, serat berbeda dengan gula dan pati karena gula dan pati tetap utuh hingga mendekati tahap akhir sistem pencernaan.

Hal inilah yang membuat serat lebih bermanfaat bagi tubuh. Sumber utama makanan yang mengandung serat adalah sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan, orang yang banyak mengonsumsi serat setiap hari akan lebih kecil kemungkinannya untuk meninggal muda akibat serangan berbagai penyakit, termasuk jantung, kanker, dan infeksi.


Manfaat serat dalam mengendalikan berat badan, menurunkan kolesterol, dan melindungi tubuh terhadap penyakit jantung telah dipaparkan dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Namun, menemukan bukti bahwa ternyata serat juga dapat mencegah hadirnya pembunuh utama lainnya bagi manusia adalah sesuatu yang baru dan menarik.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa serat memiliki manfaat kesehatan lebih luas daripada yang telah ditemukan sebelumnya, kata Dr Frank Hu yang mempelajari bidang nutrisi di Harvard School of Public Health di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Hu menulis artikel editorial yang menyertai studi ini dalam jurnal Archives of Internal Medicine.

Beberapa keunggulan serat yang diperlihatkan dalam penelitian ini masih perlu dikonfirmasi dengan studi lanjutan. Intinya adalah seharusnya serat yang menjadi bahan pokok dalam makanan kita. Dan kita harus berusaha untuk mengonsumsi serat sebanyak mungkin, ungkap Hu seperti dikutip laman Reuters.

Serat umumnya terdapat dalam biji-bijian, buah-buahan, sayur-sayuran, dan kacang-kacangan. Departemen Pertanian Amerika Serikat (The U.S. Department of Agriculture/ USDA) merekomendasikan untuk wanita dewasa harus makan sekitar 25 gram serat setiap harinya dan pria sebanyak 38 gram. Untuk mendapatkan gambaran mengenai berapa banyak takaran itu,perhatikan contoh berikut.

Menurut National Nutrition Database yang dikeluarkan USDA, setengah gelas kacang rebus mengandung sekitar 8 gram serat. Setengah gelas kacang almond mentah memiliki berat hampir 9 gram. Segelas oatmeal yang sudah dimasak memiliki 4 gram. Sementara itu, setengah gelas buah plum ditaksir mengandung sekitar 6 gram serat.

Dalam studi ini, Dr Yikyung Park dari National Cancer Institute di Bethesda, Maryland, Amerika Serikat dan rekan-rekannya mengamati sekitar 400.000 orang, semua tergabung dalam anggota American Association of Retired Persons (AARP).

Pada 1995 dan 1996 ketika mereka berusia antara 50 dan 71 tahun, setiap peserta mengisi survei tentang kebiasaan makan merek sehari-hari.

Para peneliti juga mengumpulkan informasi lain dari para partisipan, seperti tingkat aktivitas fisik yang dilakoninya, berat badan, dan apakah mereka seorang perokok atau bukan. Dari survei makanan, Park dan koleganya menghitung berapa banyak serat yang dikonsumsi setiap hari oleh masing-masing peserta studi.

Para peneliti juga menggunakan database nasional mengenai angka kematian dan penyebabnya. Mereka akhirnya mampu menentukan peserta studi mana yang akhirnya meninggal dan karena apa penyebabnya, pada tahun-tahun berikutnya. Rata-rata, catatan tersebut membentang selama sembilan tahun dari saat peserta pertama kali mengisi kuesioner penelitian.

Peneliti menemukan rentang yang luas dalam jumlah serat yang dikonsumsi seseorang. Seperlima dari peserta yang makan serat paling sedikit, yaitu untuk pria ratarata 13 gram per hari dan wanita 11 gram. Sementara seperlima lainnya dengan asupan serat tertinggi, pria mengonsumsi rata-rata 29 gram serat setiap hari dan wanita rata-rata 26 gram.

Dengan membandingkan kedua kelompok tersebut, para peneliti menemukan fakta bahwa seseorang yang makan serat paling banyak sekitar 22 persen lebih rendah kemungkinannya untuk meninggal cepat dari semua penyebab selama studi daripada seseorang yang konsumsinya sedikit. Itu jika memperhitungkan faktor usia serta kesehatan dan gaya hidup mereka.

Pola itu tetap berlaku ketika hasilnya dibagi-bagi sesuai penyebab kematian. Seseorang yang banyak makan serat cenderung kecil kemungkinannya untuk meninggal karena penyakit jantung, penyakit menular, dan penyakit pernapasan yang meliputi pneumonia dan asma dibanding mereka yang mengonsumsi sedikit serat.

