Social Icons

Pages

Rabu, 08 Februari 2012

Karakteristik Aedes Aegyti


Demam Derdarah dan Aedes Aegypti, Siklus Hidup dan Karakteristik

Masalah yang selalu menghantui kita setiap tahun, khususnya jajaran Kesehatan dan publik health community, adalah penyakit demam berdarah. Penyakit yang pertama kali ditemukan 1968 di Surabaya dan Jakarta ini, hampir setiap tahun menjadi primadonoa Kejadian Luar Biasa (KLB DBD), walupun tahun 2011 ini terjadi penurunan signifikan dibandingkan tahun 2010. Kita sebetulnya kita belum tahu persis penyebab penurunan itu, karena global warming sepertinya telah mengacaukan signal kelaziman epidemiologis konvensional. Namun kita tetap harus selalui waspada terhadap siklus lima tahunan DBD (epidemiologi lama ?).  Kejadian Luar Biasa (KLB) atau epidemi hampir terjadi setiap tahun di daerah yang berbeda tetapi seringkali berulang di wilayah yang sama dan secara nasional berulang setiap lima tahun (Suroso, 2004).

Berikut beberapa hal yang perlu kita refresh kembali, terkait demam berdarah ini. Penyakit demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Ae.aegypti, yang ditandai dengan: (1) demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama 2 - 7 hari disertai perdarahan; (2) Manifestasi perdarahan termasuk uji Torniquet positif; (3) Jumlah trombosit = 100.000/l); (4) peningkatan hematokrit = 20%; dan (5) Disertai dengan atau tanpa pembesaran hati (hepatomegali).

Penyebab DBD adalah virus dengue yang sampai sekarang dikenal empat serotipe (dengue-1, dengue-2, dengue-3 dan dengue-4), termasuk dalam group B Artropod Borne Virus (Arbovirus). Keempat serotipe ini telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa dengue-3 sangat berkaitan dengan kasus DBD berat dan merupakan serotipe yang paling luas distribusinya disusul oleh dengue-2, dengue-1 dan dengue-4 (Depkes, 2005).

Tiga faktor yang memegang peranan penting pada penularan virus dengue ini adalah manusia, virus dan nyamuk vektor. Nyamuk Ae. aegypti L. dapat mengandung virus pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia. Virus kemudian berada di kelenjar ludah nyamuk dan berkembang dalam waktu 8 10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan lagi pada manusia melalui gigitan berikutnya.

Tiga faktor yang berperan penting pada penularan infeksi virus dengue adalah manusia, virus dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Ae. aegypti. Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, kemudian virus yang ada di kelenjar liur nyamuk berkembangbiak dalam waktu 8-10 hari sebelum dapat ditularkan kembali pada manusia pada saat gigitan berikutnya (Depkes, 2005).

Karakteristik Nyamuk Ae. aegypti
Nyamuk adalah serangga kecil berkaki panjang, bersayap dua, mempunyai antena yang panjang, beruas-ruas, sayapnya mempunyai noda-noda dan mempunyai vena dan jumbai, termasuk dalam Phylum Arthropoda, Kelas Insekta, Sub kelas Pterygota, Ordo  Diptera, Sub Ordo Nematocera, Famili Culicidae, Sub Famili Culicinae, Genus  Aedes, Species  Aedes aegypti L. (Borror & Delong, 1990). Nyamuk Ae. aegypti merupakan vektor utama yang menularkan virus dengue penyebab DBD. Nyamuk Ae. aegypti lebih menyukai darah manusia daripada binatang (antropofilik) dan bersifat menggigit pada beberapa orang sebelum merasa kenyang. Nyamuk Ae.aegypti L. ini hidup dan berkembang dengan baik di daerah tropis yaitu pada garis isotermis 200 yang terletak diantara 450 LU dan 350LS dengan ketinggian kurang dari 1000 meter di atas permukaan laut (Sugito, 1989).