Khusus pria, makan banyak serat juga terkait dengan risiko lebih rendah meninggal akibat kanker. Secara keseluruhan, serat memiliki efek perlindungan lebih besar ketika itu berasal dari biji-bijian, seperti beras merah, gandum, buah-buahan, sayur-sayuran, atau kacang-kacangan.

Penyebabnya mungkin karena padipadian juga mengandung bahanbahan bermanfaat lain, misalnya vitamin dan mineral, yang telah terbukti untuk mencegah penyakit, ujar Hu.

Serat dapat membantu mencegah terhadap berbagai penyakit dalam beberapa cara.Dr Yunsheng Ma yang mengambil studi tentang diet dan penyakit jantung di University of Massachusetts Medical School di Worcester, Amerika Serikat dan tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan bahwa serat dapat membantu menjaga bakteri normal dalam usus.

Beberapa studi mengatakan bahwa jika Anda mengonsumsi makanan yang berbeda, hal itu bisa memengaruhi bakteri dalam usus dan tentunya akan berhubungan dengan penyakit yang berbeda, tandasnya.

Selain itu, kata Park, serat dapat menempel pada agen penyebab kanker yang potensial, untuk meningkatkan kemungkinan jikalau mereka dieliminasi dari tubuh.

Meskipun manfaat serat segunung, penelitian ini tidak membuktikan bahwa seratlah yang secara langsung mencegah kematian dini, walaupun peneliti memasukkan faktor lain dalam analisis mereka seperti olahraga dan berat badan.

Seseorang yang mengonsumsi serat makanan yang tinggi pada umumnya memang memiliki gaya hidup yang sehat, sebut Park.

Hal itu mungkin yang bertanggung jawab sebagai bagian yang menghubungkan konsumsi serat dengan kematian akibat berbagai penyakit.

Selain itu, para peneliti harus bergantung pada peserta studi untuk menggambarkan program diet mereka secara akurat, karena jawaban yang diisi dalam survei memberikan petunjuk bahan makanan apa yang mereka biasanya makan. Hasilnya, kata para peneliti dalam kesimpulannya, terutama terkait temuan mengenai penyakit menular dan pernapasan, masih perlu dikonfirmasi dalam penelitian lanjutan berikutnya.


Sumber: okezone.com

Konsumsi Serat Bikin Panjang Umur

Mengonsumsi makanan berserat sangat bagus untuk kesehatan. Selain mencegah berbagai penyakit berbahaya, penelitian terbaru menemukan bukti bahwa serat juga membuat seseorang panjang umur.

Anjuran untuk mengonsumsi banyak serat karena baik bagi kesehatan memang telah lama didengungkan. Hal itu karena manfaatnya yang tergolong banyak bagi tubuh. Tetapi apa sebenarnya serat itu?

Serat adalah salah satu jenis karbohidrat yang membentuk struktural dari daun, batang, dan akar tanaman. Namun, serat berbeda dengan gula dan pati karena gula dan pati tetap utuh hingga mendekati tahap akhir sistem pencernaan.

Hal inilah yang membuat serat lebih bermanfaat bagi tubuh. Sumber utama makanan yang mengandung serat adalah sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan, orang yang banyak mengonsumsi serat setiap hari akan lebih kecil kemungkinannya untuk meninggal muda akibat serangan berbagai penyakit, termasuk jantung, kanker, dan infeksi.


Manfaat serat dalam mengendalikan berat badan, menurunkan kolesterol, dan melindungi tubuh terhadap penyakit jantung telah dipaparkan dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Namun, menemukan bukti bahwa ternyata serat juga dapat mencegah hadirnya pembunuh utama lainnya bagi manusia adalah sesuatu yang baru dan menarik.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa serat memiliki manfaat kesehatan lebih luas daripada yang telah ditemukan sebelumnya, kata Dr Frank Hu yang mempelajari bidang nutrisi di Harvard School of Public Health di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Hu menulis artikel editorial yang menyertai studi ini dalam jurnal Archives of Internal Medicine.

Beberapa keunggulan serat yang diperlihatkan dalam penelitian ini masih perlu dikonfirmasi dengan studi lanjutan. Intinya adalah seharusnya serat yang menjadi bahan pokok dalam makanan kita. Dan kita harus berusaha untuk mengonsumsi serat sebanyak mungkin, ungkap Hu seperti dikutip laman Reuters.

Serat umumnya terdapat dalam biji-bijian, buah-buahan, sayur-sayuran, dan kacang-kacangan. Departemen Pertanian Amerika Serikat (The U.S. Department of Agriculture/ USDA) merekomendasikan untuk wanita dewasa harus makan sekitar 25 gram serat setiap harinya dan pria sebanyak 38 gram. Untuk mendapatkan gambaran mengenai berapa banyak takaran itu,perhatikan contoh berikut.

Menurut National Nutrition Database yang dikeluarkan USDA, setengah gelas kacang rebus mengandung sekitar 8 gram serat. Setengah gelas kacang almond mentah memiliki berat hampir 9 gram. Segelas oatmeal yang sudah dimasak memiliki 4 gram. Sementara itu, setengah gelas buah plum ditaksir mengandung sekitar 6 gram serat.

Dalam studi ini, Dr Yikyung Park dari National Cancer Institute di Bethesda, Maryland, Amerika Serikat dan rekan-rekannya mengamati sekitar 400.000 orang, semua tergabung dalam anggota American Association of Retired Persons (AARP).

Pada 1995 dan 1996 ketika mereka berusia antara 50 dan 71 tahun, setiap peserta mengisi survei tentang kebiasaan makan merek sehari-hari.

Para peneliti juga mengumpulkan informasi lain dari para partisipan, seperti tingkat aktivitas fisik yang dilakoninya, berat badan, dan apakah mereka seorang perokok atau bukan. Dari survei makanan, Park dan koleganya menghitung berapa banyak serat yang dikonsumsi setiap hari oleh masing-masing peserta studi.

Para peneliti juga menggunakan database nasional mengenai angka kematian dan penyebabnya. Mereka akhirnya mampu menentukan peserta studi mana yang akhirnya meninggal dan karena apa penyebabnya, pada tahun-tahun berikutnya. Rata-rata, catatan tersebut membentang selama sembilan tahun dari saat peserta pertama kali mengisi kuesioner penelitian.

Peneliti menemukan rentang yang luas dalam jumlah serat yang dikonsumsi seseorang. Seperlima dari peserta yang makan serat paling sedikit, yaitu untuk pria ratarata 13 gram per hari dan wanita 11 gram. Sementara seperlima lainnya dengan asupan serat tertinggi, pria mengonsumsi rata-rata 29 gram serat setiap hari dan wanita rata-rata 26 gram.

Dengan membandingkan kedua kelompok tersebut, para peneliti menemukan fakta bahwa seseorang yang makan serat paling banyak sekitar 22 persen lebih rendah kemungkinannya untuk meninggal cepat dari semua penyebab selama studi daripada seseorang yang konsumsinya sedikit. Itu jika memperhitungkan faktor usia serta kesehatan dan gaya hidup mereka.

Pola itu tetap berlaku ketika hasilnya dibagi-bagi sesuai penyebab kematian. Seseorang yang banyak makan serat cenderung kecil kemungkinannya untuk meninggal karena penyakit jantung, penyakit menular, dan penyakit pernapasan yang meliputi pneumonia dan asma dibanding mereka yang mengonsumsi sedikit serat.

Khusus pria, makan banyak serat juga terkait dengan risiko lebih rendah meninggal akibat kanker. Secara keseluruhan, serat memiliki efek perlindungan lebih besar ketika itu berasal dari biji-bijian, seperti beras merah, gandum, buah-buahan, sayur-sayuran, atau kacang-kacangan.

Penyebabnya mungkin karena padipadian juga mengandung bahanbahan bermanfaat lain, misalnya vitamin dan mineral, yang telah terbukti untuk mencegah penyakit, ujar Hu.

Serat dapat membantu mencegah terhadap berbagai penyakit dalam beberapa cara.Dr Yunsheng Ma yang mengambil studi tentang diet dan penyakit jantung di University of Massachusetts Medical School di Worcester, Amerika Serikat dan tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan bahwa serat dapat membantu menjaga bakteri normal dalam usus.

Beberapa studi mengatakan bahwa jika Anda mengonsumsi makanan yang berbeda, hal itu bisa memengaruhi bakteri dalam usus dan tentunya akan berhubungan dengan penyakit yang berbeda, tandasnya.

Selain itu, kata Park, serat dapat menempel pada agen penyebab kanker yang potensial, untuk meningkatkan kemungkinan jikalau mereka dieliminasi dari tubuh.