Morfologi nyamuk Ae. aegypti terdiri dari telur, larva, kepompong, serta nyamuk dewasa, selengkapnya sebagai berikut :

Aedes Aegypti
Telur : Telur berwarna hitam berukuran 0,80 1 mm. Nyamuk Ae. aegypti L. bertelur pada air bersih di tempat penampungan air yang tidak kontak langsung dengan tanah seperti ember, vas bunga, kaleng bekas yang dapat menampungan air bersih dan juga pelepah daun yang dapat menampung air (Rozendall, 1997). Telur nyamuk Ae. aegypti L.berwarna hitam, mempunyai dinding bergaris garis dan membentuk seperti kasa. Telur akan diletakkan satu per satu pada dinding bejana berisi air tempatnya bertelur. Telur ini tidak berpelampung, panjang telur kira kira 1 mm dan berbentuk oval. Sekali bertelur nyamuk Ae. aegypti L. betina dapat 150 butir. Telur kering dapat bertahan sampai 6 bulan. Setelah kira kira 2 hari jika telur ini kontak dengan air maka akan menetas menjadi jentik ( Adam, 2005).

Jentik (larva): Menurut Adam (2005), telur akan menetas menjadi jentik atau yang sering disebut sebagai jentik. Jentik ini adalah stadium yang membutuhkan banyak makan dan akan mengalami pergantian kulit atau molting sebanyak empat kali. Setiap masa pergantian kulit tersebut disebut dengan instar. Instar 1, 2, 3 dan 4 akan memiliki perbedaan dalam hal ukuran tubuhnya, jumlah bulu bulunya dan pada stadium ini belum bisa dibedakan antara jantan dan betina.

Larva Ae. aegypti terdiri dari kepala, toraks dan abdomen serta terdapat segmen anal dan sifon dengan satu kumpulan rambut. Ada empat tingkat (instar) jentik sesuai dengan pertumbuhan larva tersebut, yaitu instar I berukuran paling kecil yaitu 1-2 mm, instar II 2,5-3,8 mm, instar III lebih besar sedikit dari instar II dan instar IV berukuran paling besar 5 mm. Larva instar IV mempunyai tanda khas yaitu pelana yang terbuka pada segmen anal, sepasang bulu sifon dan gigi sisir yang berduri lateral pada segmen abdomen (Hamzah, 2004).

Pada stadium larva ada perbedaan mendasar antara Ae. aegypti dan Ae.albopictus. Larva Ae. aegypti, prosesus torakalis jelas, tunggal dan tidak bergerigi. Abdomen berciri sifon pendek, bulu satu pasang, warna lebih gelap daripada abdomen, segmen anal dengan pelana tidak menutup segmen. Gigi sisir pada sifon dan segmen VII dengan duri samping. Larva Ae. albopictus mempunyai prosesus torakalis tidak jelas dan bergerigi. Abdomen berciri sifon pendek, bulu sifon satu berkas, warna lebih gelap daripada abdomen, segmen anal dengan pelana tidak menutup segmen, gigi sisir pada sifon dan segmen abdomen VII tanpa duri samping (Juwono, 1999).

Jentik akan beristirahat dengan posisi tegak lurus terhadap permukaan air dan jika disentuh atau terdapat getaran maka jentik akan aktif berenang menuju ke dasar. Jentik ini jika bernafas akan menuju ke permukaan air dengan posisi siphon berada di atas permukaan air untuk mengambil udara (Sugito, 1989). Keberlangsungan hidup jentik ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti suhu air, kepadatan populasi jentik, jumlah makanan yang tersedia serta keberadaan predator di alam (WHO, 1997)

Kepompong : Bentuk pupa seperti terompet melengkung, kepala lebih besar ukurannya dibandingkan dengan tubuhnya. Mempunyai terompet yang berbentuk segitiga yang digunakan untuk bernapas. Pada bagian distal dari abdomen terdapat sepasang kaki pengayuh atau paddle yang berbentuk lurus dan runcing. Stadium pupa tidak memerlukan makan (Gandahusada dkk., 1988). Menurut Depkes (1997), pupa akan bertahan selama 1 5 hari sampai menjadi nyamuk dewasa tergantung dari suhu air habitatnya. Pada suhu 27 320 C pupa jantan memerlukan waktu 1 2 hari untuk tumbuh dan berkembang menjadi nyamuk dewasa. Pupa betina memerlukan waktu kurang lebih 2,5 hari untuk dapat berkembang menjadi nyamuk betina dewasa.