Meskipun manfaat serat segunung, penelitian ini tidak membuktikan bahwa seratlah yang secara langsung mencegah kematian dini, walaupun peneliti memasukkan faktor lain dalam analisis mereka seperti olahraga dan berat badan.

Seseorang yang mengonsumsi serat makanan yang tinggi pada umumnya memang memiliki gaya hidup yang sehat, sebut Park.

Hal itu mungkin yang bertanggung jawab sebagai bagian yang menghubungkan konsumsi serat dengan kematian akibat berbagai penyakit.

Selain itu, para peneliti harus bergantung pada peserta studi untuk menggambarkan program diet mereka secara akurat, karena jawaban yang diisi dalam survei memberikan petunjuk bahan makanan apa yang mereka biasanya makan. Hasilnya, kata para peneliti dalam kesimpulannya, terutama terkait temuan mengenai penyakit menular dan pernapasan, masih perlu dikonfirmasi dalam penelitian lanjutan berikutnya.


Sumber: okezone.com

Konsumsi Gorengan Awas, Bahaya Lemak Trans!

Umumnya, lidah orang Indonesia begitu dekat dengan berbagai camilan yang digoreng. Karenanya, makanan yang terlihat tak sedap dipandang, menjadi begitu menggiurkan ketika habis digoreng.

Tapi, tahukah Anda terhadap bahaya gemar menyantap goreng-gorengan? Dalam gorengan, terdapat kandungan lemak trans (trans fat) yang tinggi. Di mana lemak ini berasal dari minyak yang dikandung oleh makanan yang digoreng. Tanpa disadari, kadar kolesterol di dalam tubuh kita pun dapat terganggu. Kok bisa?

"Trans fat adalah bentuk lemak yang paling jahat. Pemasukan trans fat -dari gorengan- akan memengaruhi kadar kolesterol menjadi lebih jahat. Kolesterol ada yang jahat dan baik. Apa yang kita makan dari fatty acid (bagian dari lemak) seolah-olah akan memengaruhi kolesterol jahat yang ada di tubuh kita. Semakin banyak kadar trans fat, komposisi kolesterol jahat makin berbahaya," kata Dr Antono Sutandar SpJP FACC FSCAI FAMS FIHA dalam acara forum media yang diadakan Siloam Hospitals di Le Seminyak, Pacific Place, Jakarta, Kamis (24/6/2010).


Dr Antono turut mengungkapkan, bahwa lemak dibagi menjadi dua bagian, yaitu kolesterol dan fatty acid. Fatty acid sendiri ada beberapa kategori. Ada yang disebut trans fat, saturated fat, dan unsaturated fat.

"Trans fat dapat dikenali dengan nama hydrogenated vegetable oil. Bila nama ini ada dalam daftar kemasan, maka bahan-bahan makanan tersebut mengandung lemak trans," papar Dr Antono.

Lemak trans terdapat pada minyak goreng yang dihidrogenasi dan makanan yang digoreng oleh minyak yang sudah dipakai berulang. Minyak sehat ataupun jenis minyak goreng yang dipakai berulang bisa membuat pembuluh darah dan jantung kurang sehat. Risiko terjangkit penyakit jantung koroner pun meningkat pesat.

Dr Antono juga mengungkapkan, bahwa penyakit jantung koroner telah menjadi penyebab nomor 1 kematian di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah, gemar menyantap makan goreng-gorengan, dan fastfood. Apa pasal?

"Vegetable oil (minyak yang umum digunakan untuk menggoreng) kalau kena temperatur tinggi,semakin tinggi temperaturnnya, semakin dipakai ulang, yang terjadi vegetable oil itu berubah. Sehingga karakteristik dari lemak berubah. Kadar trans fat semakin tinggi jika digoreng," jelas Dr Antono.

Nah, jika tak ingin tubuh Anda dipenuhi lemak tak jenuh, sebaiknya segera menghindari goreng-gorengan.

"Hindari goreng-gorengan, apalagi pakai vegetable oil. Dan yang harus dihindari fast food. Karena temperatur tinggi -saat memasak- membuat presentase trans fat dalam minyak itu naik," tandas Dr Antono.


Sumber: okezone.com

Konsumsi Gorengan Awas, Bahaya Lemak Trans!

Umumnya, lidah orang Indonesia begitu dekat dengan berbagai camilan yang digoreng. Karenanya, makanan yang terlihat tak sedap dipandang, menjadi begitu menggiurkan ketika habis digoreng.

Tapi, tahukah Anda terhadap bahaya gemar menyantap goreng-gorengan? Dalam gorengan, terdapat kandungan lemak trans (trans fat) yang tinggi. Di mana lemak ini berasal dari minyak yang dikandung oleh makanan yang digoreng. Tanpa disadari, kadar kolesterol di dalam tubuh kita pun dapat terganggu. Kok bisa?

"Trans fat adalah bentuk lemak yang paling jahat. Pemasukan trans fat -dari gorengan- akan memengaruhi kadar kolesterol menjadi lebih jahat. Kolesterol ada yang jahat dan baik. Apa yang kita makan dari fatty acid (bagian dari lemak) seolah-olah akan memengaruhi kolesterol jahat yang ada di tubuh kita. Semakin banyak kadar trans fat, komposisi kolesterol jahat makin berbahaya," kata Dr Antono Sutandar SpJP FACC FSCAI FAMS FIHA dalam acara forum media yang diadakan Siloam Hospitals di Le Seminyak, Pacific Place, Jakarta, Kamis (24/6/2010).


Dr Antono turut mengungkapkan, bahwa lemak dibagi menjadi dua bagian, yaitu kolesterol dan fatty acid. Fatty acid sendiri ada beberapa kategori. Ada yang disebut trans fat, saturated fat, dan unsaturated fat.

"Trans fat dapat dikenali dengan nama hydrogenated vegetable oil. Bila nama ini ada dalam daftar kemasan, maka bahan-bahan makanan tersebut mengandung lemak trans," papar Dr Antono.

Lemak trans terdapat pada minyak goreng yang dihidrogenasi dan makanan yang digoreng oleh minyak yang sudah dipakai berulang. Minyak sehat ataupun jenis minyak goreng yang dipakai berulang bisa membuat pembuluh darah dan jantung kurang sehat. Risiko terjangkit penyakit jantung koroner pun meningkat pesat.

Dr Antono juga mengungkapkan, bahwa penyakit jantung koroner telah menjadi penyebab nomor 1 kematian di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah, gemar menyantap makan goreng-gorengan, dan fastfood. Apa pasal?

"Vegetable oil (minyak yang umum digunakan untuk menggoreng) kalau kena temperatur tinggi,semakin tinggi temperaturnnya, semakin dipakai ulang, yang terjadi vegetable oil itu berubah. Sehingga karakteristik dari lemak berubah. Kadar trans fat semakin tinggi jika digoreng," jelas Dr Antono.

Nah, jika tak ingin tubuh Anda dipenuhi lemak tak jenuh, sebaiknya segera menghindari goreng-gorengan.

"Hindari goreng-gorengan, apalagi pakai vegetable oil. Dan yang harus dihindari fast food. Karena temperatur tinggi -saat memasak- membuat presentase trans fat dalam minyak itu naik," tandas Dr Antono.


Sumber: okezone.com

Konsumsi Coklat Mampu Kurangi Kolesterol

Coklat dianggap mampu untuk menurunkan tingkat kolesterol. Tapi, hal tersebut masih perlu dibuktikan lebih lanjut karena  itu hanya berlaku pada  sebagian orang.

Menurut Dr Rutai Hui dari Chinese Academy of Medical Sciences, Beijing, China, kesimpulan tersebut didapat dari hasil analisis atas delapan studi. Hasil penelitian menunjukkan coklat hanya membantu orang yang memiliki faktor resiko bagi sakit jantung dan hanya ketika dikonsumsi dalam jumlah yang tak berlebihan.

"Mengonsumsi coklat dalam jumlah cukup akan menjadi pendekatan pola makan baru yang bermanfaat dalam pencegahan kolesterol tinggi," ujar Hui seperti dilansir Reuters, Rabu (3/6/2010).

Rui mengungkapkan sebuah studi pada Maret 2010 mengungkapkan bahwa sekira 19.300 orang yang mengonsumsi coklat memiliki tekanan darah yang lebih rendah dan kecil untuk berisiko menderita stroke atau serangan jantung selama 10 tahun ke depan.

Hui dan rekannya kemudian menganalisa catatan medis untuk menemukan studi yang mengkaji bagaimana coklat mempengaruhi lemak darah (lipid) secara lebih lengkap, dan kembali melakukan  delapan percobaan yang melibatkan 215 orang. Para peneliti tersebut menemukan bahwa makan coklat dapat mengurangi tingkat LDL sampai lima miligram/dL dan mengurangi total kolesterol dalam jumlah yang sama.


Sumber: okezone.com
 

Sample text

Sample Text

Sample Text