Pupa Ae. aegypti terdiri dari sefalotoraks, abdomen dan kaki pengayuh. Sefalotoraks mempunyai sepasang corong pernapasan yang berbentuk segitiga. Pada bagian distal abdomen ditemukan sepasang kaki pengayuh yang lurus dan runcing. Jika terganggu, pupa akan bergerak cepat untuk menyelam beberapa detik kemudian muncul kembali ke permukaan air (Hamzah, 2004).

Kepompong (pupa) berbentuk seperti koma, bentuknya lebih besar tetapi lebih ramping dibandingkan dengan larva (jentiknya). Pupa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata pupa nyamuk lain (Depkes, 2005).

Nyamuk dewasa : Nyamuk dewasa mempunyai panjang kurang lebih 3 4 mm.Bagian tubuhnya terdiri dari kepala, dada (toraks) dan perut (abdomen) Memiliki warna dasar hitam dengan bintik bintik putih terdapat di seluruh tubuhnya dan di kaki akan berbentuk cincin. Memiliki gambaran atau venasi yang jelas pada sayapnya yang membedakan dengan spesies yang lainnya. Lyre berupa sepasang garis putih lurus di bagian tengah dan di bagian tepi tepinya berupa garis lengkung berwarna putih (Gandahusada dkk,. 1988).

Menurut Hamzah (2004), nyamuk Ae. aegypti dewasa tubuhnya terdiri dari kepala, toraks dan abdomen. Ae. aegypti dewasa mempunyai ciri-ciri morfologi yang khas, yaitu :
  1. Mempunyai warna dasar yang hitam dengan belang-belang putih yang terdapat pada bagian badannya, terutama tampak jelas pada kaki pada bagian basal.
  2. Pada bagian dorsal toraks tumbuh bulu-bulu halus yang membentuk gambaran lyra, yaitu sepasang garis putih sejajar di tengah dan garis lengkung putih yang tebal pada tiap sisinya.
Nyamuk dewasa Ae. aegypti berukuran panjang 3-4 mm, pada stadium dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lain dan mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian badan dan kaki. NyamukAe. aegypti dewasa memiliki probosis berwarna hitam, skutelum bersisik lebar berwarna putih dan abdomen berpita putih pada bagian basal. Ruas tarsus kaki belakang berpita (Sungkar, 2005).

Sedangkan menurut Pratomo dan Rusdyanto (2003), nyamukAe. albopictus  mempunyai ciri-ciri morfologi sebagai berikut:
  • Nyamuk berukuran lebih kecil, berwarna gelap tidak tampak kasar.
  • Tibia kaki belakang tanpa gelang putih.
  • Mesotonum dengan garis memanjang atau kumpulan sisik berwarna putih mirip tanda seru.
  • Sisik-sisik putih pada paha atau femur dalam bentuk bercak-bercak putih tidak teratur. 
  • Ada kumpulan sisik-sisik putih yang lebar di atas akar sayap di antara bulubulu supra alar

Selasa, 07 Februari 2012

Sanitasi Lingkungan dan DBD


Aspek Sanitasi Lingkungan yang Berhubungan dengan DBD

Menurut Soemirat (2000), lingkungan adalah segala sesuatu baik berupa benda mati atau benda hidup, nyata atau abstrak seperti suasana yang terbentuk akibat interaksi semua elemen yang ada di alam. Lingkungan sangat erat hubungannya dengan Kesehatan, karena lingkungan yang menyediakan fasilitas untuk keberadaan suatu makhluk hidup.   

Pengertian sanitasi menurut Ehler dan Steel (1958) adalah sebagai usaha untuk mencegah penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai penularan penyakit tersebut. Sementara menurut Riyadi (1984), sanitasi lingkungan adalah prinsip-prinsip untuk meniadakan atau setidak-tidaknya menguasai faktor-faktor lingkungan yang dapat menimbulkan penyakit.

World Health Organization (WHO) memberikan batasan kajian sanitasi pada usaha pengawasan penyediaan air minum bagi masyarakat, pengelolaan pembuangan tinja dan air limbah, pengelolaan sampah, vektor penyakit, kondisi perumahan, penyediaan dan penanganan makanan, kondisi atmosfer dan Kesehatan kerja.

Sedangkan ruang lingkup kegiatan sanitasi lingkungan menurut Riyadi (1984) antara lain mencakup sanitasi perumahan, sanitasi makanan, penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, pembuangan air limbah dan kotoran manusia serta pemberantasan vektor.

Terkait dengan usaha pemberantasan dan pengendalian vektor diatas, menurut Depkes RI (1985), usaha perbaikan sanitasi lingkungan merupakan salah satu cara untuk menjaga populasi vektor dan binatang pengganggu tetap pada suatu tingkatan tertentu yang tidak menimbulkan masalah Kesehatan.Sedangkan WHO (2001) menyatakan bahwa aspek penyediaan air bersih, pengelolaan sampah dan perbaikan disain rumah sangat penting kaitannya dengan upaya pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue (DBD). Maka dapat kita kembalikan pada prinsip penting pengendalian vektor ini, bahwa pada dasarnya usaha sanitasi bertujuan untuk menghilangkan food preferences, breeding place) dan resting place vektor dan binatang pengganggu.

Aspek sanitasi lingkungan yang berhubungan dengan pengendalian vektor, khususnya aedes aegypti meliputi penyediaan air bersih dan pengelolaan sampah. Sistem penyediaan air pada tingkat rumah tangga, berpengaruh langsung pada kepadatan vektor ini. Jika sistem itu telah meminimalisasi tempat penampungan air, misalnya karena sudah menggunakan jaringan perpipaan, maka sangat dimungkinkan kepadatan vektor (baca jentik) juga akan menurun. Sebagaimana kita ketahui, tempat-tempat penampungan air (kontainer) pada tingkat rumah tangga yang menjadi tempat kehidupan telur, larva, pupa Aedes.  

Kebiasaan penyimpanan air untuk keperluan rumah tangga yang mencakup gentong, baik yang terbuat dari tanah liat, semen maupun keramik serta drum penampungan air. Wadah atau tempat penyimpanan air harus ditutup rapat-rapat setelah diisi penuh dengan air. Jika habitat jentik juga mencakup tangki di atas atau bangunan pelindung jaringan pipa air, bangunan atau benda tersebut harus dibuat rapat. Bangunan pelindung pintu air dan meteran air harus dilengkapi dengan perembesan sebagai bagian dari tindakan pencegahan. Tumpah bocornya dalam bangunan pelindung, dari pipa distribusi, katup air, meteran air dan sebagainya, menyebabkan air tergenang dan dapat menjadi habitat yang penting untuk Ae. aegypti (WHO, 2001).

Jumat, 03 Februari 2012

<a href="http://toko-alkes.com">Kesehatan</a> Lingkungan Sekolah


Status Kesehatan Lingkungan Sekolah


Pengertian umum lingkungan sekolah adalah salah satu kesatuan lingkungan fisik, mental dan sosial dari sekolah yang memenuhi syarat-syarat Kesehatan sehingga dapat mendukung proses belajar mengajar dengan baik dan menunjang proses pertumbuhan dan perkembangan murid secara optimal.

Faktor lingkungan sekolah dapat mempengaruhi proses belajar mengajar, juga Kesehatan warga sekolah. Kondisi dari komponen lingkungan sekolah tertentu dapat menyebabkan timbulnya masalah Kesehatan. Faktor resiko lingkungan sekolah tersebut antara lain kondisi atap, dinding, lantai, dan aspek lainnya sebagai berikut :

1.   Kondisi atap dan talang : Atap dan talang yang tidak memenuhi syarat Kesehatan dapat menjadi tempat perindukan nyamuk dan tikus. Kondisi ini mendukung terjadinya penyebaran dan penularan penyakit demam berdarah dan leptospirosis.

2.   Kondisi dinding : Dinding yang tidak bersih dan berdebu selain mengurangi estetika juga berpotensi merangsang timbulnya gangguan pernafasan seperti asthma atau penyakit saluran pernafasan.

3.   Kondisi lantai : Dinding yang tidak rata, licin dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan, sedangkan lantai yang kotor dapat mengurangi kenyamanan dan estetika. Lantai yang tidak kedap air dapat menyebabkan kelembaban. Kondisi ini mengakibatkan dapat berkembang biaknya bakteri dan jamur yang dapat meningkatkan resiko penularan penyakit seperti TBC, ISPA dan lainnya.

4.   Kondisi tangga :Tangga yang tidak memenuhi syarat Kesehatan seperti kemiringan, lebar anak tangga, pegangan tangga berpotensi menimbulkan kecelakaan bagi peserta didik. Tangga yang memenuhi syarat adalah lebar injakan > 30 cm, tinggi anak tangga maksimal 20 cm, lebar tangga > 150 cm serta mempunyai pegangan tangan.

5.   Pencahayaan :Pencahayaan alami di ruangan yang tidak memenuhi syarat Kesehatan mendukung berkembang biaknya organisme seperti bakteri dan jamur. Kondisi ini berpotensi menimbulkan gangguan terhadap Kesehatan. Selain itu pencahayaan yang kurang menyebabkan ruang menjadi gelap sehingga disenangi oleh nyamuk untuk beristirahat (rasting habit).

6.   Ventilasi : Ventilasi di ruangan yang tidak memenuhi persyaratan Kesehatan menyebabkan proses pertukaran udara tidak lancar, sehingga menjadi pengap dan lembab, Kondisi ini mengakibatkan berkembang biaknya bakteri, virus dan jamur yang berpotensi menimbulkan gangguan penyakit seperti TBC, ISPA, cacar dan lainnya.

7.   Kepadatan Kelas :Perbandingan jumlah peserta didik dengan luas ruang kelas yang tidak memenuhi syarat Kesehatan menyebabkan menurunnya prosentase ketersediaan oksigen yang dibutuhkan oleh peserta didik. Hal ini akan menimbulkan rasa kantuk, menurunkan konsentrasi belajar dan resiko penularan penyakit. Perbandingan ideal adalah 1 orang menempati luas ruangan 1,75 M2.

8.   Jarak Papan tulis : Jarak papan tulis dengan murid terdepan < 2,5 meter akan mengakibatkan debu kapur atau spidol beterbangan dan terhirup ketika menghapus papan tulis, sehingga untuk jangka waktu lama akan berpengaruh terhadap fungsi paru-paru. Bila jarak papan tulis dengan murid paling belakang > 9 meter akan menyebabkan gangguan konsentrasi belajar.

9.   Ketersediaan tempat cuci tangan : Tangan yang kotor berpotensi menularkan penyakit. Kebiasaan cuci tangan dengan sabun mampu menurunkan kejadian penyakit diare 30%. Tersedianya tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun bertujuan untuk menjaga diri dan melatih kebiasaan cuci tangan dengan sabun sebelum makan atau sesudah buang air besar merupakan salah satu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Berdasarkan ketentuan Departemen Kesehatan maka setiap 2 (dua) ruang kelas harus terdapat satu wastafel yang terletak di luar ruangan.

10.   Kebisingan : Kebisingan adalah suara yang tidak disukai, bisa berasal dari luar sekolah maupun dari dalam lingkungan sekolah itu sendiri, suara bising dapat menimbulkan gangguan komunikasi sehingga mengurangi konsentrasi belajar dan dapat menimbulkan stress.

11. Air bersih : Ketersediaan air bersih baik secara kualitas maupun kuantitas muklak diperlukan untuk menjaga hygiene dan sanitasi perorangan maupun lingkungan. Beberapa penyakit yang dapat ditularkan melalui air antara lain diare, kholera, hepatitis, penyakit kulit, mata dan lainnya. Idealnya ketersediaan air adalah 15 liter/orang/hari.

Kesehatan Lingkungan Sekolah
12. Toilet (kamar mandi, WC dan urinoir). Kamar mandi : Bak penampungan air dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, demikian juga kamar mandi yang pencahayaannya kurang memenuhi syarat Kesehatan akan menjadi tempat bersarang dan beristirahatnya nyamuk. WC dan urinoir : Tinja dan urine merupakan sumber penularan penyakit perut (diare, cacingan, hepatitis ). Penyakit ini ditularkan melalui air, tangan, makanan dan lalat. Untuk perlu diperhatikan ketersediaan WC dalam hal jumlahnya. Perbandingannya adalah : 1 WC untuk 25 siswi dan 1 WC untuk 40 siswa.

13. Pengelolaan sampah : Penanganan sampah yang tidak memenuhi syarat Kesehatan dapat menjadi tempat berkembang biaknya vektor penyakit seperti lalat, tikus, kecoak. Selain itu dapat juga menyebabkan pencemaran tanah dan menimbulkan gangguan kenyamanan dan estetika. Untuk itu disetiap ruang kelas harus terdapat 1 buah tempat sampah dan di sekolah tersebut harus tersedia tempat pembuangan sampah sementara (TPS).

14. Sarana pembuangan air limbah : Sarana pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat Kesehatan ataupun tidak dipelihara akan menimbulkan bau, mengganggu estetika dan menjadi tempat perindukan dan bersarangnya tikus. Kondisi ini berpotensi menyebabkan dan menularkan penyakit seperti leptospirosis dan filariasis (kaki gajah).

15. Pengendalian vector : Termasuk dalam pengertian vektor ini, terutama adalah tikus dan nyamuk : Tikus :Tikus merupakan vektor penyakit pes, leptospirosis, selain sebagai vektor penyakit, tikus juga dapat merusak bangunan dan instalasi listrik. Hal ini meningkatkan resiko penularan penyakit dan juga menimbulkan terjadinya arus pendek pada aliran listrik. Nyamuk : Nyamuk merupakan vektor penyakit, jenis nyamuk tertentu menularkan jenis penyakit yang berbeda. Nyamuk Aedes Aegypti dapat menyebabkan demam berdarah. Anak-anak usia sekolah merupakan kelompok resiko tinggi terjangkit penyakit demam berdarah. Nyamuk demam berdarah senang berkembang biak pada tempat-tempat penampungan air maupun non penampungan air. Beberapa tempat perindukan yang harus diwaspadai antara lain bak air, saluran air, talang, barang-barang bekas dan lainnya.

16. Kantin/warung sekolah  : Kantin/warung sekolah sangat dibutuhkan oleh peserta didik untuk tempat memenuhi kebutuhan makanan jajanan pada saat istirahat. Makanan jajanan yang disajikan tersebut harus memenuhi syarat Kesehatan, karena pengelolaan makanan jajanan yang tidak memenuhi syarat akan menimbulkan penyakit bawaan makanan dan berpengaruh terhadap Kesehatan sehingga akan mempengaruhi proses belajar mengajar.

17. Kondisi halaman sekolah : Halaman sekolah pada musim kemarau akan berdebu, sehingga menyebabkan penyakit ISPA dan pada musim hujan akan menimbulkan becek sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan. Halaman sekolah yang kotor dapat mengganggu estetika dan menjadi tempat berkembang biaknya bibit penyakit.

18. Perilaku
Kebiasaan yang dilakukan sehari hari dapat mempengaruhi terjadinya penularan dan penyebaran penyakit. Sekolah merupakan tempat pembelajaran bagi peserta didik untuk membiasakan diri berperilaku hidup bersih dan sehat, untuk menurunkan resiko terkena penyakit tertentu. Beberapa perilaku hidup bersih dan sehat itu antara lain : tidak merokok, buang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan diri, cuci tangan pakai sabun, menjaga kebersihan lingkungan dan lainnya.

Kamis, 02 Februari 2012

Nutritional Status Measure by Anthropometry

Menentukan Status Gizi dengan Metode Antropometri

Sebagaimana rekan-rekan public health community kenal, terdapat berbagai macam metode penentuan status gizi, salah satu diantaranya dengan metode antropometri. Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros, dengan anthropos berarti tubuh dan metros artinya ukuran. Jadi  antropometri adalah ukuran dari tubuh. Pengertian dari sudut pandang gizi sebagaimana diungkapkan Jellife dapat disimpulkan bahwa antropomerti gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.

Jika dibandingkan dengan metode lain, antropometri mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya prosedur sederhana dan aman, sehingga relatif tidak membutuhkan tingkat keahlian yang tinggi, dapat dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih (dalam waktu singkat). Juga peralatan yang dibutuhkan murah, mudah dibawa, tahan lama, serta alat dapat dibuat sesuai lokasi setempat. Namun yang perlu diperhatikan, harus dilakukan validasi pada peralatan yang digunakan.

Metode antropometri selain tergolong akurat, juga dapat dibakukan. Juga dapat menggambarkan riwayat gizi masa lalu. Metode ini secara umum dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang, serta gizi buruk. Metode antropometri dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu dan juga dapat digunakan untuk screening pada kelompok yang rawan masalah gizi.

Kelemahan metode antropometri ada pada sensitivitasnya yang kurang, terutama karena faktor di luar gizi dapat menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran. Kesalahan yang terjadi saat pengukuran dapat memengaruhi presisi, akurasi, validitas pengukuran antropometri (Supariasa, 2001).

Pada metode antopometri kita kenal dengan Indeks Antropometri. Indeks antropometri adalah kombinasi antara beberapa parameter, yang merupakan dasar dari penilaian status gizi. Beberapa indeks telah diperkenalkan seperti berat badan dibagi tinggi badan (BB)/(TB), tinggi badan dibagi umur  (TB)/(U), tinggi badan dibagi berat badan (TB)/(BB). Kelebihan indeks TB/BB antara lain sensitivitas dan spesivisitasnya termasuk tinggi untuk menilai status gizi masa lampau. Tetapi juga ada kelemahannya antara  lain:  tinggi badan tidak cepat naik, bahkan tidak mungkin turun. Pengukuran relatif sulit dilakukan karena anak harus berdiri tegak, sehingga perlu dua orang untuk melakukannya. Ketepatan umur sulit didapat (Supariasa, 2001).

Indikator antropometri merupakan kombinasi dari beberapa parameter untuk menentukan    status gizi seseorang. Misalnya kombinasi antara berat badan (BB) dan umur (U) membentuk indikator BB menurut U yang disimbolkan dengan BB/U, kombinasi antara tinggi badan (TB) dan U membentuk indikator TB menurut U yang disimbolkan dengan TB/U dan kombinasi antara BB dan TB membentuk   indikator  BB menurut TB yang disimbolkan dengan BB/TB. Untuk menyatakan bahwa indikator tersebut normal,lebih rendah atau lebih  tinggi dapat dibandingkan dengan baku rujukan misalnya baku rujukan WHONCHS (World Health   OrganizationNational Center for Health Statistics). Apabila hasil perbandingannya normal, maka digolongkan pada status gizi baik. Apabila kurang berarti berstatus gizi kurang dan apabila tinggi berarti tergolong status gizi lebih (Soekirman, 1999).

Untuk membandingkan indikator tersebut dengan baku rujukan WHO NCHS dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1.    Dengan Persen Median yaitu membandingkan antara antara hasil pengukuran dengan    median baku dikalikan 100%. Hasil perbandingan tersebut lalu disesuaikan dengan cut off points yang meliputi :
  1. TB/U  : <   90%  dari median baku digolongkan sebagai stunted/ pendek.
  2. BB/TB : <   80%  dari median baku digolongkan sebagai wasted/ kurus.
  3. BB/U  : <   80%  dari  median baku digolongkan sebagai underweight.
2.    Dengan menghitung nilai skor simpang baku (standart deviation score = ZScore) yaitu membandingkan dengan rata rata atau median dan standar deviasi  dari suatu angka baku rujukan WHO NCHS. Dikatakan status gizi  normal apabila angka atau nilainya terletak antara -2SD sampai +2SD dari median baku. Status gizi dikatakan kurang apabila nilainya   di bawah  -2SD, dan menjadi buruk apabila berada di bawah -3SD. Sebaliknya apabila nilai Z-Score berada  diatas +2SD disebut gizi lebih (gemuk) dan di atas  +3SD gemuk sekali (Gibson, 1990 )

 

Sample text

Sample Text

Sample Text